35 Persen Jajanan Anak Sekolah di Indonesia tidak Sehat

35 Persen Jajanan Anak Sekolah di Indonesia tidak Sehat

- detikNews
Sabtu, 19 Nov 2011 14:35 WIB
Bandung - Badan Pengawasan Obat dan Makanan (POM) Republik Indonesia menyatakan 35 persen jajanan anak sekolah kondisinya tidak sehat. Ragam jenis makanan yang biasa dinikmati anak di sekitar lingkungan sekolah itu bisa berbahaya bagi kesehatan.

Hal tersebut disampaikan Kepala Badan POM RI Kustantinah kepada wartawan usai acara Ikrar Peduli Pangan Jajanan Anak Sekolah (PJAS) yang diikuti 2.000 pelajar tingkat TK hingga SMA wilayah Jabar dan DKI Jakarta di Lapang Saparua, Jalan Saparua, Kota Bandung, Sabtu (19/11/2011).

"Walau jumlahnya menurun, kami menyadari masih banyak makanan yang tidak aman dikonsumsi anak. Hasil pengawasan Badan POM di seluruh Indonesia tahun ini, sekitar 35 persen ajanan anak sekolah tak memenuhi syarat atau tidak sehat," jelasnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut Kustantinah, pangan yang tidak dikategorikan tidak sesuai sayarat itu berupa sajian dan hasil pangan yang tidak higeinis. Misalnya, kata dia, alat atau perabot masak yang tidak bersih, serta pemasak saat memasak kondisinya kurang sehat. Sehingga, sambung Kustantinah, pangan seperti makanan dan minuman secara mudah terkontaminasi.

"Selain itu ada yang menggunakan bahan berbahaya yang tak seharusnya untuk pangan. Seperti memakai formalin, boraks dan perwarna tekstil," jelas Kustantinah sambil menambahkan pangan jajanan tidak sehat itu kebanyakan berada di kota-kota besar di Indonesia.

Ia menuturkan, perlu peran semua pihak mulai pemerintah daerah, pihak sekolah, dan orang tua, guna mewujudkan gerakan jajanan anak-anak sekolah yang layak dikonsumsi. Menurut dia, menjadi suatu kewajiban bagi pemerintah agar anak-anak mendapat pangan sehat, aman, bermutu, dan bergizi.

Lebih lanjut Kustantinah menuturkan, saat ini Badan POM di masing-masing wilayah dan pemda kabupaten dan kota mencanangkan program advokasi kepada industri rumah tangga. Pelaku usaha pangan buatan rumahan itu nantinya diberikan pembinaan serta pengawasan. Kondisi tersebut juga belaku bagi para pedagang yang berjualan di lingkungan sekolah.

"Jajanan tidak sehat itu memang tak terlihat secara kasat mata. Maka yang dilakukan, kami keroyok dari berbagai sisi. Produsen dan penjual diberi edukasi dengan sosialisasi olahan makanan sehat, kebersihan orang dan tempat memasaknya," ucapnya.

Ikrar para pelajar Peduli PJAS di Lapang Saparua merupakan komitmen bersama guna mweujudkan PJAS yang aman, bermutu, dan bergizi yang dicanangkan secara nasional.

(bbn/avi)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini