DetikNews
Senin 11 Desember 2017, 20:08 WIB

Warga Bandung Sebentar Lagi Bisa Komplain via Aplikasi

Tri Ispranoto - detikNews
Warga Bandung Sebentar Lagi Bisa Komplain via Aplikasi Foto: Tri Ispranoto
Bandung - Dalam waktu dekat Pemkot Bandung bakal mempunyai sebuah aplikasi yang bisa menampung berbagai keluhan melalui aplikasi berbasi peta, Geographic Information System (GIS).

Wali Kota Bandung Ridwan Kamil mengungkapkan saat ini Pemkot Bandung terpilih oleh Bank Pembangunan Asia sebagai satu dari 10 kota di dunia yang menerima hibah teknologi GIS.

Menurut pria yang akrab disapa Emil itu, melalui program GIS masyarakat bisa mencurahkan segala bentuk keluhan atau permasalahan yang akan langsung diterima oleh pemerintah. Berbeda dengan aplikasi lain, nantinya GIS akan memunculkan peta tempat keluhan atau permasalahan itu terjadi.

"Jadi melalui teknologi peta ini kita bisa memberikan input untuk mengambil keputusan terbaik," ujar Emil kepada wartawan usai workshop GIS di Pendopo Kota Bandung, Senin (11/12/2017).

Melalui aplikasi ini Pemkot Bandung juga bisa meminimalisir terjadinya laporan palsu. Sebab semua yang dikeluhkan oleh warga akan langsung terlihat dari mana asalnya melalui data yang terdapat pada peta.

"Nanti sambil komplain, sambil share location. Jadi meminimalisir terjadi laporan palsu," ucapnya.

Selain sebagai wadah baru komplain warga, GIS juga akan membantu pemerintah dalam mengambil sebuah keputusan. Hal itu lantaran GIS bisa memunculkan data setiap daerah secara real.

Contohnya, kata Emil, saat ini pemerintah memukul rata bantuan bagi setiap RW sebesar Rp 100 juta. Padahal setiap RW memiliki kebutuhan dan tingkat populasi yang berbeda sehingga dengan GIS bantuan yang tersalurkan akan merata sesuai kebutuhan.

"Kalau saat ini kan masih pukul rata, karena susah tidak ada datanya," katanya.

Contoh lain adalah komplain yang selama ini kerap diterimanya yaitu soal kemacetan. Setelah disurvei ternyata kemacetan paling banyak terjadi di wilayah Bandung Timur. Melalui aplikasi GIS maka penanganan masalah kemacetan bisa digeser ke Bandung Timur dan tidak bisa dipukul rata dengan daerah lain.

Rencananya teknologi yang sudah diterapkan di Swiss dan Singapura ini akan diterapkan di Kota Bandung pada triwulan pertama tahun 2018 mendatang.

"Diharapkan aplikasi ini bisa dipakai untuk mencapai pembangunan yang lebih baik, efisien dan murah," tandas Emil.
(ern/ern)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed