Round-Up

Pro-Kontra Ormas Islam di Jabar soal Salat Jumat 2 Gelombang

Dony Indra Ramadhan - detikNews
Rabu, 03 Jun 2020 21:26 WIB
Salat Jumat di Ciamis
Ilustrasi salat Jumat (Foto: Dadang Hermansyah)
Bandung -

Isu soal pelaksanaan salat Jumat dua gelombang menimbulkan ragam pendapat dari organisasi islam di Jawa Barat. Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jabar sendiri menyebut pelaksanaan salat Jumat dua gelombang tidak sah.

"Jadi salat Jumat dua gelombang itu tidak sah," ucap Sekretaris MUI Jabar Rafani Achyar saat dihubungi, Rabu (3/6/2020).

Organisasi islam di Jabar pun bersuara. Pro kontra atas salat dua gelombang itu mengemuka. Ada yang sepakat ada juga yang tidak sepakat atas isu tersebut.

Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jabar Hasan Nuri Hidayatullah atau Gus Hasan misalnya, secara pribadi dia tak sepakat dengan salat dua gelombang. Gus Hasan menilai tak ada hukum islam terkait salat Jumat dua gelombang.

"Saya belum menemukan persoalan ini sampai kepada kita. Tapi yang jelas, dalam satu tempat dua gelombang saya belum bisa memberikan tanggapan yang pasti. Cuma sementara menurut hemat kita, tidak semestinya dilakukan, karena belum mempunyai dasar hukum yang kuat, kita harus mencari rujukan yang jelas dulu," kata Gus Hasan.

Hal senada diungkapkan oleh Pimpinan Wilayah (PW) Muhammadiyah Jabar. Wakil Ketua Muhammadiyah Jabar Dadang Syarifudin berpendapat salat Jumat lebih baik diganti dengan salat Dzuhur.

"Adanya kewjiban salat Jumat itu, kalau semua orang yang wajib memungkinkan untuk salat Jumat, ketika tidak ada kemungkinan seluruhnya serempak dalam satu waktu dan tempat, maka tidak ada tuntutan untuk salat Jumat, jadi kembali ke tuntuan salat Dzuhur," ucapnya.

Sementara itu pandangan berbeda datang dari Pengurus Wilayah (PW) Persatuan Islam (Persis). Ketua PW Persis Jabar Iman Setiawan Latief menganggap tak masalah salat Jumat dilakukan dua gelombang namun dengan syarat kondisinya dalam keadaan darurat.

"Sebetulnya kalau dua gelombang memang di kita pembahasannya boleh-boleh saja kalau misalnya sangat perlu dan sangat darurat sehingga dilakukan perlu dua gelombang tapi dengan waktu yang tidak lama, dengan protokol kesehatan juga harus," tutur Iman.

(dir/mud)