DetikNews
Selasa 24 Oktober 2017, 22:09 WIB

RS Slamet dan PMI Garut Ungkap Penyebab Labu Darah Kedaluwarsa

Hakim Ghani - detikNews
RS Slamet dan PMI Garut Ungkap Penyebab Labu Darah Kedaluwarsa Pertemuan pihak RSUD Slamet dan PMI Garut. (Foto: Hakim Ghani/detikcom)
Garut - Palang Merah Indonesia (PMI) Garut bertemu dengan perwakilan RSUD dr. Slamet Garut untuk membahas ratusan labu darah yang tersia-siakan karena kedaluwarsa. Pertemuan berlangsung di ruang rapat Komisi D DPRD Garut.

Perwakilan dari RSUD dr. Slamet dipimpin langsung oleh direkturnya Maskut Farid. Sedangkan perwakilan PMI Garut dikomandoi Kepala Unit Transfusi Darah Rahmat Wijaya. Dalam pertemuan tersebut kedua belah pihak membeberkan pendapatnya terkait ratusan labu darah yang kedaluwarsa. Kedua belah pihak tak ingin disalahkan terkait masalah ini.

Selepas acara Maskut memberikan keterangannya. Ia menyebut kedaluwarsanya labu darah itu diakibatkan karena kurangnya komunikasi. Maskut juga menjelaskan tidak ada yang salah dengan kerja sama pihaknya dengan PMI Kabupaten Bandung.

"MoU (dengan PMI Kab. Bandung) itu kan dari Januari (2017). Sementara yang rusak (kedaluwarsa) dua bulan saja, kenapa tidak dari Januari. Jadi hanya kurang koordinasi saja," tutur Maskut kepada wartawan di gedung DPRD Garut, Jalan Patriot, Tarogong Kidul, Kabupaten Garut, Jawa Barat, Selasa (24/10/2017).

Baca juga: Kedaluwarsa, Ratusan Labu Darah di PMI Garut Dibuang

Ia mengungkapkan kerja sama yang dijalin antara pihaknya dengan PMI Kabupaten Bandung lantaran kurangnya pasokan darah dari PMI Garut.

"Minta 200 dikasihnya 100 atau 90. Enggak jarang pasien harus beli langsung ke Bandung. Padahal itu kan seharusnya tidak boleh," ujar Maskut.

Kini pihaknya telah kembali berkomitmen dengan PMI Garut untuk tetap mensuplai kebutuhan darah. Namun Maskut tetap tidak akan menghentikan kerja sama dengan PMI Kabupaten Bandung guna mengantisipasi kekurangan.

"Tiap bulan kami butuh 1.200 labu darah," kata Maskut.

Kepala Unit Transfusi Darah PMI Garut Rahmat Wijaya mengatakan RSUD dr. Slamet Garut menyalahi etika dalam penyediaan labu darah dengan bekerja sama dengan PMI Kabupaten Bandung.

Hal tersebut mengakibatkan lebih dari dua ratus labu kedaluwarsa pada September dan Agustus 2017. Gara-gara masalah ini PMI Garut mengklaim mengalami kerugian mencapai Rp 80 juta.

"Jelas rugi atas kedaluwarsa darah itu. Satu labu itu jika diuangkan seharga Rp 330 ribu. September saja ada 235 labu. Kemudian ada biaya membuang darah kedaluwarsa sebesar Rp 10 ribu per labu," tutur Rahmat.

Ketua Komisi D DPRD Garut Asep D Maman menyayangkan adanya kejadian ini. Ia menyebut kerja sama RSUD dr. Slamet Garut dengan PMI Kabupaten Bandung menyalahi aturan.

"Jika akan mengambil darah ke (PMI) Kabupaten Bandung tidak harus dilakukan pihak rumah sakit, tapi bisa melalui jejaring PMI Garut," katanya.

"Kebutuhan darah juga siap dipenuhi PMI (Garut), tapi minta waktu dua hari. Jadi tidak hari ini minta harus ada, tidak seperti itu," ucap Asep.
(bbn/bbn)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed