India Darurat Corona, Banyak Keluarga Merawat Saudaranya yang Sekarat di Rumah

BBC Indonesia - detikNews
Jumat, 07 Mei 2021 08:38 WIB
Getty Images
Jakarta -

Waktu hampir tengah malam, dan Jitender Singh Shunty baru saja melewati satu hari lagi mengkremasi korban yang meninggal akibat virus corona.

Jitender kini tidur di tempat parkir krematorium di timur laut Delhi, ibu kota nasional India. Istri dan kedua putranya dinyatakan positif terkena virus dan sedang diisolasi di rumah.

"Kami telah melakukan kremasi massal untuk 103 jenazah hari ini, dan 42 di antaranya diambil dari rumah-rumah di seluruh kota," katanya kepada BBC dalam wawancara telepon.

"Jumlah kematian resmi [diumumkan] tidak termasuk orang-orang yang sekarat di rumah ... begitu banyak dari mereka bahkan tidak menerima hasil tes virus corona sampai setelah kematian."

India sekarang telah mencatat lebih dari 222.000 kematian - jumlah kematian tertinggi ketiga di dunia di setelah Amerika Serikat dan Brasil - namun ada bukti-bukti bahwa masih banyak kematian yang tidak dilaporkan.

Jitender adalah kepala layanan medis nirlaba yang membantu polisi mengkremasi jenazah-jenazah yang tidak diklaim keluarga dan meninggal karena bunuh diri atau kecelakaan.

Tim Jitender terdiri dari 18 sukarelawan juga telah membantu upacara pemakaman terakhir bagi para korban virus corona sejak pandemi melanda tahun lalu.

"Selama gelombang pertama virus corona, kami membantu mengkremasi total 967 jenazah. Namun sekarang ini, kami telah melampaui jumlah itu hanya dalam 15 hari," katanya.

"Awalnya, sebagian besar adalah orang tua yang menyerah pada virus, tetapi sekarang sangat mengkhawatirkan melihat begitu banyak orang muda kehilangan nyawa mereka."

'Terbaring mati di rumah'

Jitender menerima ratusan panggilan setiap hari dari keluarga yang mengalami musibah, baik di dalam maupun luar negeri.

"Sore ini misalnya, saya menerima telepon dari Toronto, Kanada, dan orang asing ini membutuhkan bantuan untuk mengkremasi adik laki-lakinya yang meninggal di rumah (di India) sejak sehari sebelumnya," kenangnya.

"Dia tidak tahu harus berbuat apa lagi. Ayahnya berada di rumah yang sama, tetapi berusia lebih dari 80 tahun dan memiliki gangguan penglihatan."

Seorang anggota keluarga yang mengenakan Alat Pelindung Diri (APD) melakukan upacara terakhir untuk korban COVID-19

Pemerintah tetap membela diri terkait penanganannya atas krisis di tengah meningkatnya kritik. (Getty Images)

Tim Jitender langsung mengambil jenazah tersebut setelah menerima surat persetujuan dari saudara korban yang tidak dapat kembali ke India itu. Persetujuan itu dikirim melalui aplikasi pesan yang memungkinkan tim relawan melakukan upacara terakhir.

"Sungguh menyakitkan melihat orang muda sekarat seperti ini, dan keluarga mereka berjuang untuk menghadapinya ... Saya menangis di dalam hati."

Saat sistem kesehatan rebah, rasa sedih berubah menjadi kemarahan bagi banyak keluarga.

'Orang biasa tidak punya pilihan selain mati'

Gabungan tiga gambar dari kiri ke kanan, pekerja krematorium, close-oksimeter yang menunjukkan kadar oksigen rendah, dan laki-laki yang mengatur tabung oksigen.

Rumah sakit India kewalahan dengan jumlah pasien virus korona dan banyak keluarga harus mengatasinya sendiri. (BBC/Getty Images)

Uttar Pradesh, tetangga Delhi, adalah salah satu negara bagian di India yang paling parah dihantam virus corona. Di wilayah ini, tepatnya di jantung distrik Jaunpur, Sushil Kumar (nama disamarkan) kehilangan ibunya.

Seluruh keluarganya, termasuk istri dan putranya, baru saja pulih dari virus corona, tetapi ibunya tidak bisa diselamatkan.

"Tingkat oksigennya turun, dan saya telah menghabiskan tiga hari untuk mencari kamar di rumah sakit atau tabung oksigen sehingga bisa merawatnya di rumah," katanya.

"Dan sekarang adalah hari keempat saya keluar rumah dengan putus asa mencari bantuan medis, dan ibu saya meninggal di rumah."

