Muncul Lagi Kasus 'Emon', Komnas PA: Sukabumi Darurat Kejahatan Seksual

Syahdan Alamsyah - detikNews
Jumat, 03 Jul 2020 20:34 WIB
Ketua Komnas PA Arist Merdeka Sirait
Foto: Ketua Komnas PA Arist Merdeka Sirait (Matius Alfons/detikcom)
Sukabumi -

Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) menyoroti aksi bejat FCR (23) guru les musik yang mengaku menyodomi puluhan anak-anak di Kalapanunggal, Sukabumi.

Melalui rilis yang diterima detikcom, Arist Merdeka Sirait Ketua Umum Komnas PA menilai kasus kekerasan seksual itu mengulang sejarah gelap Emon yang terjadi beberapa tahun silam yang juga terjadi di Kota Sukabumi.

"Belum lupa dari ingatan masyarakat Sukabumi, bahwa lima tahun yang lalu peristiwa yang sama dan menyita perhatian masyarakat nasional juga pernah terjadi. Emon menelan korban kurang lebih 112 orang, sementara FCR warga Kalapanunggal menelan korban lebih dari 30 orang," kata Arist, Jumat (3/7/2020).

Secara tegas Arist juga mengatakan Sukabumi pantas mendapat predikat darurat kekerasan seksual. Hal itu menurutnya berdasar pada beberapa kasus kekerasan seksual terhadap anak yang terjadi di Sukabumi.

"Meningkatnya kasus incest yakni persetubuan sedarah juga banyak dijumpai di Sukabumi juga kasus-kasus kekerasan bentuk lain. Oleh karenanya tidaklah berlebihan jika Sukabumi pantas mendapat predikat Sukabumi Darurat Kekerasan Seksual," ungkapnya.


Informasi dari kepolisian yang diterima Komnas PA, FCR diketahui melakukan kejahatan seksual sodomi sudah berlangsung sejak tahun 2019 dan untuk sementara terdata 39 anak laki-laki yang menjadi korban pencabulan dalam bentuk sodomi.

"Saat ini pelaku sudah diamankan pihak kepolisian. Adapun modus yang dilakukan pelaku yaitu berpura-pura mengajar ilmu kanuragan kepada korbannya. Saya menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya dan terima kasih kepada jajaran Polsek Kalapanunggal dan Kapolres Sukabumi atas kepedulian dan kerja kerasnya kurang lebih dari 24 jam telah berhasil mengungkap tabir kejahatan seksual yang dilakukan FCR," ungkap Arist.

Desak Hukuman Berat

Arist menilai aksi kejahatan yang dilakukan FCR disebut Aris metupakan kejahatan luar biasa. Ia mendesak hukuman berat dijatuhkan kepada pelaku diantaranya dengan pasal 82 ayat (4) undang-undang Nomor 17 tahun 2016 tentang penerapan Perpu No. 01 Tahun 2016 tentang perubahan kedua atas UU RI No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak junto UU RI No. 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak.

"Ancaman minimal 10 tahun maksimal 20 tahun pidana penjara ditambah sepertiga karena korban lebih dari satu orang. Kami juga segera memberikan pendampingan dan terapi psikososial terhadap puluhan korban, Komnas PA Jabar Tim Psiko Sosial Terpadu dengan melibatkan psikolog, aktivis pegiat perlindungan Anak di Sukabumi dan Garut, P2TP2A Sukabumi dan pihak Kepolisian," pungkasnya.


Di akhir rilis, Arist juga mengatakan pihaknya bersama LPA Garut dan Perwakilan Komnas Anak Jawa Barat akan diawali dengan kegiatan "need assesement" yakni pemetaan dan inventarisasi masalah pada Senin (7/7) mendatang dan bertemu dengan Korban, pelaku dan Polres Sukabumi.

(sya/ern)