DetikNews
Selasa 23 April 2019, 21:39 WIB

Kasus Guru Pukul 9 Santriwati di Tasikmalaya Berujung Islah

Deden Rahadian - detikNews
Kasus Guru Pukul 9 Santriwati di Tasikmalaya Berujung Islah Proses islah guru dan santriwati berlangsung di gedung Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Tasikmalaya. (Foto: Deden Rahadian/detikcom)
Tasikmalaya - Kasus sembilan santriwati dipukuli oknum guru di Tasikmalaya, Jawa Barat, berujung islah. Meski sempat melapor ke Komisi Perlindungan Anak Indonesia Daerah (KPAID) Tasikmalaya, keluarga hanya menuntut pelaku menyampaikan permohonan maaf.

Proses islah berlangsung di gedung Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Tasikmalaya, Selasa (23/4/2019) petang. Selain dihadiri dua keluarga korban, momen perdamaian ini disaksikan pihak Pondok Pesantren (Ponpes) Miftahul Huda Alfaqih, KPAID, MUI, Kementerian Agama, dan Pemkab Tasikmalaya.

"Islah ditempuh keluarga dengan syarat oknum guru ngaji minta maaf," ujar Ketua KPAID Kabupaten Tasikmalaya Ato Rinanto.

Pihaknya terus memantau psikologis para santriwati. KPAID Kabupaten Tasikmalaya juga berkoordinasi dengan KPAID daerah asal santri.

"Proses islah berjalan lancar. Semua pihak legowo dengan kejadian ini dan saling memaafkan. Ini contoh yang baik. Kami tetap akan kawal psikologis korban bila dibutuhkan untuk pemulihan trauma," ujar Ato.
Isak tangis sempat warnai proses damai kasus penganiayaan sembilan santriwati oleh oknum guru ngaji Ponpes Miftahul Huda Alfaqih yang berlokasi di kawasan Gunung Tanjung. Mereka merupakan santriwati dari Cianjur, Bandung, Karawang dan Tasikmalaya yang tengah menempuh pendidikan akhir di pesantren.

Dua santriwati tak kuasa menahan air mata sambil menyalami sesepuh pondok tempatnya menuntut ilmu. Bahkan, keluarga korban sempat meluapkan emosinya mengetahui perilaku oknum guru ngaji itu.

"Bagaimana pak kalau kejadian ini menimpa anak bapak. Apalagi dia ini sudah piatu, enggak punya ibu," ucap kerabat salah satu korban sambil menangis.

Pihak keluarga memilih mengeluarkan anaknya dari pondok pesantren itu karena khawatir kejadian serupa terulang. Meski masa pendidikan korban tersisa dua tahun untuk mendapat ijazah.

"Setelah islah, anak kakak saya ini mau cabut saja. Enggak ke pesantren lagi. Enggak diterusin. Biar saja enggak dapat ijazah juga," ujar Nuning, salah satu keluarga korban.
Oknum guru ngaji, Yn, menyampaikan permohonan maaf di hadapan korban dan keluarga santriwati. "Saya memohon maaf pada keluarga dan adinda santri," ujar Yn.

Pihak ponpes memastikan kekerasan yang menimpa santri bukan aturan lembaga. Pemukulan dilakukan karena kekhilafan pribadi sang guru tersebut karena santriwati dianggap melanggar aturan yaitu bolos mengaji.

Sanksi teguran sudah dilayangkan pada oknum guru ngaji itu. "Dia (Yn) sudah meminta maaf dan sudah dimaafkan oleh korban dan keluarga. Ini bukan dengan ponpes permasalahannya, tapi dengan guru ngaji yang bersangkutan," kata Ahmad Safei, sesepuh Ponpes Miftahul Huda Alfaqih.
(bbn/bbn)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed