DetikNews
Kamis 23 Maret 2017, 16:41 WIB

Polisi Bongkar Mafia Pergudangan Pupuk Bersubsidi di Purwakarta

Mukhlis Dinillah - detikNews
Polisi Bongkar Mafia Pergudangan Pupuk Bersubsidi di Purwakarta Foto: Mukhlis Dinillah
Purwakarta - Polisi berhasil membongkar mafia pergudangan pupuk bersubsidi di Kabupaten Purwakarta. Polisi mengamankan enam orang pelaku beserta barang bukti 70 ton pupuk bersubsidi berbagai jenis.

Pengungkapan itu berlangsung di Gudang Lini III produsen PT Pupuk Kujang dan PT Petrokimia Gresik di Kawasan Sumber Karya Internasional Desa Sukajaya, Kecamatan Sukatani, Kabupaten Purwakarta, Selasa (21/3/2017).

Kasatreskrim Polres Purwakarta AKP Agta Bhuwana mengatakan pengungkapan ini bermula dari laporan masyarakat tentang adanya penyelewengan di gudang lini III. Polisi menangkap dua orang pelaku gudang khusus PT Petrokimia Gresik.

"Awalnya kami amankan dua orang pelaku dari dua gudang lini III produsen PT Petrokimia Gresik. Setelah itu kita kembangkan ke gudang sebelah (PT Pupuk Kujang) dan mengamankan empat orang pelaku," kata Agta di lokasi, Kamis (23/3/2017).

Agta menjelaskan para pelaku melakukan penyelewengan dengan mengurangi volume berbagai jenis pupuk bersubsidi yang ada di gudang. Setiap menjalankan aksinya, mereka mengambil 3 - 4 kilogram dari setiap karung berukuran 50 kilogram.

Pupuk bersubsidi yang mereka curi itu, lalu dikemas ulang menggunakan karung serupa. Kemudian, lanjut dia, karung-karung itu dikumpulkan sebelum dijual kepada pengecer. Dalam satu bulan para pelaku bisa menjual 33 ton pupuk.

Dia menjelaskan pupuk bersubsidi yang dicuri oleh para pelaku untuk PT Pupuk Kujang itu jenis urea, sedangkan PT Petrokimia Gresik jenis SP36 dan Phonska. Untuk pupuk urea 23 ton perbulan, sementara pupuk SP36 dan Phonska 10 ton perbulan.

"Jadi mereka kumpulkan dalam sebulan itu bisa sampai 33 ton. Baru dijual ke pengecer Rp 2 ribu/kilogram tanpa dokumen lengkap," ungkap dia.

Para pelaku itu berinisial AS, EK pegawai PT Petrokimia Gresik dan ADM, RJK, IS dan S pegawai PT Pupuk Kujang. Para pelaku dijerat pasal 4 huruf a jo Pasal 8 perpu no 8 tahun 1962 tentang perdagangan barang dalam pengawasan.

Selain itu, pasal 2 ayat 1 dan 2 perpres no 11 tahun 2015 tentang penetapan pupuk bersubsidi sebagai barang dalam pengawasan. Serta pasal 19 ayat 4 perpemdagri no 15 tahun 2013 tentang pengadaan dan penyaluran pupuk bersubsidi sektor pertanian.

"Ancaman hukuman 6 tahun penjara. Tapi pelaku sementara tidak kami tahan karena mereka masih dibutuhkan untuk melakukan pengelolaan gudang," ungkap Agta.


(ern/ern)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed