Mengenal Proyek Ducting di Kota Bandung Senilai Rp 1,3 Triliun

Tri Ispranoto - detikNews
Rabu, 26 Sep 2018 16:20 WIB
Foto: Ilustrasi ducting
Bandung - Dalam waktu dekat proyek ducting senilai Rp 1,3 triliun yang dilakukan oleh BUMD Kota Bandung, PT Bandung Infra Investama (BII) segera dimulai. Sebenarnya apa itu ducting?

Juru bicara PT BII Bulgan Alamin menjelaskan proyek ducting secara singkat yaitu memindahkan seluruh kabel fiber optik yang saat ini menggunakan sistem kabel udara dengan tumpuan tiang ke bawah tanah menggunakan satu saluran terpadu.

"Ducting itu jadi sebuah saluran fiber optik untuk Teknologi Informasi Dan Komunikasi (TIK). Jadi yang di atas-atas (kabel udara) itu masuk ke satu saluran bawah tanah," ujar Bulgan saat berincang dengan detikcom, Rabu (26/9/2018).

Melalui saluran tersebut fiber optik akan mentransmisi data dalam bentuk suara, data umum dan video atau lebih dikenal dengan teknologi triple play. Teknologi tersebut lebih canggih dibanding sebelumnya yang menggunakan copper atau tembaga.

"Dengan fiber optik seluruh data 2g, 3g atau 4g itu bisa cepat dan tanpa batas atau unlimited. Jadi ibarat ini jalan tol, semua (data) bisa masuk dan cepat," katanya.

Pada awalnya, kata Bulgan, pola kabel bawah tanah sudah ada namun tidak terorganisir secara baik. Bahkan seiring waktu jumlah perusahaan bidang TIK semakin banyak sehingga kabel semakin tidak beraturan dan kerap terjadi gangguan.

Akhirnya sekitar tahun 2000an pemerintah telah melarang sistem kabel bawah tanah. Sehingga pengusaha mengalihkan ke sistem kabel udara dengan media tiang seperti saat ini.

"Tapi, pemerintah melihat tiang-tiang ini semakin banyak dan tidak beraturan. Akhirnya tahun 2013 muncul Perwal untuk menurunkan kabel dari atas (udara) ke bawah (tanah) dengan catatan setelah ada sistem ducting bersama," ujarnya.

Saat itu, kata Bulgan, pemerintah telah memiliki Detail Engineering Desain (DED) peta jaringan ducting. Hanya saja implementasi program tersebut terhambat karena anggaran Pemkot Bandung yang terbatas.

Untuk merealisasikan hal tersebut, pada tahun 2016 keluar Perda perndirian BUMD PT BII. Sekitar tahun 2018, PT BII melakukan evaluasi secara menyeluruh pada program ducting mulai dari sisi kebijakan teknis, pola bisnis hingga mencari investor untuk membiayai proyek ducting yang mencapai Rp 1,3 triliun.

"Kita lakukan seleksi investor secara finansial, teknis, administrasi, kesiapan dan lain-lain. Artinya kita ingin yang faham betul dan siap mengenai TIK ini," ucapnya.

Berjalannya waktu, terpilihlah PT Mora Telematika Indonesia (Moratelindo) yang akan membiayai seluruh proyek tanpa membebani APBD Kota Bandung. Pemilihan tidak lepas dari pengalaman Moratelindo dalam proyek Sambungan Kabel Laut (SKL) fiber optik program ring barat dan ring timur dari Kemenkominfo.

"Dan sekarang (proyek ducting) sudah siap dikerjakan," ujar Bulgan.

Setelah proyek ini selesai dikerjakan, maka kabel udara yang kerap seliweran dan mengganggu estetika akan jarang terlihat. Sebab seluruh kabel untuk kebutuhan TIK sudah tertanam di tanah, dan di udara hanya menyisakan kabel listrik PLN. (tro/mud)