detikNews
Selasa 23 Juli 2019, 11:47 WIB

Melihat Budidaya Kopi Ala Narapidana di Lapas Narkotika Jelekong

Wisma Putra - detikNews
Melihat Budidaya Kopi Ala Narapidana di Lapas Narkotika Jelekong Para napi di Lapas Narkotika Jelenkong, Kabupaten Bandung, membudidayakan kopi sejak tahun 2016. (Foto: Wisma Putra/detikcom)
Bandung - Kata siapa kopi hanya bisa tumbuh dan berbuah di dataran tinggi saja? Di Lapas Jelekong, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, pohon kopi bisa tumbuh meski ditanam di bawah ketinggian 1.000 Mdpl.

Selain tumbuh, kopi yang di tanam di Lapas khusus narkoba ini dapat berbuah, dipanen, hingga dikemas dan dipasarkan melalui situs jual beli online. Produk kopi yang dihasilkan dinamai Kopi Murni Lapas Narkotika Jelekong.


Berawal pada Tahun 2016 lalu, sekitar 150 bibit tanaman kopi jenis robusta dari Gunung Halu, Kabupaten Bandung Barat, dibawa ke Lapas Jelekong sebagai media edukasi para warga binaan.

Sebelum ditanam, bibit kopi tersebut hanya disimpan di dalam plastik polybag. Pada Tahun 2017 bibit kopi tersebut ditanam di mengelilingi Lapas Jelekong, bercampur dengan tanaman palawija, nanas dan lainnya. Sepenuhnya, perawatan hingga pengelola tanaman kopi itu dilakukan oleh warga binaan dan dipasarkan oleh petugas lapas.

Melihat Budidaya Kopi Ala Narapidana di Lapas Narkotika JelekongFoto: Wisma Putra
Kalapas Jelekong Gungun Gunawan mengatakan, pohon kopi itu ditanam di lingkungan lapas mulai depan gedung hingga pinggir danau belakang. "Tidak ada lahan khusus, kita memanfaatkan lahan yang sudah ada saja," kata Gungun, Selasa (23/7/2019).

detikcom berkesempatan masuk ke dalam Lapas Jelekong untuk melihat ratusan pohon kopi yang tumbuh di lingkungan lapas. Pohon-pohon kopi itu berbuah lebat namun belum waktunya untuk dipanen.

Gungun mengatakan, bibit kopi yang dulunya hanya disimpan di polybag dan ditanam di lingkungan lapas kini sudah berbuah dan bisa dipanen. Menurutnya sekitar enam bulan lalu pohon kopi yang ditanam di Lapas Jelekong mulai berbuah dan satu bulan lalu terakhir dilakukan panen.

"Hasilnya lumayan banyak. Semua proses pengolahan dilakukan secara manual," katanya.

Melihat Budidaya Kopi Ala Narapidana di Lapas Narkotika JelekongFoto: Wisma Putra
Dalam satu kali panen, kata Gungun, bisa menghasilkan 15-25 kilogram buah kopi. Setelah dilakukan penjemuran dapat menghasilkan sekitar sembilan kilogram greenbean. Karena proses produksi dilakukan secara manual, setelah menjadi greenbean kopi tersebut disangrai (atau roasting bila menggunakan alat modern) menggunakan wajan.

Selesai disangrai, lalu ditumbuk dan menghasilkan kopi bubuk siap konsumsi. Agar dapat dipasarkan, bubuk kopi tersebut dibungkus menggunakan kemasan plastik yang masing-masing beratnya sekitar 1,5 ons. "Dari proses penjemuran hingga siap dipasarkan waktunya sekitar satu Minggu," ucapnya.

"Kita bangga, begitu kita sharing dengan ahli kopi kualitasnya harus ditingkatkan lagi. Setelah ini, komunitas barista mau datang ke sini mau berikan pelatihan pengolahan sampai pengemasan dan pemasaran kepada warga binaan. Mudah-mudahan saja setelah mereka keluar dari sini bisa menjadi pengusaha kopi," ucapnya.


Menurut Gungun, di Indonesia hanya Lapas Jelekong satu-satunya yang membudidayakan tanaman kopi. "Setahu saya hanya ada di sini, sebelumnya saya belum melihat lapas ditanami kopi, paling ada yang berternak atau tumbuhan jenis sayur," ujarnya.
(tro/tro)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com