Menguak Sejarah Abattoir di Cimahi yang Ada Sejak Zaman Belanda

Yudha Maulana - detikNews
Selasa, 19 Nov 2019 11:45 WIB
Abbatoir atau rumah potong hewan di Cimahi yang sudah ada sejak zaman penjajahan Belanda. (Yudha Maulana/detikcom)
Rumah jagal itu masih difungsikan saat masa kependudukan Jepang di Tanah Air (1942-1945), hingga akhirnya diambil alih oleh Residen Priangan. Saat berada di tangan Residen Priangan dan masa perang kemerdekaan berakhir, RPH diserahkan pengelolaannya kepada Pemerintah Kabupaten Bandung sekitar tahun 1960-an.

"Fungsinya tetap sama, sebagai rumah jagal. Baru setelah Cimahi jadi kota administratif tahun 1976, dikelola oleh pemerintahan Cimahi," kata Mac.

Seiring dengan menjamurnya permukiman warga, aktivitas jagal di abattoir ini semakin sedikit. Terlebih pemotongan hewan dan pemasok daging sapi lebih banyak dilakukan di RPH Andir, Kota Bandung.


Pemerintah Kota Cimahi mendaftarkan bangunan heritage ini menjadi salah satu cagar budaya. Kendati demikian, bangunan ini kini kondisinya terbengkalai. Langit-langitnya sebagian jebol. Sementara itu, dinding bagian luar RPH mengelupas sehingga terlihat susunan bata merah di dalamnya. Bangunan ini terdiri atas dua tingkat dan satu lapang untuk menjagal hewan ternak.

Lantai atas digunakan untuk keperluan pegawai RPH. Sedangkan lantai bawah digunakan untuk menyimpan sapi dan ternak lainnya. Bagian bawah ini dikunci rapat, walau pintu kayunya keropos termakan zaman.

Menguak Sejarah Abattoir di Cimahi yang Ada Sejak Zaman BelandaFoto: Yudha Maulana/detikcom
Masih terlihat cantelan besi dan tali-temali untuk menggantung potongan daging di sana. Besi cantelan itu juga berkarat. Sempat muncul wacana reaktivasi tempat ini, namun tersandung sarana pembuangan limbah potong dan kotoran ternak yang tak memadai.

"Tahun 1990-an sebetulnya sudah tidak dipakai, tapi baru berhenti sepenuhnya 2000-an. Karena yang utama untuk suplai daging sebetulnya di Andir," ujarnya.

Lokasi abattoir ini hanya terpaut sekitar seratus meter dari Hotel dan Kolam Berglust, yang dahulu menjadi tempat pelesiran para prajurit kolonial dan warga Tionghoa di Kota Cimahi.
(tro/tro)