DetikNews
Minggu 21 April 2019, 20:34 WIB

Pasien Gagal Ginjal Lolos Jadi Petugas KPPS di Karawang

Luthfiana Awaluddin - detikNews
Pasien Gagal Ginjal Lolos Jadi Petugas KPPS di Karawang Pasien gagal ginjal jadi petugas KPPS/Foto: Luthfiana Awaluddin
Karawang - Proses rekruitmen petugas Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) di Karawang disinyalir berjalan longgar. Sebab tak sedikit lansia dan orang sakit terpilih sebagai petugas KPPS.

Di TPS 38, Karawang Kulon, Kecamatan Karawang Barat misalnya, seorang pasien gagal ginjal terpilih menjadi anggota KPPS. Meski kerap merasa lemas, ia mengaku masih mampu bertugas sebagai KPPS.

"Sebetulnya banyak anak muda yang minat jadi KPPS, tetapi saya terpilih karena masih sanggup. Saya ingin ikut menyukseskan pemilu demi negara," kata Roni Juanda (56) saat ditemui usai pemakaman Agus Mulyadi, sahabatnya sesama KPPS yang meninggal dunia Minggu (21/4/2019).

Kepada detikcom, Roni mengaku sebagai pasien gagal ginjal. Ia mengaku sedang menjalani proses dialisis atau cuci darah hingga saat ini. Roni pun menunjukkan alat cuci darah yang tertanam di tangan kirinya.

Terdapat dua luka bekas lubang di tangannya. Saat disentuh terasa aliran deras dalam selang di bawah kulit pria 56 tahun itu. "Nih pegang, ini alat cuci darah. Saya memang gagal ginjal," kata Roni.

Ia menuturkan, proses rekrutmen petugas KPPS di Karawang Kulon, tak terlalu ketat. Menurut Roni, mengisi formulir kesehatan saat mendaftar jadi anggota KPPS hanya formalitas. "Ada sih cuma kami isi saja sehat tanpa menyertai surat keterangan sehat dari dokter," kata Roni saat ditanya ihwal form pernyataan kesehatan dalam pendaftaran KPPS.

Roni mengaku, tak menyangka tugas KPPS kali ini sangat berat. Dibanding 4 pemilu sebelumnya, kata Roni, pemilu 2019 ini sangat berat. Ia kerap merasa lemas saat bertugas. Apalagi harus menahan kantuk di malam hari. Alhasil, ia kapok menjadi KPPS.

"Saya kapok kalau kayak gini. Saya nggak nyangka kali ini tugasnya berat. Kalau dulu sih masih kuat, sekarang saat sakit ginjal malah pemilunya berat," tutur dia.

Selain Roni, orang sakit di Karawang Kulon yang direktut jadi petugas KPPS adalah Agus Mulyadi, yang meninggal tadi malam. Sebelum pemilu dimulai, Agus mengalami patah pinggang, bahkan pernah bolak - balik rumah sakit.

"Sebelum pemilu dimulai juga almarhum sudah sakit, dia pernah jatuh dari atap rumahnya. Pernah dirawat juga, tapi karena masih semangat, kami masih terima," kata Roni.

Tiga hari lalu, seorang manula berumur 71 tahun, Yaya Suhaya meninggal dunia usai bertugas. Anggota KPPS di TPS 04 Desa Cilewo, Kecamatan Telagasari itu diduga meninggal karena kelelahan.

Melihat fenomena lansia dan orang sakit menjadi petugas KPPS, Ketua KPU Karawang Miftah Farid tak menampik jika proses rekrutmen petugas KPPS tidak ketat.

Menurut Miftah banyaknya lansia yang menjadi petugas KPPS karena dianggap tokoh yang dihormati masyarakat. "Ada kebiasaan di daerah, jika KPPS kebanyakan sudah sepuh karena dianggap tokoh masyarakat yang berperan,"tuturnya.

Ihwal syarat kesehatan kata Miftah, ia mengaku sudah menyiapkan form isian dalam formulir pendaftaran KPPS.

"Dalam formulir pendaftaran, pendaftar harus mengisi ada form pernyataan sehat jasmani dan rohani. Ketika kolom itu diceklis, kami percaya bahwa si pendaftar dalam kondisi fisik yang sehat dibuktikan surat keterangan sehat dari pusesmas atau dokter minimal. Artinya ketika para pendaftar mengisi form itu kami percaya 100 persen peserta yang daftar sehat," tutur dia.

Miftah mengaku bakal Ia bakal memberi usul kepada KPU Pusat supaya ada batasan umur dan memperketat syarat kesehatan bagi masyarakat yang ingin jadi petugas KPPS.

"Batasan usia jadi poin evaluasi karena usia berpengaruh pada kondisi fisik. Saya akan mencatat dan menyampaikan usulan ke KPU pusat untuk mengkaji soal batasan umur dan standar kesehatan dalam rekrutmen KPPS," kata dia.
(ern/ern)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed