Jejak Kina di Indonesia, Tanaman yang Disebut Ridwan Kamil Obat Corona

Yudha Maulana - detikNews
Kamis, 12 Mar 2020 21:59 WIB
Taman Junghuhn
Taman Junghuhn di Lembang, Kabupaten Bandung Barat. (Yudha Maulana/detikcom)

Sekitar tahun 1800-an, Menteri Jajahan Seberang Lautan Belanda Ch F. Pahud memulai proyek untuk memberantas malaria secara besar-besaran. Ilmuwan berkebangsaan Jerman, J. Karl Hasskarl diutus untuk membudidayakan kina di Jawa yang diselundupkan dari Peru pada 1854. Ketika itu kina menjadi komoditas penting yang perdagangannya dimonopoli negara-negara Amerika Selatan.

Dibawa Hasskarl ke Jawa, pohon yang bisa tumbuh hingga 15 meter ini kemudian ditebar oleh Franz Wilhelm Junghuhn, seorang naturalis Jerman yang bekerja untuk Kolonial Belanda pada 1857.

Karena ketekunan dan kepekaannya melihat alam di Jawa, ia memindahkan lokasi budidaya kina di Cibodas, Bogor yang dirasanya kurang tepat ke lereng Gunung Malabar Pangalengan, Kabupaten Bandung.

tugu berbentuk kerucut itu masih berdiri. Terdapat tulisan Dr Franz Wilhelm Junghuhn, lengkap dengan tanggal kelahiran dan kematiannya.Tugu berbentuk kerucut itu masih berdiri. Terdapat tulisan Dr Franz Wilhelm Junghuhn, lengkap dengan tanggal kelahiran dan kematiannya. (Yudha Maulana/detikcom)

Rupanya keputusan Junghuhn itu membuahkan hasil yang memuaskan, Hindia Belanda bisa menghasilkan 11.000 ton kulit kering kina. Pada abad ke-19 Jawa pernah menjadi penghasil kina terbesar di dunia lewat pabrik kina yang didirikan pada 1896 di Bandung.

Ketika itu hampir 90 persen kebutuhan kima berasal dari Indonesia, hingga pasca-kemerdekaan. Kini di lokasi itu tapak tilas Junghuhn masih terlihat jelas di sana, mulai dari rumah yang sempat ditinggalinya hingga klinik. Area itu di bawah pengelolaan PTPN VIII saat ini.

Kendati demikian, bukti sejarah penanaman pohon kina pertama oleh Junghuhn ditandai dengan berdirinya sebuah tugu di Desa Jayagiri, Lembang, Kabupaten Bandung Barat (KBB). Tugu itu kini dikenal warga sebagai Taman Junghuhn.

Hingga saat ini, tugu berbentuk kerucut itu masih berdiri. Terdapat tulisan Dr Franz Wilhelm Junghuhn, lengkap dengan tanggal kelahiran dan kematiannya, 24 April 1864.

Ia meninggal karena suatu penyakit, sambil melihat keindahan Jawa yang dicintainya dari lereng perbukitan Lembang.

Halaman

(yum/bbn)