DetikNews
Kamis 20 Apr 2017, 18:00 WIB

Sampai Sidang ke-10, Anak Tetap Lanjutkan Gugat Ibu Rp 1,8 M

Hakim Ghani - detikNews
Sampai Sidang ke-10, Anak Tetap Lanjutkan Gugat Ibu Rp 1,8 M Suasana sidang/Foto: Hakim Ghani
Garut - Lanjutan persidangan kasus seorang ibu di Garut, Jawa Barat, bernama Siti Rohaya (83) yang digugat Rp 1,8 M oleh anak kandung dan menantunya Yani Suryani dan Handoyo Adianto, kembali digelar di Pengadilan Negeri Garut, kamis (20/4/2017).

Dalam persidangan ke-10 tersebut, tidak terlihat Yani Suryani selaku penggugat. Padahal, sebelumnya majelis hakim meminta kedua prinsipal yang berlawanan untuk hadir di persidangan.

Dari pihak penggugat hanya dihadiri oleh Handoyo Adianto selaku penggugat dan seorang kuasa hukumnya. Sementara it, Siti Rohaya alias Amih juga tidak hadir dalam persidangan kali ini. Keluarga memberikan pernyataan bahwa Amih akan hadir ke persidangan jika sang anak yang menggugatnya Yani Suryani juga datang.

"Kalau teh Yani datang, Amih juga akan datang. Kasian Amih, kemarin juga kan bela-belain datang meskipun sakit tapi teh Yani gak datang," ungkap anak ke-11 Amih, Eep Rusdiana kepada detikcom sebelum persidangan dimulai di Pengadilan Negeri Garut.

Majelis hakim yang diketuai Endratno Rajamai membuka persidangan sekitar pukul 10.30 WIB. Ruangan persidangan dipenuhi oleh puluhan keluarga dan rekan-rekan Amih dan Asep Rohendi selaku tergugat. Tim kuasa hukum tergugat menghadirkan 8 orang saksi. 1 orang saksi fakta dan 7 orang lainnya merupakan saksi petunjuk. Namun kesaksian para saksi tersebut batal dilakukan karena dua orang dari pihak ketiga yang turut hadir dalam persidangan, melakukan gugatan intervensi kepada penggugat.

"Jadi kami melakukan gugatan intervensi kepada penggugat dalam hal ini pak Handoyo, terkait sertifikat rumah yang digugat pak Handoyo. Kami menggugat intervensi itu karena sejatinya rumah tersebut merupakan milik suami dari ibu Amih yaitu Adang Ranudinata, karena pak Adang sudah meninggal, dalam perjanjian itu harus ada tanda tangan dari 13 anak pak Adang selaku ahli waris, ini kan tidak ada," ungkap salah seorang penggugat intervensi, Sepranadja, kepada wartawan seusai persidangan berlangsung.

Sementara itu, Handoyo Adianto dalam persidangan mengungkapkan alasan ia dan istrinya melanjutkan perkara ini hingga ke persidangan. Dikatakannya, ada tuntutan dari beberapa pihak, yang memintanya untuk membuka kasus ini seterang-terangnya.

"Ada pihak yang menuntut kami untuk membuka kasus ini seterang-terangnya. Karena sebelumnya kami dituduh memodifikasi kasus lah, minta tanda-tangan secara sembunyi-sembunyi lah yang itu semua tidak benar. Jadi kita buktikan di persidangan ini," ungkapnya dalam persidangan.

Persidangan yang berlangsung di ruangan utama (Garuda) Pengadilan Negeri Garut, yang terletak di Jalan Merdeka, Kecamatan Tarogong Kidul, Garut ini juga sempat beberapa kali mendapat teguran dari majelis hakim, karena para hadirin yang menyaksikan persidangan beberapa kali meneriaki pihak penggugat.

Di persidangan ini juga, kuasa hukum tergugat, Johan Djauhari sempat menangis haru di tengah-tengah jalannya persidangan. Johan menangis saat menceritakan pihaknya kecewa lantaran Yani Suryani selaku anak yang menggugat Amih tidak hadir dalam persidangan. Sontak seisi ruanganpun menjadi mengharu biru, beberapa pengunjung ikut menitikan air mata. Bahkan salah seorang anggota majelis hakim pun terlihat terkaca-kaca.

Setelah hampir 90 menit berlangsung akhirnya, majelis hakim memutuskan untuk menunda persidangan. Sidang lanjutan yang ke-11 akan dilaksanakan Rabu (26/4/2017) mendatang dengan agenda pendengaran jawaban pihak Handoyo (penggugat) atas gugatan intervensi yang dilayangkan pihak ke-3.


(ern/ern)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed