DetikNews
Minggu 21 April 2019, 21:21 WIB

Mengenal Bu Amel, Jurnalis Perempuan Nyentrik dari Cimahi

Yudha Maulana - detikNews
Mengenal Bu Amel, Jurnalis Perempuan Nyentrik dari Cimahi Foto: Yudha Maulana
Cimahi - Deru mesin motor trail memecah heningnya perkantoran DPRD Kota Cimahi. Tampak seorang wanita paruh baya turun dari atas motor yang terpakir rapi.

Ia menyapa dengan enerjik. Langkahnya cepat dan senyuman merekah di wajahnya. Wanita itu adalah Amelia Adawiyah Astuti atau Bu Amel, sapaan akrabnya.

Wanita kelahiran 28 November 1963 itu telah melanglabuana sebagai wartawan bersama Radio Republik Indonesia (RRI) selama 35 tahun. Sehari-hari, Bu Amel, menggunakan motor trail untuk liputan.

Ia mengawali kareirnya di tanah kelahirannya, Medan selama 15 tahun. Baru pada tahun 1999, ia hijrah ke Bandung bersama dengan suaminya hingga kini. Untuk kode liputan, ia menggunakan nama Amelia Hastuti.

"Tahun 1983 masuk RRI, terus ditanya hobi kamu apa? Saya jawab hobi saya kesenian, nulis dan mengarang puisi, ya sudah awalnya saya ditempatkan di bidang pemberitaan di kantor," kata Bu Amel kepada detikcom, belum lama ini.
Mengenal Bu Amel, Jurnalis Perempuan Nyentrik dari CimahiFoto: Yudha Maulana

Setahun kemudian, baru Bu Amel ditugaskan untuk mencari berita di lapangan berbekal tape recorder dari RRI. Namun saat terjun pertama kali, ia merasa kebingungan.

"Saya ingat dulu pertama kali liputan BKKBN, saat ada Safari KB Kencana, bingung juga, tapi ibu ikuti cara wartawan lain saat bertanya, lama-lama akhirnya bisa juga," kenangnya.

Bu Amel tak menyangka menjadi wartawan sebelumnya. Pembawaannya yang tomboy membuat dirinya dipaksa mengikuti pendidikan keterampilan keputrian oleh orang tuanya.

"Jadi wartawan lebih banyak senangnya daripada dukanya, dulu wartawan itu disambut seperti pejabat tinggi, di samping itu kita juga bisa bertemu berbagai macam orang dari tukang becak sampai pejabat tinggi," ujarnya.

Satu pengalaman yang tak terlupakan bagi Bu Amel saat menjajal dunia jurnalistik, yaitu ketika ia diundang masuk ke Kapal Perang Dewi Ruci oleh seorang Laksamana TNI AL.

"Indonesia waktu itu membeli Kapal Korvet setelah Jerman Timur dan Barat bergabung. Setelah diajak berkeliling ruangan kapal, akhirnya ibu makan satu meja dengan para perwira tinggi," katanya.

"Namun mereka enggak mau buka piringnya sebelum ibu buka piring duluan, sampai ibu dibisiki seseorang untuk buka piring, ternyata para perwira tinggi itu ladies first banget," tambah Bu Amel.

Keadaan itu, ujar Bu Amel, berbeda sekali dengan sekarang. "Kalau sekarang di Bandung, kita makan, kadang suka diusir secara halus," ucapnya sambil tertawa.

Bicara soal jurnalistik, Bu Amel, mengatakan keadaan perusahaan pers dulu dan kini jauh berbeda. Sebab, dulu tata krama wartawan dengan narasumber, cara berpakaian, hingga cara membuat counter berita begitu rinci diajarkan.

"Dulu ibu pernah jadi satu-satunya wartawan yang masuk ke Istana Negara, ibu pakai setelan jas, rok dan sepatu pansus, kalau yang lainnya pakai baju korpri, inilah pentingnya pendidikan dasar bagi wartawan, karena ini juga Ibu bisa bersalaman dengan Pak Soeharto pada Hari Pers Nasional dulu," kata Bu Amel.
Mengenal Bu Amel, Jurnalis Perempuan Nyentrik dari CimahiFoto: Yudha Maulana


Selama menjadi wartawan, Bu Amel merasa tak ada yang mustahil untuk diwujudkan. "Kalau saya melihat liputan yang sulit itu sebagai tantangan," ujarnya.

Bergelut di dunia jurnalistik selama 35 tahun, tak membuat Bu Amel lupa akan kodratnya sebagai istri dan ibu dari dua anak.

"Kita orang lapangan harus on time, yang penting berita tidak terlewat dan kita harus bisa membagi waktu untuk keluarga," katanya.

Sebelum berangkat ke lapangan, Bu Amel biasanya mulai memasak dari pukul 04.00 WIB. "Makanya di rumah ada kompor empat tungku, yang satu untuk menumis, satu ngegoreng, satu lagi merebus," katanya.

Begitu pun momen sepulang kantor, terkadang ia berbelanja ke pasar untuk kebutuhan masak keesokan harinya."Kalau tidak sempat kadang suami dan anak-anak beli makanan jadi," ujarnya sambil tertawa.



(ern/ern)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed