Terbangkan 3 Astronaut ke Orbit Bumi, Apa Ambisi Luar Angkasa China?

BBC Indonesia - detikNews
Jumat, 18 Jun 2021 10:23 WIB
Kapsul Shenzhou-12 lepas landas di atas roket Long March 2F. (Getty Images)
Jakarta -

China menerbangkan tiga astronautnya ke orbit Bumi melalui kapsul Shenzhou-12 untuk menyiapkan stasiun ruang angkasa baru milik mereka, Kamis (17/06).

Tiga astronaut itu, masing-masing bernama Nie Haisheng, Liu Boming, dan Tang Hongbo, akan menghabiskan waktu selama tiga bulan di dalam modul Tianhe. Modul itu berada sekitar 380 kilometer di atas Bumi.

Bagi China, ini akan menjadi misi ruang angkasa berawak dengan durasi terpanjang dan akan menjadi yang pertama dalam hampir lima tahun.

Baca juga:

Tiga angkasawan itu terbang dalam kapsul Shenzhou-12 yang lepas landas di atas roket Long March 2F.

Kapsul itu diterbangkan dari pusat peluncuran satelit Jiuquan di gurun Gobi pada pukul 9:22 pagi waktu Beijing atau 8.22 WIB.

Melalui misi ini, China diyakini ingin menunjukkan kepercayaan diri dan kemampuan mereka yang terus berkembang dalam bidang ruang angkasa.

Selama enam bulan terakhir, China membawa sampel batuan dan tanah dari Bulan ke Bumi. Mereka juga mendaratkan robot beroda enam di Mars. Dua misi ini sangat kompleks dan menantang.

shenzhou-12Getty ImagesBagi China, ini akan menjadi misi ruang angkasa berawak dengan durasi terpanjang dan akan menjadi yang pertama dalam hampir lima tahun.

Apa yang akan dilakukan tiga astronaut China di luar angkasa?

Komandan dalam misi ini adalah Nie Haishen. Dia dan dua rekannya ditugaskan untuk menangani modul Tianhe seberat 22,5 ton.

"Saya memiliki banyak harapan," kata Haishen sebelum meluncur ke ruang angkasa.

"Kami harus mendirikan rumah baru kita di ruang angkasa sekaligus menguji serangkaian teknologi baru. Jadi, misi kami ini berat dan menantang.

"Saya percaya jika kami bertiga bekerja sama, melakukan operasi yang menyeluruh dan akurat, kami dapat mengatasi tantangan. Kami percaya diri dapat menyelesaikan misi ini," ujarnya.

Modul Tianhe dengan panjang 16,6 meter dan lebar 4,2 meter dipamerkan ke publik April lalu.

Tianhe adalah komponen pertama dan inti dari konstruksi stasiun ruang angkasa seberat 70 ton yang mengorbit Bumi.

Stasiun itu akan terdiri dari tempat tinggal astronaut sekaligus laboratorium sains yang dilengkapi teleskop Hubble untuk mengamati ruang angkasa.

Berbagai elemen stasiun itu akan diluncurkan secara bergantian selama beberapa tahun ke depan. Pembangunan akan disertai dengan pengiriman kargo reguler dan sejumlah astronaut.

Apa yang kita ketahui tentang tiga astronaut ini?

Pihak berwenang China merahasiakan identitas astronaut Shenzhou-12. Baru pada konferensi pers Rabu kemarin, profil mereka dibuka ke publik.

Nie Haisheng dikatakan sebagai astronaut tertua China di ruang angkasa Umurnya 56 tahun.

Haishen sebelum ini terlibat dalam dua penerbangan ke ruang angkasa. Pada tahun 2013, dia bertugas ke stasiun ruang angkasa prototipe, Tiangong-1 selama 15 hari.

Tiangong-1 saat ini sudah tidak beroperasi dan sudah jatuh ke Bumi.

Baca juga:

Dua astronaut lainnya adalah Liu Boming (54 tahun) dan Tang Hongbo (45 tahun). Mereka pernah bertugas di Angkatan Udara China.

Boming sebelumnya pernah terlibat pada misi Shenzhou-7 pada tahun 2008. Shenzhou-7 adalah misi perjalanan ruang angkasa pertama China.

Sementara itu, Hongbo belum pernah terbang ke orbit Bumi.

AstronautsReutersTang Hongbo (kiri), Nie Haisheng (tengah), dan Liu Boming (kanan) berbicara kepada wartawan, Rabu (16/07), dari balik kaca. Mereka disebut jalani masa isolasi sebelum terbang ke orbit Bumi.

Makanan, bahan bakar, dan peralatan yang akan dibutuhkan tiga astronaut ini selama tinggal di Tianhe dikirim di atas kapal pengangkut robot, Mei lalu.

Mereka akan membongkar perbekalannya itu begitu tiba di Tianhe. Itu akan menjadi pekerjaan pertama di ruang angkasa.

Selain makanan dan kebutuhan dasar, dua pakaian antariksa juga berada di dalam kargo itu. Pakaian tersebut perlu mereka kenakan saat bekerja di luar Tianhe.

Apa ambisi China di ruang angkasa?

China dalam beberapa tahun terakhir tidak merahasiakan ambisi luar angkasanya.

Mereka menggelontorkan dana yang signifikan untuk ambisi ini. Pada tahun 2019 mereka menjadi negara pertama yang mengirim pesawat penjelajah tanpa awak ke sisi jauh Bulan.

Namun China harus mengembangkan stasiun ruang angkasa sendiri setelah negara itu dikeluarkan dari proyek Stasiun Ruang Angkasa Internasional.

Amerika Serikat yang memimpin kemitraan proyek ruang angkasa bersama Rusia, komunitas Eropa, Kanada, dan Jepang, menyatakan tidak akan bekerja sama dengan China untuk proyek di orbit Bumi.

Graphic showing key elements of China's space stationBBC

Bagaimanapun, China mengeklaim akan membuka diri untuk kolaborasi dengan negara lain terkait proyek stasiun ruang angkasa mereka.

Stasiun ruang angkasa itu dinilai akan dijadikan pusat eksperimen ilmiah. Ruang itu disebut juga akan meneriima kunjungan warga negara non-China.

Rusia, yang telah berbagi teknologi dengan China pada masa lalu, pernah menyebut akan mengirim kosmonautnya ke wahana tersebut.

"Kami menyambut baik kerja sama dalam hal ini secara umum," kata Ji Qiming, Asisten Direktur Badan Antariksa China, pada konferensi pers Rabu kemarin.

"Kami yakin dalam waktu dekat, setelah stasiun ruang angkasa China selesai, kami akan melihat astronaut China dan angkasawan dari negara lain terbang dan bekerja sama," ujarnya.

Presiden China, Xi Jinping, juga mendukungan proyek ruang angkasa itu. Media massa milik pemerintah China menyebut proyek itu "mimpi ruang angkasa" sebagai salah satu langkah menuju "kebangkitan nasional".

(ita/ita)