Lika-liku Perjuangan Kang Jack Juru Parkir Mendirikan Sekolah Gratis

Baban Gandapurnama - detikNews
Rabu, 10 Feb 2016 13:12 WIB
Foto: Baban Gandapurnama
Bandung - Lika-liku menghiasi perjuangan Undang Suryaman alias Jack mendirikan sekolah gratis. Segelintir orang memandang sebelah mata niat baik lelaki berusia 39 tahun tersebut lantaran persoalan status sosial dan pekerjaannya sebagai juru parkir. Kang Jack sempat mendapat serangan cibiran saat mencetuskan TK Al Raudlotul Jannah bagi anak tak mampu di seputaran tempat tinggalnya.

Awalnya sejumlah orang menuding upaya Jack hanyalah akal-akalan belaka dan modus mencari sumber keuntungan. Namun semua aroma pesimistis dan nada-nada sumbang itu Jack mentahkan dengan bukti nyata yang berguna dirasakan warga miskin.

"Banyak warga yang mencibir. Misalnya menyebut, 'orang miskin kok mendirikan TK'. Juga ucapan-ucapan seperti 'sekolah cuma lulus SD, berani-beraninya bikin TK gratis'. Begitu ceritanya," kata Jack sewaktu berbincang bersama detikcom di TK Al Raudlotul Jannah, Gang Tumaritis, Kampung Babakan Loa, RT 3 RW 12, Desa Rancaekek Kulon, Kecamatan Rancaekek, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Selasa (9/2/2016) kemarin.


Meski berijazah SD dan sudah 20 tahun lebih bekerja sebagai juru parkir, bukan berarti Jack tidak mampu berkontribusi positif untuk masyarakat. Kang Jack saban hari, Senin hingga Jumat, menjadi juru parkir di area gedung Fakultas Ilmu Komunikasi (Fikom) Universitas Padjadjaran (Unpad), Jatinangor, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat.

"Memang saya putus sekolah, tapi saya ingin punya sekolah. Masa bikin sekolah itu harus menunggu kaya. Dalam kondisi yang juga serba kekurangan ini, saya mencoba bantu orang lain dengan tenaga yang saya miliki,"ucap Jack.

Tepatnya 12 April 2012 silam Kang Jack bersama istrinya, Yani Novitasari, bertahap merangkul anak-anak usia empat hingga lima tahun belajar di sekolah tersebut. Lokasinya dekat dari rumah Jack.

Ruang kosong di Masjid Raudlotul Jannah dimanfaatkan Jack sebagai tempat kegiatan belajar mengajar. Sedikitnya 18 anak yang secara finansial orang tuanya kategori miskin terdaftar angkatan pertama TK Al Raudlotul Jannah.



Kala itu cemoohan masih hinggap di telinga Jack. "Ada yang menjuluki ini sekolah odong-odong, juga sekolah bohong-bohongan," ujar pria kelahiran Garut 25 Mei 1976 ini.

Jack tentu sakit hati. Tetapi dia memilih tak bereaksi berlebihan. "Enggak saya ladeni orang mau ngomong jelek apapun. Ngapain harus pusing," tuturnya.

"Saya menganggap cibiran itu merupakan ujian dan cobaan. Kondisi tersebut tidak membuat saya mundur. Justru meyakinkan saya agar terus menghadapi segala rintangan. Pantang menyerah," ucap Jack menambahkan.

Bukan tanpa sebab Jack bersemangat mendirikan sekolah gratis yang muridnya mayoritas golongan tidak mampu. Miris bercampur prihatin berkecamuk dalam benak Jack setelah menyimak anak-anak usia dini di kampungnya terpaksa urung bersekolah gara-gara terkendala biaya.

"Cukup saya dan orang senasib yang putus sekolah. Jangan biarkan putra putri penerus bangsa ini tidak sekolah," kata Jack bernada tegas.

Sindiran negatif berangsur lenyap seiring aksi Jack direspons baik oleh warga miskin yang sangat membutuhkan sekolah tanpa pungutan biaya. Faktanya, jumlah murid TK Al Raudlotul Jannah terus meningkat tiap tahunnya. Catatan dikantongi Jack, tahun kedua atau 2013-2014 jumlah murid 25 orang, tahun ketiga atau 2014-2015 sebanyak 36 orang, dan tahun keempat 2015-2016 terdata 51 orang. Syarat murid daftar ke sekolah ini harus memiliki Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM).

"Sejak awal mendirikan TK gratis, saya fokus ingin berbuat kebaikan dan berbagi kebahagiaan antarsesama. Semua itu niatnya ibadah. Jadi bukan mencari keuntungan," tutur Jack.

Dia tidak menampik di sekolah gratis ini terdaftar anak yang orang tuanya mampu. Jack dan istrinya mengajak orang tua murid kategori mampu itu agar bersama-sama memupuk kepedulian dengan membayar infak sebesar Rp 25 ribu perbulan. Rupanya mereka setuju aturan tersebut.

"Uang dari yang mampu itu merupakan subsidi silang. Kebutuhannya buat bayar biaya listrik, membeli buku atau majalah panduan belajar, pensil warna dan keperluan lainnya. Sisanya buat kebutuhan TPA, ya karena di tempat ini bukan hanya TK saja," ujar Jack.



Dia bersyukur bergabungnya tiga perempuan berhati mulia yang sukarela menjadi tenaga pendidik di TK Al Raudlotul Jannah. Tetapi bila pihak sekolah mendapatkan rezeki, terutama uang dari donatur tetap dan nontetap serta dermawan, Jack berprinsip bagi rata untuk tenaga pendidik serta menyokong operasional sekolah.


(bbn/ern)