DetikNews
Rabu 11 Jan 2017, 19:40 WIB

Warga Kota di Macedonia Raup Puluhan Ribu Euro dari Hoax

BBC Magazine - detikNews
Warga Kota di Macedonia Raup Puluhan Ribu Euro dari Hoax (BBC) Ratusan anak muda di kota Veles diyakini menangguk keuntungan besar dari hasil membuat hoax saat pilpres Amerika Serikat.
Veles - Banyaksitushoax atau berita bohong saat pemilihan presiden Amerika Serikat lalu berasaldariVeles, satu kota kecildiMacedonia.

Dari Veles inilah para remaja menulis berita-berita sensasional, yang tak jelas kebenarannya, kemudian disebar melalui Facebook dan situs-situs lain, yang akhirnya mendatangkan puluhan ribu euro per bulan dari iklan.

Orang-orang di sini menyebutnya sebagai 'panen emas digital'.

"Warga di Amerika sangat senang dengan berita-berita (bohong) yang kami buat dan kami mendapat keuntungan finansial dari berita-berita ini," kata Goran, seorang mahasiswa di Veles kepada wartawan BBC Emma Jean Kirby, di satu kafe di Veles.

Ia mengaku berusia 19 tahun tapi dari penampakannya, ia terlihat sangat belia. Di pergelangan tangannya terlihat jam tangan yang cukup mewah.

"Mereka tak peduli (kalau) berita yang mereka baca akurat atau bohong," kata Goran.

Goran -bukan nama sebenarnya- mewakili satu dari puluhan bahkan ratusan remaja di Macedonia yang menangguk keuntungan besar dari hoax yang sebagian besar pro-Donald Trump pada pilpres AS.

Dari pembicaraan di kafe ini, Goran 'membuka rahasia' bagaimana ia dan rekan-rekannya membuat dan menyebar berita bohong.

Biasanya Goran dan rekannya menerbitkan berita-berita sensasional atau bombastis yang bahannya diambil dari situs-situs sayap kanan di Amerika yang sangat mendukung Trump.

Peran media sosial
Slavco Chediev
(BBC) WaliKotaVeles,SlavcoChediev, mengatakan tidak ada 'uang haram'diVeles.

Satu berita berisi gabungan paragraf dari beberapa artikel dan diberi judul yang sensasional. Goran kemudian membayar Facebook untuk membagikan berita ini ke para pengguna media sosial di Amerika yang ketika itu haus dengan berita-berita Trump dan pesaingnya dari Demokrat, Hillary Clinton.

Ia mendapatkan uang dari klik dan share berita yang ia buat.

Goran mengaku belum lama membuat hoax dan hanya menerima 1.800 euro per bulan tapi rekan-rekannya bisa meraup ribuan euro per hari. Ditanya apakah ia tak khawatir berita palsu yang ia buat mengecoh atau membohongi pemilih di Amerika, Goran sepertinya tak terlalu khawatir.

"Para remaja di kota kami tak peduli dengan pilihan warga Amerika. Yang kami pikirkan di sini adalah bagaimana mendapatkan uang dan membeli pakaian-pakaian mahal," kata Goran.

Dampak panen emas digital jelas terlihat di Veles. Data menunjukkan gaji rata-rata warga di sini sekitar 350 euro per bulan atau sekitar Rp5 juta. Sejak aktivitas 'produksi hoax' meningkat, sejumlah warga membeli mobil baru sementara kafe dan restoran makin ramai pengunjung.

Dulu, ketika masih menjadi bagian Yugoslavia, Veles biasanya disebut Tito Veles, nama yang mengacu ke presiden saat ini Josip Tito. Kini warga di sini -dengan setengah bercanda- mengatakan bahwa lebih tepat kota ini diberi nama Trump Veles.

Dilakukan murid-murid SMA Sekolah
(BBC) Selain mahasiswa, yang jugamembuathoax adalah murid-murid sekolah menengah.

Selain mahasiswa, yang juga membuat hoax adalah murid-murid sekolah menengah atas. Salah seorang di antaranya mengatakan kepada BBC bahwa ia bekerja beberapa jam setiap malam untuk membuat hoax.

Wartawan investigatif Ubavka Janevska mengatakan ada setidaknya tujuh kelompok di Veles yang menyebar berita bohong di internet dan memperkirakan ratusan murid sekolah bekerja secara individu sebagai pembuat berita bohong.

Di Veles, membuat situs berita hoax bukan tindakan pidana. Tapi bagaimana dengan tanggung jawab moral? Bukankan membuat berita palsu sama dengan membohongi pembaca? Bukankah uang yang diterima dari hoax adalah 'uang haram'?

"Tak ada 'uang haram' di sini," kata Slavco Chediev, wali kota Veles. Bahkan ia mengisyaratkan dirinya bangga kotanya bisa mempengaruhi hasil pilpres di Amerika.

Tapi Janevska mengatakan prihatin. "Sejak pilpres AS, yang menjadi perhatian anak-anak muda di sini adalah bagaimana mendapatkan uang dari berita bohong," katanya.

Goran sepertinya tak begitu peduli. Ia mengatakan orang tua mana yang tidak senang jika anaknya bisa mendapatkan 30.000 euro atau sekitar 420 juta per bulan.

Para analis meyakini aktivitas anak-anak muda seperti Goran untuk memproduksi hoax akan makin meningkat dan mereka akan menjadikan momen politik di negara-negara lain sebagai tambang uang.


(nwk/nwk)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed