Terapi Antibodi Monoklonal Bisa Selamatkan Nyawa Pasien Corona, Seperti Apa?

BBC Indonesia - detikNews
Senin, 21 Jun 2021 14:00 WIB
Jakarta -

Tepat setahun setelah penemuan bahwa sejenis obat steroid murah dapat mencegah kematian akibat Covid-19, para peneliti mengatakan mereka telah menemukan terapi penyelamat nyawa lainnya.

Terapi ini cukup mahal - antibodi kuat yang diinfuskan ke tubuh pasien untuk langsung memusnahkan virus, alih-alih meredam respons inflamasi tubuh terhadapnya.

Hasil uji coba yang dilakukan oleh Recovery, laboratorium yang menguji berbagai perawatan untuk Covid-19, menunjukkan bahwa terapi ini dapat menolong satu dari tiga pasien yang dirawat di rumah sakit karena sakit parah.

Para pakar menghitung bahwa untuk setiap 100 pasien yang dirawat, terapi ini akan menyelamatkan enam nyawa.

Terobosan

Tetapi perawatan ini sebaiknya diberikan hanya bagi mereka yang tubuhnya belum bisa membuat antibodi sendiri untuk melawan virus. Biaya untuk perawatan ini antara Pound 1000 dan Pound 2000 (Rp20-40 juta).

Kimberley Featherstone, 37 tahun, yang menerima perawatan ini selama uji coba, mengatakan: "Saya merasa sangat beruntung bahwa uji coba sudah berjalan saat saya dibawa ke rumah sakit dengan Covid-19 dan saya dapat menerima perawatan inovatif ini.

"Saya senang bahwa dengan partisipasi saya, saya turut berperan dalam menguji keberhasilan perawatan ini."

Perawatan antibodi monoklonal, yang dibuat oleh Regenoron, mengikat virus untuk menghentikannya menginfeksi sel dan bereplikasi.

Dalam uji coba yang melibatkan hampir 10.000 pasien di rumah sakit Inggris, terapi ini secara signifikan mengurangi:

  • Risiko kematian
  • Waktu perawatan di rumah sakit, rata-rata empat hari
  • Kemungkinan pasien membutuhkan ventilator untuk bernafas

Kepala peneliti gabungan Recovery Sir Martin Landray mengatakan: "Memberi mereka (pasien) kombinasi dua antibodi ini melalui infus intravena dapat benar-benar mengurangi kemungkinan kematian sampai seperlimanya.

"Yang kami temukan ialah kami dapat menggunakan pengobatan antivirus, dalam hal ini antibodi, pada pasien yang kemungkinan meninggalnya satu dari tiga jika tidak diobati; dan kami dapat mengurangi risiko itu untuk mereka."

Ketidakpastian besar

Perawatan ini diberikan bersama obat steroid anti-inflamasi deksametason, yang dengan sendirinya mengurangi risiko kematian sampai sepertiganya untuk pasien Covid yang paling parah.

Sir Peter Horby, kepala peneliti lainnya, mengatakan sebelumnya ada ketidakpastian besar tentang apakah terapi antibodi adalah pendekatan yang tepat, mengingat beberapa penelitian lain tidak menemukan adanya manfaat.

Menggunakan plasma darah dari pasien yang sudah sembuh (plasma konvalesens) - mengandung antibodi yang seharusnya dapat mengenali dan melawan virus - belum terbukti efektif sebagai terapi Covid, misalnya.

Tetapi perawatan antibodi yang digunakan dalam uji coba Recovery mengandung dosis yang besar dari dua antibodi spesifik, yang dibuat di laboratorium, yang lihai dalam mengikat virus penyebab pandemi itu.

Sir Peter berkata: "Sungguh luar biasa mengetahui bahwa bahkan pada penyakit Covid-19 yang akut, menyasar virusnya secara langsung dapat mengurangi kematian pada pasien yang tidak dapat meningkatkan respons antibodi mereka secara alami."

(ita/ita)