Hal tersebut disampaikan Kepala Badan POM RI Kustantinah kepada wartawan usai acara Ikrar Peduli Pangan Jajanan Anak Sekolah (PJAS) yang diikuti 2.000 pelajar tingkat TK hingga SMA wilayah Jabar dan DKI Jakarta di Lapang Saparua, Jalan Saparua, Kota Bandung, Sabtu (19/11/2011).
"Walau jumlahnya menurun, kami menyadari masih banyak makanan yang tidak aman dikonsumsi anak. Hasil pengawasan Badan POM di seluruh Indonesia tahun ini, sekitar 35 persen ajanan anak sekolah tak memenuhi syarat atau tidak sehat," jelasnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Selain itu ada yang menggunakan bahan berbahaya yang tak seharusnya untuk pangan. Seperti memakai formalin, boraks dan perwarna tekstil," jelas Kustantinah sambil menambahkan pangan jajanan tidak sehat itu kebanyakan berada di kota-kota besar di Indonesia.
Ia menuturkan, perlu peran semua pihak mulai pemerintah daerah, pihak sekolah, dan orang tua, guna mewujudkan gerakan jajanan anak-anak sekolah yang layak dikonsumsi. Menurut dia, menjadi suatu kewajiban bagi pemerintah agar anak-anak mendapat pangan sehat, aman, bermutu, dan bergizi.
Lebih lanjut Kustantinah menuturkan, saat ini Badan POM di masing-masing wilayah dan pemda kabupaten dan kota mencanangkan program advokasi kepada industri rumah tangga. Pelaku usaha pangan buatan rumahan itu nantinya diberikan pembinaan serta pengawasan. Kondisi tersebut juga belaku bagi para pedagang yang berjualan di lingkungan sekolah.
"Jajanan tidak sehat itu memang tak terlihat secara kasat mata. Maka yang dilakukan, kami keroyok dari berbagai sisi. Produsen dan penjual diberi edukasi dengan sosialisasi olahan makanan sehat, kebersihan orang dan tempat memasaknya," ucapnya.
Ikrar para pelajar Peduli PJAS di Lapang Saparua merupakan komitmen bersama guna mweujudkan PJAS yang aman, bermutu, dan bergizi yang dicanangkan secara nasional.
(bbn/avi)










































