DetikNews
Kamis 18 Januari 2018, 10:23 WIB

Kisah Mur, Nenek Sebatang Kara yang Tinggal di Gubuk Cirebon

Sudirman Wamad - detikNews
Kisah Mur, Nenek Sebatang Kara yang Tinggal di Gubuk Cirebon Nenek sebatang kara/Foto: Sudirman Wamad
Cirebon - Mursino (67) tergelat lemah di tempat tidurnya. Lengan kirinya menutup mata. Sesekali menggaruk daun telinganya. Nenek yang karib disapa Mur ini hanya bisa menyahut saat orang berkunjung ke rumahnya.

Kondisi Mur sangat memprihatinkan. Mur pun tak nyambung saat diajak bicara, karena organ pendengaran Mur tak lagi berfungsi alias tuli. Mata Mur juga tak bisa melihat.

Mur hidup sebatang kara. Mur tinggal di Blok Karangmoncol Desa Panguragan Kulon, Kecamatan Panguragan, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat. Lokasinya tidak jauh dari gudang pengelola limbah medis yang disegel Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).
Rumah Nenek MurRumah Nenek Mur Foto: Sudirman Wamad

Mirisnya, tempat tinggal Mur lebih mirip tempat penyimpanan rongsok, yang memang rongsok menjadi salah satu mata pencaharian warga Kecamatan Panguragan. Mur hanya tinggal di gubuk berdinding geribik, luasnya sekitar 2x3 meter. Hanya beratap asbes. Gubuk itu hanya ada satu ruangan yang dijadikan sebagai tempat tidur dan ruang utama.

Di dalamnya, cuma ada kasur dan pakaian milik Mur. Jumlahnya tak banyak dan berserakan. Puluhan tahun Mur hidup di gubuk yang hanya beralaskan tanah. Tak ada kamar mandi di dalamnya. Tapi, di samping gubuk milik Mur itu hanya ada ember dan gayung. Lokasi gubuk milik Mur itu persis di samping jalan.

Saat detikcom berkunjung ke gubuknya, raut wajah Mur terlihat pasrah. Mur hanya terbaring di tempat tidur. Ada plastik warna hitam di tempat tidur Mur, tepat berada di sampingnya. Mur tidur di atas dipan yang tingginya sekitar 30 sentimer dengan beralas kasur dan karpet. Di bawah dipannya banyak kapuk berserakan.

Salah seorang sahabat Mur, Saluna (68) kerap membantu keseharian Mur belakangan ini. Selain Saluna, Mur kerap dibantu oleh seseorang yang dianggap sebagai keponakan Mur.

"Biasanya ponakannya, itu juga bukan keponakan kandung. Orang dekatnya Bi Mur cuma sering bantu," kata Saluna saat ditemui detikcom di gubuk Mur, Rabu (17/1/2018).

Saluna mengatakan sekitar 20 tahun lebih Mur hidup di gubuk tersebut. Di mata Saluna, Mur dikenal sosok yang rajin ibadah. Dulu, saat Mur masih bisa melihat secara normal, dikatakan Saluna, setiap azan berkumandang Mur langsung bergegas menuju musala.

"Sekarang mah kalau ngobrol tak nyambung. Sudah tak bisa mendengar, dulu itu waktu ke sini masih normal. Giginya masih penuh," kata nenek yang karib disapa Una itu.

Una mengatakan sudah dua tahun lebih Mur tak bisa keluar untuk menjalankan aktivitas, seperti ke musala atau sekadar beres-beres gubuk. Una pun kerap menyuapi Mur saat makan.

"Alhamdulillah, banyak orang baik yang ngasih jajan atau untuk makan. Ya kadang saya dan ponakannya itu yang bantuin Bi Mur. Tadi juga saya habis beres-beres gubuk," kata nenek berkurung ungu itu.

Dipan Anyar Untuk Mur

Hari ini, Mur mencicipi dipan anyarnya. Bau tak sedap di gubuk Mur mendadak hilang. Karbol ditabur di sudut-sudut gubuk. Mur tetap terbaring dengan raut wajah terlihat pasrah.

Rupanya karbol dan dipan anyar itu pemberian dari salah seorang bos rongsok di Kecamatan Panguragan. Namanya Kusyono (56). Bos rongsok ini merupakan tetangga desa Mur, tepatnya warga Desa Panguragan Wetan, Kecamatan Panguragan, Kabupaten Cirebon.

Kusyono dikenal dermawan. "Pak Haji (Kusyono) memang orang baik. Awalnya Pak Haji lewat depan gubuk, dikira Pak Haji tempat penyimpanan rongsok. Terus Pak Haji berhenti, ngobrol sebentar terus pulang," kata Saluna.

Kusyono pun menimpali perkataan Mur, yang memang saat itu berada di lokasi usai memberikan dipan anyar dan kebutuhan pokok untuk Mur. Kusyono menitipkannya kepada Saluna.

"Saya kaget, loh ada orang di dalam. Posisi Bi Mur sedang meringkuk. Saya sedih lihatnya, waktu itu kasurnya berada di tanah," kata Kusyono.

Kusyono memiliki niatan untuk membantu Mur. Ia bakal menjamin kebutuhan pokok untuk Mur. "Ya tadi memang ngasih dipan ukurannya 1x2 meteran. Insyallah saya jamin, tadi saya titipkan untuk Bi Mur ke Mak Una, karena ponakannya sedang tidak ada," tutupnya.

Kusyono mengurungkan niatnya untuk merenovasi gubuk Mur. Pasalnya, gubuk milik Mur dibangun di atas tanah milik pemerintah. Namun, ia tetap membantu Mur untuk memenuhi kesehariannya.

"Ya jangan, (tanah) ini kan milik pemerintah. Biar saja, Insya Allah dijamin kalau soal kebutuhan pokoknya mah," tutupnya.



(avi/avi)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed