DetikNews
Sabtu 19 Agustus 2017, 20:19 WIB

Berani Melesat 50 Km/Jam Tanpa Rem? Coba Ikut Balap Lori di Sukabumi

Syahdan Alamsyah - detikNews
Berani Melesat 50 Km/Jam Tanpa Rem? Coba Ikut Balap Lori di Sukabumi Foto: Syahdan Alamsyah
Sukabumi - Ratusan warga dari tiga kecamatan di Kabupaten Sukabumi Jawa Barat bersorak begitu pembalap Lori, begitu mereka menyebutnya, melesat dengan kecepatan tinggi. Berbekal kemudi alakadarnya tubuh mereka ikut meliuk melewati tiap lintasan berkelok. Kegiatan balap Lori ini bagian dari memeriahkan HUT RI ke 72.

Kendaraan lori yang dipacu untuk balapan terbuat dari kayu dan bambu. Bagian jok menggunakan karet ban bekas sementara di bagian kaki hanya ada tiga buah ban. Dua ban kecil di belakang dan satu ban berukuran besar di depan. Dengan kondisi seperti itu Lori mampu melaju dengan kecepatan hingga 50 kilometer per jam, dengan panjang lintasan 300 meter.

Kemudi hanya mengandalkan dua bilah bambu diikat karet bagian atasnya. Ketika melintasi belokan tajam tidak sedikit pembalap yang bersenggolan dengan rekannya kemudian jatuh bergulingan. Namun jangan khawatir petugas medis mulai dari Puskesmas dan tukang urut patah tulang sudah disiapkan oleh pihak panitia.

Berani Melesat 50 Km/Jam Tanpa Rem? Coba Ikut Balap Lori di SukabumiFoto: Syahdan Alamsyah

"Kegiatan ini biasanya rutin dilakukan setiap satu tahun sekali, melibatkan warga di beberapa desa di tiga kecamatan yakni Kecamatan Cicantayan, Cisaat dan Cibadak. Sempat vakum pada tahun 2008 lalu dan coba kami hidupkan kembali tahun ini," kata Riki Saputra, ketua pelaksana 'Lori Race' kepada detikcom di Kampung Cimenteng, Desa Pada Asih, Kecamatan Cisaat, Sabtu (19/8/2017).

Dikatakan Riki, kegiatan Lori Race adalah olahraga warisan leluhur kampung setempat yang dilestarikan oleh generasi penerusnya. "Ini mengandalkan keberanian, menguji adrenalin karena saat mereka melesat dengan kecepatan tinggi tanpa adanya rem hanya mengandalkan sepatu yang mereka pakai," lanjut Riki yang juga anggota kepolisian yang bertugas di Secapa Polri ini.

Setiap ada pembalap yang terjatuh, warga bersorak memberikan semangat agar pembalap itu bangkit kembali. Jika terluka panitia dengan sigap membopong mereka hingga ke area medis.

Meski membutuhkan keberanian dan menguras adrenalin, balapan ini tidak hanya diikuti oleh kaum pria saja. Nia Dwi Sania (20) satu-satunya perempuan dari 57 peserta yang mengikuti balapan lori.

"Lumayan ngeri juga, cuma karena udah latihan sebelumnya jadi udah biasa. Apalagi didukung suami yang ikut memberikan semangat," ujarnya.

Nia hanya menempati urutan kedua, meski tidak masuk nominasi ke final Nia merasa senang karena ikut memeriahkan balapan lori ini. "Sorak sorainya bikin heboh, makanya asik-asik aja meskipun tidak jadi juara," tutup dia.

Balap Lori ini akan berlangsung hingga Minggu (20/8/2017) besok untuk putaran final. Untuk juara pertama akan mendapat hadiah sebesar Rp 1 Juta, juara kedua Rp 750 ribu, juara ketiga Rp 500 ribu dan juara favorit Rp 300 ribu.
Ratusan warga dari tiga kecamatan di Kabupaten Sukabumi Jawa Barat bersorak begitu pembalap Lori, begitu mereka menyebutnya, melesat dengan kecepatan tinggi. Berbekal kemudi alakadarnya tubuh mereka ikut meliuk melewati tiap lintasan berkelok. Kegiatan balap Lori ini bagian dari memeriahkan HUT RI ke 72.

Kendaraan lori yang dipacu untuk balapan terbuat dari kayu dan bambu. Bagian jok menggunakan karet ban bekas sementara di bagian kaki hanya ada tiga buah ban. Dua ban kecil di belakang dan satu ban berukuran besar di depan. Dengan kondisi seperti itu Lori mampu melaju dengan kecepatan hingga 50 kilometer per jam, dengan panjang lintasan 300 meter.

Kemudi hanya mengandalkan dua bilah bambu diikat karet bagian atasnya. Ketika melintasi belokan tajam tidak sedikit pembalap yang bersenggolan dengan rekannya kemudian jatuh bergulingan. Namun jangan khawatir petugas medis mulai dari Puskesmas dan tukang urut patah tulang sudah disiapkan oleh pihak panitia.

"Kegiatan ini biasanya rutin dilakukan setiap satu tahun sekali, melibatkan warga di beberapa desa di tiga kecamatan yakni Kecamatan Cicantayan, Cisaat dan Cibadak. Sempat vakum pada tahun 2008 lalu dan coba kami hidupkan kembali tahun ini," kata Riki Saputra, ketua pelaksana 'Lori Race' kepada detikcom di Kampung Cimenteng, Desa Pada Asih, Kecamatan Cisaat, Sabtu (19/8/2017).

Dikatakan Riki, kegiatan Lori Race adalah olahraga warisan leluhur kampung setempat yang dilestarikan oleh generasi penerusnya. "Ini mengandalkan keberanian, menguji adrenalin karena saat mereka melesat dengan kecepatan tinggi tanpa adanya rem hanya mengandalkan sepatu yang mereka pakai," lanjut Riki yang juga anggota kepolisian yang bertugas di Secapa Polri ini.

Setiap ada pembalap yang terjatuh, warga bersorak memberikan semangat agar pembalap itu bangkit kembali. Jika terluka panitia dengan sigap membopong mereka hingga ke area medis.

Meski membutuhkan keberanian dan menguras adrenalin, balapan ini tidak hanya diikuti oleh kaum pria saja. Nia Dwi Sania (20) satu-satunya perempuan dari 57 peserta yang mengikuti balapan lori.

"Lumayan ngeri juga, cuma karena udah latihan sebelumnya jadi udah biasa. Apalagi didukung suami yang ikut memberikan semangat," ujarnya.

Nia hanya menempati urutan kedua, meski tidak masuk nominasi ke final Nia merasa senang karena ikut memeriahkan balapan lori ini. "Sorak sorainya bikin heboh, makanya asik-asik aja meskipun tidak jadi juara," tutup dia.

Balap Lori ini akan berlangsung hingga Minggu (20/8/2017) besok untuk putaran final. Untuk juara pertama akan mendapat hadiah sebesar Rp 1 Juta, juara kedua Rp 750 ribu, juara ketiga Rp 500 ribu dan juara favorit Rp 300 ribu.
(ern/ern)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed