detikNews
Senin 23 April 2018, 15:20 WIB

Pilgub Jabar 2018

Pilihan Bisa Berubah, Pengamat: Jangan Mudah Percaya Survei

Mukhlis Dinillah - detikNews
Pilihan Bisa Berubah, Pengamat: Jangan Mudah Percaya Survei Foto: Mochamad Solehudin
Bandung - Cagub nomor urut dua Tb Hasanuddin menilai hasil survei Pilgub Jabar yang publikasikan selama ini merupakan pesanan dan tidak valid. Ia menantang sejumlah lembaga survei bekerja independen. Benarkah?

Pengamat politik Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Karim Suryadi menuturkan ada etika umum yang harus dipenuhi lembaga survei dalam mempublikasikan hasil kerja di lapangan. Terutama transparansi cara kerja di lapangan.

"Harus menjelaskan metodologi surveinya, bagaimana menjaring responden, mengkontruksi pertanyaannya dan margin of errornya berapa. Kalau gak seperti itu harus diwaspadai," kata Karim saat dihubungi vua telepon genggam, Senin (23/4/2018).

Menurutnya lembaga survei memang diperbolehkan menerima donasi untuk membiayai surveior. Namun, sambung dia, dengan catatan donasi tersebut jangan sampai mempengaruhi hasil survei atau disebut pesanan.

"Dalam lembaga seperti itu harus dibedakan unit redaksi dan usaha. Analoginya, lembaga survei boleh menerima bayaran, tapi jangan mempengaruhi hasil. Kalaupun sebuah lembaga survei mau dibayar, mereka sedang menggali kuburannya sendiri," ungkap dia.

Ia menegaskan hasil survei jangan dijadikan referensi utama untuk mengetahui situasi pemilih saat ini. Pasalnya, sambung dia, terkadang responden survei tidak menjawab setiap pertanyaan sesuai dengan pilihannya nanti.

Selain menyangkut budaya komunikasi, kata dia, preferensi politik masyarakat di Indonesia belum terbangun. Sehingga, sambung dia, masyarakat cenderung menentukan pilihannya detik-detik terakhir menuju pencoblosan.

"Ketika (responden) ditanya (surveior), belum tentu menjawab sesuai nurani, tapi jawabannya untuk menjaga perasaan penanya. Selain itu preferensi politik tidak dibentuk dari awal, mereka cenderung memilih pada saat terakhir," jelas dia.

Ia mengatakan hasil survei tidak menjamin kemenangan saat pemilihan nanti. Sebab, sambung dia, survei berbeda dengan exit poll yang memiliki pembanding secara elektronik atau manual.

"Kalau survei gak ada pembandingnya. Itu alasan jangan mudah percaya dengan survei. Survei bisa salah bisa karena metodologi, atau budaya komunikasi atau preferensi politiknya. Survei lebih dijadikan political branding atau marketing," ujar Karim.


(ern/ern)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com