DetikNews
Kamis 18 Oktober 2018, 15:57 WIB

Emak-emak di KBB Belajar Deteksi Orang Gangguan Jiwa

Rachmadi Rasyad - detikNews
Emak-emak di KBB Belajar Deteksi Orang Gangguan Jiwa Emak-emak ini terlihat antusias mengikuti rangkaian kegiatan penyuluhan mengenai gangguan jiwa. (Foto: Rachmadi Rasyad/detikcom)
Bandung Barat - Asosiasi Kesehatan Jiwa Anak dan Remaja (Akeswari) Jawa Barat bersama Departemen Ilmu Kedokteran Jiwa Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran (Unpad) menggelar penyuluhan mengenai gangguan jiwa di Kabupaten Bandung Barat (KBB). Kegiatan tersebut berkaitan peringatan Hari Kesehatan Jiwa Sedunia yang jatuh pada 10 Oktober.

Acara berlangsung di Kantor Desa Cihanjuang, KBB, Jawa Barat, ini dihadiri puluhan emak-emak warga desa setempat. Selain penyampaian materi, dilaksanakan simulasi penanganan penderita gangguan kejiwaan. Emak-emak ini terlihat antusias mengikuti rangkaian kegiatan.

Kepala Departemen Ilmu Kedokteran Jiwa Unpad Veranita Pandia menjelaskan penyuluhan tersebut bertujuan agar masyarakat dapat mendeteksi gangguan kejiwaan yang diidap anak sejak usia dini. Pendeteksian terhadap anak-anak, sambung dia, caranya memperhatikan aspek kognitif, sosial, dan komunikasi.

"Gangguan jiwa akan lebih baik dikenali atau dideteksi sejak anak usia dini. Dengan cara melihat perkembangan anak khususnya kognitif, sosial dan komunikasi. Apabila anak mengalami gangguan dalam perkembangan ketiga domain ini rentan terhadap gangguan jiwa," kata Veranita ketika ditemui usai kegiatan.

Emak-emak di KBB Belajar Deteksi Orang Gangguan KejiwaanKepala Departemen Ilmu Kedokteran Jiwa Unpad Veranita Pandia (Foto: Rachmadi Rasyad/detikcom)
Lebih lanjut, dia menjelaskan, terdapat tiga ciri yang terlihat seseorang mengalami gangguan kejiwaan. "Apabila sudah mengalami gangguan jiwa, seseorang akan mengalami gangguan fungsi merawat diri. Dia tidak mau mandi, tidak mau makan, gangguan tidur, dan juga gangguan fungsi sosial yaitu menarik diri dari lingkungan sosial, tidak mau ke luar rumah, tidak mau bergaul dengan teman atau keluarga. Selain itu, juga mengalami gangguan fungsi belajar atau bekerja," tuturnya.

Menurut Veranita, deteksi terhadap gangguan kejiwaan sejak usia dini begitu penting. Sebab, berdasarkan data yang dirilis WHO pada 2016, jutaan orang kategori anak hingga lanjut usia di dunia mengalami gangguan kejiwaan. Mereka mengalami gangguan jiwa ringan hingga berat. Padahal, dia menjelaskan, anak-anak serta pemuda dan pemudi ialah generasi penerus bangsa.

"Data WHO 2016 terdapat sekitar 35 juta orang terkena depresi, 65 juta orang mengalami bipolar, 21 juta orang mengalami skizofrenia (gangguan jiwa berat) di dunia," ujar Veranita.

Dia berharap ke depannya masyarakat memperhatikan kesehatan jiwa anak sejak dini agar penanganannya terpantau. Kalau pun memang ada di lingkungannya orang menderita gangguan kejiwaan, dia berharap masyarakat tidak menjauhi.

"Seharusnya masyarakat tidak menghindar jika tahu ada orang di sekitarnya yang kesehatan jiwanya terganggu. Tetapi merangkul mereka atau membawa untuk berobat ke rumah sakit," ucap Veranita.

Di lokasi sama, Kader Posyandu RW 12 Desa Cihanjuang, Ai Suryani (44), mengaku baru pertama kalinya mendapat pelatihan mengenai kejiwaan. Hasil penyuluhan ini, dia mendapat manfaat berupa ilmu mengenai cara mendeteksi gangguan jiwa, terutama pada anak-anak.

"Saya dapat lebih banyak pengetahuan mengenai deteksi dini kejiwaan dari mulai anak sampai dewasa. Alhamdulillah, ke depan saya dan rekan-rekan akan mengembangkan langsung," kata Ai.
(bbn/bbn)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed