DetikNews
Rabu 24 April 2019, 21:17 WIB

Cerita Pejuang Demokrasi di Cianjur yang Meninggal Usai Kawal Pemilu

Syahdan Alamsyah - detikNews
Cerita Pejuang Demokrasi di Cianjur yang Meninggal Usai Kawal Pemilu Hamim Herdiansyah semasa hidup. (Foto: Syahdan Alamsyah/detikcom)
Cianjur - Duka masih menggelayut di kediaman mendiang Hamim Herdiansyah (46) (sebelumnya tertulis Hilmam Herdi) di Kampung Pasarean, Kelurahan Pamoyanan, Kecamatan Cianjur, Jawa Barat, Rabu (24/4/2019). Sejumlah tetangga dan kerabat silih berganti berdatangan ke rumah tersebut.

Hamim ialah salah satu pejuang demokrasi yang wafat saat menjalankan tugasnya dalam mengawal tahapan Pemilu 2019. Jabatan Hamim sebagai ketua KPPS 31 di kampungnya. Dia meninggal setelah sempat mendapat penanganan medis di Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUD Sayang Cianjur, Selasa (23/4).
Keluarga masih tidak percaya Hamim pergi begitu cepat. Sosok pria yang periang dan ringan tangan itu berpulang selepas menuntaskan kewajibannya sebagai ketua KPPS.

"Dari pagi-pagi sekali almarhum pergi ke TPS, hari Rabu (17/4), sampai proses selesai. Pulang subuh, tidur sebentar. Bangun jam 10.00 WIB pagi, hari Kamis (18/4). Sempat minta dikerok katanya enggak enak badan," kata Lina Marlina (41), istri Hamim.

Lantaran merasa fit, Hamim kembali membereskan berkas pemungutan suara. Begitu pun pada Jumat (19/4), dia bekerja hingga malam. Namun, pada Sabtu (20/4), kondisi kesehatan Hamim drop.

"Minggu (21/4) almarhum sehat lagi, begitu juga Senin (22/4). Dia sempatkan waktunya bantu warga yang mau menikah dan bercerai karena dia juga menjadi amil di Kantor Urusan Agama (KUA) setempat. Hari Selasa (23/4) kondisi kesehatannya makin parah sampai akhirnya dibawa ke rumah sakit dan meninggal dunia," tutur Lina.
Hamim dikenal sebagai sosok yang ringan tangan dan kerap membantu tetangga di lingkungannya. Dia aktif di beberapa kegiatan kepemudaan karena pernah menjabat sebagai ketua Karangtaruna Kabupaten Cianjur.

"Banyak yang sayang ke almarhum, ke anak-anak muda juga dia jadi pembimbing. Sifatnya mengayomi, makanya banyak yang suka. Di mata keluarga, dia adalah pekerja keras, enggak pernah marah-marah. Kalau bicara juga lemah lembut," ujar Yuniar Fitriani (34).

Ucapan duka berdatangan dari berbagai pihak mulai Bupati Cianjur hingga para Hamim. "Keluarga ikhlas. Beliau benar-benar bertanggung jawab dengan tugasnya, paling setia mantengin setiap tahapan pemungutan hingga penghitungan suara. Bahkan kalau anak buahnya kelelahan, dia yang nyelingin," ucap Yuniar.

(sya/bbn)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed