Waspada! Stunting Balita di Kota Bandung Capai 8 Ribu Kasus

Siti Fatimah - detikNews
Kamis, 02 Jul 2020 19:34 WIB
Back of a baby with a teddy bear
Ilustrasi balita (Foto: iStock)
Bandung -

Stunting pada anak patut diwaspadai selama masa pandemi COVID-19. Apalagi dengan ditutupnya beberapa puskesmas dan posyandu, baik orang tua dan tenaga kesehatan perlu menjalin kerja sama yang erat agar gizi bayi di bawah lima tahun (balita) tetap terpenuhi.

Dari informasi yang dihimpun, rentang usia stunting di Kota Bandung pada balita dimulai dari nol sampai 59 bulan mencapai 8.121 balita (bayi lima tahun) sedangkan usia nol sampai 23 bulan 2.711 baduta (bayi dua tahun).

"Se-Kota Bandung ada 8.121. Ada 15 lokus stunting Kota Bandung, dibedakan karena jumlah stuntingnya lebih banyak dari kelurahan lain," kata Kadinkes Kota Bandung Rita Verita melalui pesan singkatnya, Kamis (2/7/2020).

Ke 15 kelurahan prioritas lokus stunting tersebut yaitu Cirangrang, Margasuka, Cikawao, Sukawarna, Jamika, Karasak, Kebon Gedang, Palasari, Cipadung, Babakan Penghulu, Pasirjati, Cipadung Wetan, Babakan Asih, Cipadung Kidul, Burangrang.

Dalam hal ini, Rita mengatakan, pihaknya sudah melakukan pemberian makanan tambahan pada balita kurus dan Bumil Kekurangan Energi Kronik, pemberian tambahan darah pada remaja putri, pemberian Vit A pada Bayi usia 6-11 bulan, dan balita 12-59 bulan.

Dokter Anak IDAI Banten sekaligus Dewan Pengawas RSHS Bandung Rachmat Sentika mengatakan, stunting ini merupakan kondisi gagal tumbuh pada anak balita akibat kekurangan gizi kronis sehingga tinggi anak lebih pendek dari usianya. Kondisi ini akan tampak terlihat saat anak sudah berusia dua tahun.

"Di Jawa Barat dari 54 orang juta jiwa sekitar 1 juta balita gizi buruk, dan ini merupakan ancaman serius," katanya saat dihubungi.

Kata dia, kondisi anak lebih pendek itu 93% disebabkan asupan gizi yang tidak optimal ditambah dengan infeksi yang berulang-ulang. "93 persen itu karena anak kena infeksi, kena diare, asma, bahkan TBC. Karena makanannya tidak lengkap, kurang protein di umur pertumbuhan otak," kata Ahyani.

Sementara itu, dampak jangka panjang dari stunting akan berpengaruh pada tingkat kecerdasan anak. "Kecerdasan manusia dipengaruhi oleh seribu hari pertama kehidupan pertumbuhan, yaitu 270 hari dalam kandungan, 730 hari setelah lahir sampai usia dua atau tiga tahun," ujarnya.

Dia menilai di Jawa Barat penanganan stunting masih belum maksimal. Menurutnya, hal itu disebabkan ketidakfahaman secara menyeluruh dengan prosedur yang sama di fasilitas kesehatan (faskes) yang ada.

"Sejauh ini di Jawa Barat agak lambat menangani stunting. Karena belum dipahami secara utuh tidak teraplikasikan diseluruh puskesmas, padahal prosedurnya sama," jelasnya.

Apalagi pelaksanaan imunisasi tahun ini, menurutnya, akan berpengaruh pada tingkat penyakit di tahun yang akan datang karena keterlambatan imunisasi bagi anak di tengah pandemi COVID-19.

"Yang seharusnya mendapatkan gizi lebih, asupan yang lebih dan karena covid ini jadi terhambat. Tahun depan kita akan banyak tertimpa banyak penyakit dan juga stunting karena banyak yang melewatkan imunisasi akibat covid ini," kata Ahyani.

(mud/mud)