Pengeroyokan Santri Assunah Cirebon, Yayasan: Kenakalan Anak-anak

Sudirman Wamad - detikNews
Senin, 09 Des 2019 17:24 WIB
Foto: Sudirman Wamad/detikcom
Foto: Sudirman Wamad/detikcom
Cirebon - Yayasan Assunah Kota Cirebon, Jawa Barat, membenarkan adanya pengeroyokan terhadap Kaisar Maisarah (13), siswa kelas VII MTs Assunah yang dilakukan delapan santri lainnya.

Namun Assunah membantah pengeroyokan yang dilakukan delapan santrinya itu dipicu oleh rokok elektrik. Juru bicara Yayasan Assunah Kota Cirebon Diding Sobarudin mengatakan pengeroyokan terjadi karena kenakalan anak-anak.

"Korban ini dipanggil oleh kakak-kakak kelasnya. Ceritanya ada kenakalan anak-anak, temannya berbuat nakal. Kemudian didengar oleh kakak kelas. Kemudian (korban) ditanyain oleh kakak kelasnya, benar nggak kamu nakalin. (Korban) berusaha mengelak. Dia baru mengaku, terjadilah pemukulan oleh kakak kelasnya," papar Diding kepada awak media di kantornya, Senin (9/12/2019).

Diding juga membantah keterangan keluarga yang menyebutkan kejadian pengeroyokan itu dilakukan di ruang kelas. Menurut Diding, kejadian tersebut terjadi di asrama ponpes.

"Kejadiannya memang saat itu guru-guru sedang fokus kegiatan remedial," kata Diding.



Ia menambahkan pihak Assunah telah berkoordinasi dengan kepolisian terkait penyelidikan kasus tersebut. Selain itu, pihak Assunah masih berupaya memediasi keluarga korban dengan pelaku.

"Delapan orang yang diduga. Mereka semua sudah diperiksa. Kami masih menunggu hasil (pemeriksaan) sambil menengahi agar ditempuh jalur kekeluargaan," kata Diding.

Pihak yayasan belum bisa memutuskan sanksi yang bakal diberikan. Sebab, pihak yayasan masih menunggu hasil penyelidikan.

"Lihat nanti hasilnya, kami juga masih mediasi. Apakah ini lanjut menempuh jalur hukum atau bagaimana. (Sanksinya) bisa surat peringatan sampai kami pindahkan sekolahnya jika terbukti," kata Diding.

Diding menyayangkan adanya kejadian tersebut. Selama ini, lanjut dia, pihak yayasan telah berupaya mengawasi setiap aktivitas santrinya. Bahkan, lanjut dia, yayasan memiliki mekanisme untuk menyelesaikan masalah yang menyangkut santri. Dalam artian, tidak serta-merta menggunakan cara-cara kekerasan fisik.

"Ponpes itu pastinya mendidik mereka dengan baik. Kalau ada tindakan tidak baik, bisa dilaporkan ke pengurus, OSIS, kesiswaan, dan lainnya," ucap Diding.

Di tempat yang sama, Ketua Yayasan Assunah Kota Cirebon Said Riyana berharap masalah tersebut bisa diselesaikan secara baik. "Kami bicara apa adanya. Mudah-mudahan semuanya lapang dada. Yang terjadi (pengeroyokan), memang benar terjadi adanya," katanya.



Said mengaku prihatin oleh adanya kejadian tersebut. Said mengklaim pihaknya telah maksimal melakukan pengawasan terhadap siswanya. Ia juga menjamin kejadian tersebut menjadi yang terakhir kalinya di yayasannya.

Pihak yayasan bakal memberikan sanksi tegas jika delapan siswanya terbukti bersalah. "Sanksi jelas, nanti aturannya ada di kepala sekolah. Kami (lakukan) pemanggilan dulu orang tua pelaku. Nanti tindakannya seperti apa, akan kami bahas," kata Said. (ern/ern)