DetikNews
Rabu 21 Maret 2018, 11:05 WIB

Kisah Wanita Inggris yang Jadi Petempur Kurdi dan Tewas di Suriah

BBC World - detikNews
Kisah Wanita Inggris yang Jadi Petempur Kurdi dan Tewas di Suriah Anna Campbell merupakan perempuan Inggris pertama yang terbunuh di Suriah. (BBC)
London - Seorang perempuan Inggris yang menjadi relawan Unit Perlindungan Perempuan Kurdi atauYPJ dilaporkan terbunuh di Suriah, menurut penuturan ayahnya kepadaBBC.

Anna Campbell, 26 tahun, dari East Sussex, Inggris, tewas pada tanggal 15 Maret di Afrin, yang dibombardir oleh pasukan Turki.

Sang ayah, Dirk Campbell mengatakan bahwa putrinya "sangat idealis" dan "teguh".

Turki telah memerangi kelompok Kurdi di wilayah Suriah yang dekat dengan perbatasannya sejak bulan Januari.

Campbell, perempuan yang bekerja sebagai tukang ledeng profesional di Inggris, bertolak ke Suriah pada bulan Mei 2017 untuk membantu orang-orang Kurdi, yang sedang memerangi kelompok ISIS.

Ayahnya mengatakan, "Ia ingin menciptakan dunia yang lebih baik dan ia akan melakukan segalanya dengan kekuatannya untuk melakukan hal itu."

Ia menambahkan, "Saya katakan kepadanya bahwa dia membahayakan hidupnya, yang mana ia sudah sepenuhnya mengetahui apa yang dilakukannya.

"Saya merasa sebaiknya saya membujuknya untuk kembali, tapi ia bersikeras tidak ingin kembali."

Polisi Inggris sudah berulang kali memperingatkan agar tidak melakukan perjalanan ke Suriah, dan jika terlibat dengan berbagai kelompok bersenjata akan ditangkap dan menghadapi dakwaan.

Sebelumnya dua warga Inggris yang dituduh berperang melawan kelompok yang menamakan diri Negara Islam (ISIS) didakwa melakukan tindakan terorisme dan yang lainnya ditangkap.

Penampilan yang mencolok

BBC mengetahui Campbell awalnya terlibat dalam pertempuran dengan YPJ di Deir ez-Zor, wilayah terakhir yang masih terus dikuasai kelompok ISIS.

Namun pada bulan Januari, pasukan Turki memulai serangan besar-besaran terhadap orang-orang Kurdi di sepanjang perbatasan Suriah utara.

Banyak pejuang Kurdi yang meninggalkan pertempuran melawan kelompok ISIS untuk membela Kota Afrin dan beberapa relawan dari Inggris diketahui bergabung dengan mereka.

Ayah Campbell mengatakan kepada BBC ia tahu para petempur Kurdi rekan-rekan putrinya berupaya untuk menghentikannya.

"Dengan rambut lurus dan mata biru penampilan Campbell terlihat mencolok, namun ia mengecat rambutnya menjadi hitam dan meminta teman-temannya untuk membiarkannya pergi," katanya.

"Saya langsung menghubungi teman saya politisi Maria Caulfield setelah saya tahu ia dalam bahaya saat dibombardir pasukan Turki.

"Saya mengirim e-mail kepada teman saya dan mengatakan putri saya dalam bahaya, Anda harus menghubungi Kementerian Luar Negeri dan menekan Turki agar menghentikannya."

Turki menganggap Unit Perlindungan Perempuan Kurdi atau YPJ dan YPG terkait dengan Partai Pekerja Kurdistan yang dilarang (PKK), namun hal ini dibantah oleh pihak Kurdi.

Ahmet Berat Conkar -seorang anggota parlemen dari Partai AK yang berkuasa Turki dan kepala delegasi Turki untuk NATO- mengatakan kepada program Today BBC Radio 4 bahwa YPG dan PKK adalah "organisasi yang sama" dengan "struktur organisasi yang sama" dan "kepemimpinan yang sama".

Ia menggambarkan PKK sebagai "organisasi teroris yang sangat berbahaya" dengan "ideologi jahat" yang mendorong "anak-anak muda ke garis depan".

Ia juga menuduh organisasi tersebut merekrut tentara anak-anak.

Komandan YPJ di Suriah, Nesrin Abdullah, mengatakan Campbell "bersikeras" untuk berangkat ke Afrin "meskipun kami berusaha menjauhkannya dari garis depan, namun serangan dari Turki begitu sengit."

Warga Inggris kedelapan yang tewas

Teman-teman Campbell di Suriah mengatakan kepada BBC bahwa ia terbunuh oleh serangan udara Turki, mereka menggambarkannya sebagai seorang feminis dengan "ketulusan dan keberanian" yang ingin memperjuangkan kebebasan perempuan di Timur Tengah.

Ia adalah perempuan Inggris pertama yang tewas di Suriah bersama organisasi YPG atau YPJ, namun merupakan warga kedelapan yang terbunuh saat membantu kelompok tersebut.

Ayah Campbell mengatakan hatinya "hancur", sesaat setelah mendengar kabar kematiannya pada hari Minggu.

Ia mengatakan putrinya banyak terlibat dalam aktivitas HAM di Inggris dan ini adalah tujuan Kurdi untuk menciptakan masyarakat demokratis setelah kelompok ISIS yang menginspirasinya untuk bergabung dengan mereka.

"Ketika ia mendengar tentang eksperimen politik di Rojava (wilayah Kurdi di Suriah utara), baginya ini adalah cara bagaimana dunia seharusnya."

"Organisasi sosial di semua tingkat, kesetaraan. Ia ingin membantu melindunginya."




(ita/ita)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed