Kerusakan Rumah Warga Akibat Blasting Tunnel Kereta Cepat Bandung-Jakarta Meluas

Whisnu Pradana - detikNews
Rabu, 03 Jun 2020 19:48 WIB
rumah rusak di bandung barat karena kereta api cepat
Foto: Whisnu Pradana
Bandung Barat -

Keselamatan jiwa ratusan warga Kompleks Tipar Silih Asih RW 13 Desa Laksana Mekar Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, kembali terancam aktivitas blasting tunnel (peledakan terowongan) proyek Kereta Cepat Indonesia Cina (KCIC).

Beberapa bulan sebelumnya, blasting pembuatan tunnel 11 untuk perlintasan kereta cepat menyebabkan rumah warga mengalami kerusakan. Setelah sempat dihentikan sementara, saat ini pihak PT KCIC melalui subkontraktornya, PT CREC akan melakukan blasting lagi.

Ketua RW 13 Ahmad M Sutisna mengatakan PT CREC mengirimkan surat pemberitahuan bahwa pada tanggal 3 Juni akan ada blasting lagi. Padahal berdasarkan kesepakatan, tak boleh ada pengerjaan terlebih dahulu sebelum terbit surat keputusan dari Gubernur Jawa Barat soal nasib warga setempat.

"Jelas jadi resah lagi, karena tiba-tiba ada surat dari PT. CREC bahwa akan ada blasting di proyek tunnel 11, padahal kesepakatannya harus ada kepastian dulu dari gubernur soal keselamatan ratusan warga di sini," ungkap Ahmad saat ditemui di kediamannya, Rabu (3/6/2020).

Jika pelaksana proyek kekeuh melanjutkan pembuatan tunnel, warga menuntut adanya penggantian atas tanah dan bangunan agar tidak ada warga yang terdampak.

"Jelas kami minta penggantian lahan dan bangunan, kalau mau bertahan bisa-bisa kami yang jadi korban. Rumah warga di sini semuanya retak-retak, bisa ambruk setiap saat kalau kena guncangan lagi," ujarnya.


Menurut Ahmad blasting yang dilakukan PT CREC sebelumnya tidak sesuai dengan ambang batas aman. Hal tersebut, kata Ahmad, diakui langsung oleh PT KCIC bahwa kekuatan yang ditimbulkan tidak karuan.

Berdasarkan penelitian ITB, jelas Ahmad, ambang batas kekuatan ledakan yang boleh ditimbulkan hanya 2 milimeter. Sedangkan blasting yang dilakukan dampaknya 10 kali lebih kuat ketimbang ambang batas.

"PT KCIC sendiri mengakui kekuatan ledakan blastingnya tidak karuan karena melebihi ambang batas. Makanya semua rumah warga mengalami kerusakan. Apalagi kata ahli ITB, kalau mau sampai selesai, perlu 400 kali blasting. Jelas rumah warga kami pasti hancur kalau seperti itu," bebernya.

Jarak antara pengeboman di titik awal terowongan ke rumah-rumah warga kurang dari 1 kilometer, bahkan ada yang berjarak 700 meter sehingga getaran dan suara ledakan sangat terasa.

"Awalnya hanya 80 rumah yang retak-retak, tapi sekarang hampir semua, lebih dari 100 rumah. Nanti jarak terdekat blasting ke komplek kami hanya 200 meter, kebayang dampaknya akan seperti apa. Kami hanya ingin selamat, kalau mau dilanjutkan, maka kami minta pembebasan lahan dan bangunan," tandasnya.

Berdasarkan pantauan di lokasi, hampir semua tembok rumah warga, terutama di RT 04 dalam kondisi retak dengan lebar rekahan bahkan mencapai 2 cm. Ada juga yang lantai rumah yang dilapisi keramik retak-retak dan mengalami penurunan tinggi tanah.

Sementara itu, Kepala Humas PT KCIC Denny Yusdiana mengatakan perlu melakukan pengecekan terlebih dahulu terkait rencana blasting yang akan dilakukan PT CREC di tunnel 11 Padalarang, KBB.

"Perlu kami cek dulu informasinya terkait rencana blasting itu," kata Denny saat dikonfirmasi detikcom.

(ern/ern)