DetikNews
Minggu 21 April 2019, 15:25 WIB

Yulianti, Kartini dari Bojongsoang Pejuang Pendidikan ABK

Wisma Putra - detikNews
Yulianti, Kartini dari Bojongsoang Pejuang Pendidikan ABK Foto: Wisma Putra
Kabupaten Bandung - Suasana kelas Dreamable PKBM Al-Hidayah Bojongsoang, Kabupaten Bandung begitu ramai, meski hanya ada lima orang anak berkebutuhan khusus (ABK) mereka nampak nyaman belajar bersama gurunya, Yulianti (36).

Mereka belajar di sebuah ruangan sempit berukuran 3x4 meter, kelima siswa itu bernama Kaka Adam (14), Dika (14), Afdil (12), Yusuf (15) dan Elin (23). Setiap harinya mereka belajar bersama Yulianti dari Pukul 08.00-10.00 WIB.

Saat dikunjungi detikcom, Senin (14/4) lalu, para siswa itu sangat senang, bersama Yulianti mereka belajar bernyanyi, membaca surat-surat pendek Al-Quran dan menari. Mereka juga sangat ceria dan senang ketika Yulianti mengajak menggambar dan mewarnai.

"Ini kelinci," ujar salah satu siswa.

"Ini sapi. Itu bebek," ujar siswa lain menunjuk gambar temannya.
Yulianti, Kartini dari Bojongsoang Pejuang Pendidikan ABKFoto: Wisma Putra

Bersama Yulianti, anak-anak itu bisa kembali ceria seperti anak sebayanya. Sebelumnya, anak-anak itu menghabiskan waktu kecilnya di dalam rumah, murung dan enggan bersosialisai. Bahkan, salah satu siswanya ada yang ketakutan bila melihat banyak orang.

Namun atas kegigihan Yulianti, mereka bisa diajak bersekolah, salah satu muridnya itu kini bisa bersosialisasi dan tidak takut lagi dengan keramaian.

Wanita yang bersuamikan pegawai di Kecamatan Bojongsoang bernama Dede Hermansyah dan memiliki tiga anak bernama Hanif Noval (17), Muhammad tafidz Azaqi (7) 1 dan Wafi Faeza Muharom (15 bulan). Ia patut disebut Kartini muda yang memperjuangkan kesetaraan pendidikan ABK.

Jangan menyerah, semangat itulah yang menjadi modal Yulianti untuk tetap mengobarkan semangat R A Kartini. Ia sudah, menjadi pegiat sosial sekaligus guru bagi puluhan ABK dari Tahun 2014-2015 lalu. Yulianti bisa mengajak 33 ABK yang ada di Kecamatan Bojongsoang untuk bersekolah.

"Sebelum mengajar di sini, dulu saya aktif sebagai pekerja sosial masyarakat di Desa Tegalluar dari sana muncul anak-anak berkebutuhan khusus sebanyak 37 orang. Terus saya ajak sekolah yang tidak sekolah, waktu itu orangtua awam banget tidak mengerti anak seperti ini harus di sekolahkan," kata Yulianti.

Para orangtua yang memiliki ABK diajak Yulianti agar mmenyekolahkanya ke SLB. Ada yang bisa diajak ada yang tidak, bahkan karena keterbatasan biaya dan jarak yang cukup jauh, banyak yang enggan untuk menyekolahkan anaknya.

"Saya ajak, ada yang sekolah di SLB ada juga yang enggak mau menyekolahkan anaknya karena alasan itu. Beberapa orangtua ikuti jejak saya, sesudah itu saya kumpulan lagi dengan orangtau yang belum sekolahkan anaknya, saya tanya kenapa. Mereka jawab karena jauh, karena keseharian dan bermacam-macam," ungkapnya.

Berangkat dari sana dan letak SLB pun cukup jauh jangkauannya, akhirnya Yulianti mengagas untuk membuat tempat belajar bagi anak-anak pengidap tunagrahita yang ada di Kecamatan Bojongsoang dan sekaligus menjadikan rumahnya sebagai tempat mereka belajar.

"Saya kejar paket C dan ambil pendidikan luar biasa di Uninus, alhamdululah sambil menyususn, cari ilmu dan sharing dengan orangtua dan menjalin pendekatan kembali. Tidak ada alasan kalau sudah didekatkan, dua, empat, sampai bertahan enam," ujarnya.

"Sudah ada enam murid yang bisa bersekolah, masih ada orangtua yang enggak mengerti, saya datengin dengan konsep homescholing, saya beri motivasi ke orangtuanya supaya anak-anak nya bisa bersosialisasi dengan orang lain," tambahnya.

Sekitar Tahun 2017 lalu, Yulianti juga membuat kelas lainnya yang ada di Kampung Sibisiro Bojongsoang. "Alhamdulillah dipertemukan dengan Mbak Agnes Pertamina. Dibantu dengan melakukan penjaringan, alhamdulilah jadi 33 ABK dari enam itu mencakup satu kecamatan," ujarnya.

Ia menuturkan, tidak mudah baginya untuk mengajari ABK. Pasalnya, dibutuhkan kesabaran dan ketenangan dalam memberi pengajaran kepada ABK. Menurutnya, anak pertamanya merupakan ABK, dibutuhkan waktu 6-7 tahun agar bisa hidup mandiri.

"Saya bisa mengajari anak saya, tujuan saya mengajak ABK bersekolah agar tidak ada lagi anggpan dan judge bahwa ABK tidak bisa apa-apa. Saya ajarkan mereka kemandirian alhamdulillah udah pada percaya diri, kita latih dan kita bina agar mereka bisa hidup mandiri dalam kesehariannya, seperti mandi, makan, mencuci dan lainnya," jelasnya.

Selain belajar di dalam kelas, mereka juga diajarkan untuk mengenal dunia luar, dengan bermain, berolahraga dan bercocok tanam. "Kita ajak ke kebun binatang, berenang dan bercocok tanam hingga membudidayakan ikan lele," katanya.
Yulianti, Kartini dari Bojongsoang Pejuang Pendidikan ABKFoto: Wisma Putra

Kegiatan belajar mengajar para siswa di Dreamable PKBM Al-Hidayah Bojongsoang dibantu oleh PT Pertamina. Operation HET Terminal BBM Bandung Group PT Pertamina Bambang Suprijino mengatakan, kegiatan nya untuk pendidikan dan melatih enterpreneur anak-anak dreamnable ini, ada yang berkebun dan ada yang berternak.

"Intinya kita berikan edukasi dan meningkatkan kepercayaan adik-adik kita sehingga kedepannya bisa menjadi mausia mandiri. Lebih ditekankan kemandirian, biasannya anak-anak ABK kadang di masyarakat perlakuannya beda sehingga menimbulkan adik-adik ini minder. Kita bangkitkan rasa percaya diri dan mereka bisa mendiri dan bisa ciptakan lapangan kerja," tutupnya.


Simak Juga "Menelusuri Kembali Jejak RA Kartini":

[Gambas:Video 20detik]


(ern/err)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed