Cerita Pelajar Bandung soal Penanganan Corona di Turki

Siti Fatimah - detikNews
Kamis, 26 Mar 2020 11:13 WIB
Verda Naufal Arista
Foto: Verda Naufal Arista (Istimewa).

Saat ini, Verda tengah mengikuti program untuk mendapatkan dua ijazah. Kedua ijazah itu untuk nasional (Turki) dan internasional yang dapat digunakan untuk melanjutkan kuliah di seluruh dunia. "Verda ingin berkuliah di Oxford University, itu adalah impian Verda semenjak kecil," ungkapnya.

Berbeda dengan negara lain yang menggunakan bahasa universal (bahasa Inggris), Verda bercerita bahwa di negara Turki setiap pelajar beasiswa diwajibkan belajar bahasa Turki dari nol.

"Semester pertama (empat bulan) saya diwajibkan belajar bahasa Turki dan memang membosankan sekali, struktur bahasanya sulit karena memiliki sufiks yang sangat banyak. Semester dua mulai seperti matematika, fisika, kimia dan lainnya." jelasnya.

Dalam satu kelas, dia mengatakan ada temannya yang berasal dari Bangladesh, Liberia, Ukraina, Albania, Kazakhstan, Mauritania, Burkina Faso, Uganda, Pantai Gading, Suriah dan India.

"Kalau dari Eropa biasanya cuman dari negara Balkan saja (Eropa Selatan) ada yang dari Kosovo, Makedonia, Yunani, Bulgaria, Bosnia, Austria dan ada satu orang dari Inggris." lanjut Verda.

Saat ini, ia bersekolah di SMA Imam Hatip yaitu sekolah yang dibuat oleh Turkiye Diyanet Vakfı (Kementrian Agama Turki). Dari lulusan sekolah ini, dapat menjadi imam dan khatib di masjid seluruh Turki. "Walaupun begitu, di sini tidak hanya belajar tentang agama saja tetapi seluruh pelajaran seperti di Indonesia," ujarnya.

Halaman

(mso/mso)