DetikNews
Kamis 23 Mei 2019, 04:53 WIB

Belum Ada Proyek Berhasil Direalisasikan, PT BII Terancam Bubar

Mochamad Solehudin - detikNews
Belum Ada Proyek Berhasil Direalisasikan, PT BII Terancam Bubar Salahsatu lokasi proyek PT BII/Foto: Tri Ispranoto
Bandung - PT Bandung Infra Investama (BII) terancam bubar apabila sampai akhir 2019 tidak ada proyek yang berhasil direalisasikan. Penyertaan modal sebesar Rp 7,5 miliar yang digelontorkan Pemkot Bandung juga hampir habis digunakan untuk biaya operasional dan gaji karyawan.

Pada Rabu (22/5), Komisi B DPRD Kota Bandung memanggil PT BII dan Pemkot Bandung untuk meminta penjelasan terkait performa perusahaan tersebut. Sebab sejak dibentuk pada 2017 hingga kini belum ada proyek yang berhasil dijalankan.

"Saya sarankan segera jalankan program penyelamatan perusahaan. Kalau sampai tahun depan proyek belum ada, dia bisa dilikuidasi. Secara UU PT (perseroan terbatas) kalau equity dalam sebuah entitas minus, habis oleh operasional, modal habis, harus bubar secara hukum," kata Anggota Komisi B DPRD Kota Bandung Herman Budiyono di Gedung DPRD Kota Bandung.

Herman ragu PT BII bisa bertahan di tengah buruknya performa perusahaan. Apalagi sampai sekarang pihaknya belum melihat ada proyek yang dikerjakan.

Di sisi lain, lanjut dia, penyertaan modal yang digelontorkan Pemkot Bandung sebesar Rp 7,5 miliar semakin terkuras habis untuk kepentingan biaya operasional dan gaji pegawai. Berdasarkan informasi dana itu sekarang tinggal tersisa sekitar Rp 2,2 miliar.

"Didirikan sejak 2017 sudah rugi Rp 5 miliar. Kebutuhannya sudah terpakai Rp 5,38 miliar dalam setahun. Tapi belum ada kemajuan," ucapnya.

Dia juga menyoroti peran Pemkot Bandung yang lemah dalam menempatkan susunan komisaris dan direksi di perusahaan tersebut. Sebagai pemilik 70 persen saham, Pemkot hanya menempatkan satu direktur utama dan satu komisaris utama. Hal itu berbanding terbalik dengan PT Panca Terang Abadi sebagai pemilik 30 persen saham PT BII.

"Sebagai pemegang saham mayoritas susunan direksi harusnya dipegang Pemkot. Harus punya kendali lebih tinggi. Kami sarankan ke owner (Pemkot) kalau memang ingin menghidupkan (perusahaan) ini, harus optimal," ujar Herman.

Di lokasi yang sama, anggota Komisi B DPRD Kota Bandung Hasan Faozi menambahkan, sebetulnya PT BII sudah memiliki dua proyek besar. Pertama pengembangan kawasan lahan eks kawasan industri Kiaracondong seluas 13,2 hektare.

Di lokasi itu rencananya dibangun pusat bisnis terpadu mulai dari apartemen, perkantoran dan pusat perbelanjaan. Namun sayang, sampai saat ini belum ada dokumen serah terima aset dari Pemkot pasca Perda Penyertaan Modal PT BII disahkan DPRD.

Kemudian PT BII memiliki proyek ducting atau pemindahan kabel telekomunikasi ke bawah tanah di seluruh Kota Bandung sepanjang 1.176 Km dengan nilai Rp1,3 triliun. Proyek itu tinggal menunggu kerja sama operasional (KSO) antara PT BII dan investor pemenang lelang PT Mora Telematika Indonesia.

"Ducting ini seluruh syarat sudah dilengkapi dan KSO sudah tapi ada kesalahan. Akhirnya harus ada perbaikan KSO dan KSO ini bisa dilaksanakan menunggu RUPS pada 19 Juni nanti," katanya.

Sementara itu, Kabag Ekonomi Pemkot Bandung Lusi Lesminingwati menyatakan, Pemkot masih menunggu perkembangan terkait kelanjutan realisasi sejumlah proyek PT BII. Pihaknya juga menunggu pelaksanaan RUPS pada Juni mendatang.

"Jadi dalam waktu dekat akan ada undangan ke Pak Wali selaku pemilik saham 70 persen untuk RUPS tahunan dan RUPS luar biasa. Karena bersamaan dengan berita acara serah terima aset. (Untuk ducting) kita tinggal nunggu KSO," ujar Lusi.
(bbn/bbn)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed