detikNews
Kamis 17 Oktober 2019, 15:28 WIB

Jalan Ditutup Sekolah Polisi, Warga Sukabumi Gugat Presiden-Kapolri Rp 1

Syahdan Alamsyah - detikNews
Jalan Ditutup Sekolah Polisi, Warga Sukabumi Gugat Presiden-Kapolri Rp 1 Foto: Syahdan Alamsyah
Sukabumi - Masih ingat dengan kasus penutupan jalan oleh pihak Sekolah Pembentukan Perwira (Setukpa) Polri di Sukabumi? Kasus tersebut kini bergulir ke Pengadilan Negeri Kota Sukabumi. Warga Sukabumi menggugat Presiden dan Kapolri.

Selain presiden dan kapolri yang digugat, lembaga Polri lain, gubernur Jabar dan wali kota Sukabumi juga digugat Rp 1. Gugatan Class Action tersebut mendapat pengawalan dari puluhan warga yang tinggal di Jalan Prana di Kelurahan Cisarua dan Cikole, Kota Sukabumi.

"Mereka yang datang antusias mencari keadilan, kita lakukan class action terkait penutupan jalan Prana oleh pihak Setukpa yang menyebut jalan itu adalah milik mereka. Untuk jadwal sidang sendiri akan dilaksanakan pada 19 November 2019 sesuai jadwal Pengadilan Negeri Sukabumi, untuk nilai gugatan hanya Rp 1 karena poinnya nanti kita ingin kejelasan soal posisi jalan tersebut," kata Andri Yules salah seorang kuasa hukum warga di Pengadilan Negeri Kota Sukabumi, Kamis (17/10/2019).


Dalam berkas gugatan ada 8 pihak yang tercantum, masing-masing adalah Presiden RI Joko Widodo dan Kapolri Jendral Tito Karnavian sebagai tergugat II, Kepala Lemdiklat Polri tergugat III, Kepala Setukpa Lemdikpol sebagai tergugat IV, Walikota Sukabumi sebagai tergugat V, BPN Kota Sukabumi sebagai tergugat I, Menteri Keuangan RI sebagai tergugat II dan Gubernur Jawa Barat sebagai tergugat II.

Untuk para penggugat sendiri sebanyak 120 orang warga yang bertindak atas nama Warga dari 2 Kelurahan yakni Kelurahan Cisarua meliputi RT 002/010, RT 003/010, RT 002/012, RT 001/018, RT 002/018 dan Kelurahan Cikole meliputi RT 003/002, RT 005/002, RT 007/002, RT 004/005, RT 001/003 yang seluruhnya berada di Wilayah Kecamatan Cikole, Kota Sukabumi.

"Gugatan sudah terdaftar dengan nomor 18/Pdt.G/2019/PN.SKB. Saat portal jalan dipasang sedikitnya terjadi dua kali kebakaran lahan milik warga, karena mobil pemadam kesulitan masuk ke area tersebut lantaran ada portal yang menghambat. Selain itu pasca pemortalan ini sudah terjadi beberapa kecelakaan," terang Andri.


Menurut Andri, akses jalan tersebut sudah lebih dahulu ada dan dipergunakan oleh masyarakat sejak zaman sebelum kemerdekaan, bahkan sebelum Setukpa mendapatkan Hak pakainya. "Dapat dilihat dari bukti-bukti yang ada, bahwasanya jalan tersebut dahulunya sudah diberi nama Gang Prana jauh sebelum Setukpa mendapatkan Hak Pakai No 18," ungkap dia.

Peristiwa pemortalan itu sempat terangkat ke permukaan pada Juli 2019 lalu. Saat itu warga dan salah satu sekolah protes karena akses masuk ke tempat mereka tiba-tiba dipasangi pagar. Pihak Setukpa sendiri saat itu memastikan pemasangan pagar halaman itu sudah sesuai dengan prosedur.

"Dalam rangka menertibkan aset negara yang dikelola oleh Sekolah Pembentukan Perwira (Setukpa) Lembaga Pendidikan Polri (Lemdikpol). Sebelumnya, itu kelemahannya kita kan dari dalam, pendataan dari aset itu, sehingga banyak aset Setukpa yang hilang," kata Kepala Setukpa Lemdikpol Sukabumi Brigjen Agus Suryanto kepada wartawan, Selasa (30/7/2019).

(sya/ern)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com