DetikNews
Senin 17 Juli 2017, 18:21 WIB

MUI Mencatat Ada 144 Aliran Sesat yang Muncul di Jabar

Mochamad Solehudin - detikNews
MUI Mencatat Ada 144 Aliran Sesat yang Muncul di Jabar Foto: Ilustrasi Majelis Ulama Indonesia (Ari Saputra/detikcom)
Kota Bandung - Majelis Ulama Indonesia Jabar menyebut Provinsi Jabar adalah tempat subur tumbuhnya aliran sesat. Sampai saat ini saja MUI mencatat ada 144 aliran sesat yang sempat muncul di provinsi ini.

Sekretaris MUI Jabar Rafani Achyar mengatakan, jumlah itu adalah yang tercatat dan alirannya sempat muncul. Namun, pihaknya harus kembali memastikan jumlah tersebut. Pasalnya dari 144 yang tercatat, diperkirakan ada yang berganti nama atau reinkarnasi dari aliran sesat sebelumnya.

Contohnya saja, kata dia, aliran Gafatar yang merupakan hasil reinkarnasi dari Alqiadah Al Islamiah. Ada juga yang berganti nama dengan nama baru. "Jadi kalau dikumpulkan semua (mungkin) tidak sampai segitu," katanya, saat dihubungi, Senin (17/7/2017).

Rafani menuturkan, berbagai jenis aliran sesat dengan berbagai modus pernah ditemukan MUI Jabar. Seperti di Pangandaran ada kelompok yang melakukan salat menghadap ombak, aliran sesat pimpinan Sensen Koswara di Kabupaten Garut juga kasus yang mengaku sebagai nabi di Karawang.

"Modusnya juga beragam pertama ada doktrin cepat masuk surga. Kalau ada ketaatan kepada pimpinannya dijamin masuk surga. Sampai ada aliran Surga Eden di Cirebon doktrinnya itu kalau mau cepat masuk pengikut perempuannya itu harus mau digauli oleh pimpinannya dan itu terjadi," ujarnya.

Melihat dari data yang ada, dia meyakini Jawa Barat adalah tempat subur tumbuhnya aliran sesat. Terlebih Jawa Barat ini adalah provinsi dengan jumlah penduduk paling banyak mencapai 46 juta jiwa. "Dalam teori sosial itu, di tengah kepadatan berbagai pelanggaran gampang katanya," ucapnya.

Menurutnya ini tantangan umat Islam untuk tetap menjaga kemurnian agama Islam. Pihaknya meminta semua pihak seperti ulama, tokoh agama dan ormas Islam untuk lebih meningkatkan kembali dakwah di tengah masyarakat.

"Saya ingin ormas-ormas Islam ini mengadakan dialog dakwah untuk menyamakan visi untuk menghadapi gejala-gelaja aliran sesat ini. Jadi kehadiran ulama, ustad harus lebih insten lagi," katanya.

Pihaknya juga meminta pemerintah lebih berperan dalam menjaga kemurnian agama. Jangan sampai aliran sesat ini tumbuh berkembang merusak akidah masyarakat. "Peran pemerintah itu ada. Sebab peran pemerintah itu harus menjamin kemurnian agama itu sudah tuntutan konstitusi. Jadi enggak boleh pemerintah lepas tangan," ujarnya.




(avi/avi)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed