detikNews
Selasa 16 Juli 2019, 14:30 WIB

Hawa Dingin Selimuti Cirebon dan Kertajati Hingga September

Sudirman Wamad - detikNews
Hawa Dingin Selimuti Cirebon dan Kertajati Hingga September BIJB Kertajati di Kabupaten Majalengka. (Foto: Rachman Haryanto/detikcom)
Cirebon - Wilayah Kota Cirebon, Kabupaten Cirebon, Indramayu, Majalengka dan Kuningan (Ciayumajakuning) terasa lebih dingin dibanding biasanya. Kondisi perubahan cuaca ini sudah terjadi sejak beberapa hari terkahir.

Prakirawan Cuaca Stasiun Meteorologi BMKG Jatiwangi Majalengka Ahmad Faa Iziyn mengatakan cuaca dingin memang selalu terjadi saat musim kemarau. Kondisi demikian diakibatkan karena awan yang minim, bahkan tidak ada sama sekali.

"Saat musim kemarau tutupan awan sedikit atau bisa dikatakan tidak ada, sehingga bumi ini jadi semacam tak berselimut. Pada saat tak berselimut, panas yang diserap pada siang hari akan sangat mudah dilepas pada malam hari, sehingga malam hari hingga pagi hari terasa dingin dari kondisi biasanya," kata Faa Iziyn saat dihubungi detikcom, Selasa (16/7/2019).


Lebih lanjut, Faa Iziyn menyebutkan suhu minimum di Ciayumajakuning, termasuk kawasan Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati bisa mencapai 20 derajat celsius. "Dari pantauan kami selama empat hari terakhir, suhu udara minimun di pagi hari berkisar 20 sampai 22 celsius," katanya.

BMKG memprediksi cuaca dingin tersebut terjadi hingga September mendatang. Selain cuaca dingin, wilayah Ciayumajakuning juga dilanda angin kencang.

Faa Iziyn menjelaskan angin kencang dibarengi cuaca dingin itu terjadi karena adanya hembusan massa udara yang berasal dari benua Asurtralia menuju Asia.

"Hembusan massa udara itu melewati wilayah Indonesia, termasuk wilayah Ciayumajakuning. Aliran massa udara ini bersifat basah, karena di sana (Australia) sedang musim dingin sehingga wilayah kita menjadi terasa dingin," ucapnya.

Menurut Faa Iziyn, angin kencang terjadi karena tekanan udara yang tinggi dari daratan Australia kemudian didukung juga oleh faktor lokal adanya Gunung Ciremai, sehingga mengakibatkan angin kumbang.

"Kecepatan angin menjadi meningkat di wilayah Ciayumajakuning. Kecepatan angin umumnya dari arah tenggara hingga selatan maksimumnya mencapai 48 kilometer per jam, bahkan bisa berpotensi hingga 56 kilometer per jam," kata Faa Iziyn.


Pihaknya mengimbau agar masyarakat lebih waspada dengan kondisi cuaca saat kni. "Ya hati-hati, karena dampak yang dapat ditimbulkan seperti pohon tumbang dan juga peningkatan tinggi gelombang mencapai kurang lebih 1,5 meter di Perairan Utara Cirebon dan Indramayu," katanya.

Simak Video "Ke Cirebon, Jangan Lupa Jajal Bakso Legendaris Ini"
[Gambas:Video 20detik]

(tro/tro)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com