Di seluruh negeri, banyak orang tidak mampu bertahan hidup. Mereka menghembuskan nafas terakhir ketika menunggu kasur rumah sakit, di saat persediaan oksigen menipis dan rumah sakit berjuang keras mengatasi lonjakan kasus.

Sushil mengatakan, walaupun memiliki konsentrator oksigen di rumah, alat itu tidak mampu membantu para pasien yang kritis. Konsentrator oksigen adalah perangkat medis yang berfungsi menyalurkan oksigen dan memungkinkan seseorang mendapatkan perawatan di rumah.

Kini di saat rumah sakit penuh sesak, mesin ini menjadi peralatan penting di seluruh India.

"Saya kehilangan ibu saya hanya karena sistem," katanya sambil menangis.

"Semua petugas saling lempar, dan tidak ada yang bertanggung jawab. Tidak ada sistem triase (proses pemilahan pasien mana yang berisiko meninggal) secara terpusat yang menyediakan tempat tidur untuk pasien."

Pasien Covid-19 menerima oksigen gratis di Ghaziabad, Uttar Pradesh.

Pasokan oksigen menipis di banyak wilayah India. (Getty Images)

Menteri utama negara bagian, Yogi Adityanath, dituduh meremehkan parahnya krisis virus corona.

Pekan lalu, Adityanath, sekutu sayap kanan Perdana Menteri Narendra Modi, mengatakan tidak ada rumah sakit negara bagian yang kekurangan oksigen. Padahal, gambar-gambar menunjukkan sistem kesehatan telah mengalami kewalahan.

Adityanath juga menuntut agar properti siapa pun yang menyebarkan desas-desus dan propaganda atas sistem kesehatan akan disita.

Sushil menceritakan, telah menghubungi berkali-kali petugas pemerintah melalui koneksi pribadinya tetapi mereka menyerah dan berhenti merespons.

"Saya tidak akan pernah memaafkan pemerintah ini," kata Sushil. "Tidak ada pilihan bagi orang biasa selain mati."

'Sulit mendapatkan oksigen di rumah'

Seorang kerabat pasien Covid-19 menangis di rumah sakit Lok Nayak Jai Prakash (LNJP), India, (26/04).

Lebih dari 222.000 kematian di India akibat virus corona. (Getty Images)

Dengan persediaan medis yang menipis, beberapa keluarga terpaksa membuat pilihan yang sulit.

Seperti yang dilakukan Nandini Kumar yang memutuskan menjaga ayahnya di rumah.

"Dia seorang pasien kanker, rentan terhadap stroke, dan baru-baru ini terbaring di tempat tidur - saya membuat keputusan sulit untuk memberinya perawatan di rumah daripada di rumah sakit yang sudah kewalahan," katanya.

"Kemudian kami segera menyadari bahwa sulit mendapatkan oksigen di rumah."

Saat sesak napas ayahnya meningkat, Nandini meminta bantuan orang lain dan mendapatkan satu tabung oksigen.

"Saya pikir kami akan baik-baik saja untuk sementara waktu, tetapi saya tidak menyadari alat ini hanya bertahan selama delapan jam. Saya harus menyerap banyak hal dalam satu hari - saya bukan seorang dokter."

Seorang pria menunggu di luar pabrik untuk mengisi ulang tabung oksigen di New Delhi, India, (28/04).

Di seluruh India, permintaan oksigen medis telah melonjak selama krisis. (Reuters)

Nandini kemudian mencari dengan beragam cara untuk melakukan isi ulang maupun mendapatkan tabung oksigen yang baru, tetapi semua terlambat karena ayahnya meninggal.

"Kami diharapkan untuk memberikan perawatan medis di rumah, tetapi menurut saya itu tidak tepat," katanya.

"Keluarga saya terpukul oleh virus itu - saya dan ibu saya juga dinyatakan positif."

'Anggota keluarga saya bisa berakhir dalam situasi yang sama'

Setiap keluarga yang anggotanya terinfeksi virus corona di India sedang mengalami dunia yang kacau.

Mereka harus bergantung pada setiap koneksi lama dan baru untuk mendapatkan bantuan, membayar sejumlah besar uang untuk mendapatkan pasokan medis di pasar gelap, dan mencari cara untuk melakukan perawatan darurat dalam kejaran waktu dan caranya sendiri.

Namun tidak satupun dari cara ini yang menjamin kesuksesan.

Tidak ada data berapa banyak orang yang sedang berjuang melawan virus corona dari rumah mereka, yang ada hanyalah perkiraan tentang jumlah kematian yang muncul setelahnya.

Tekanan meningkat pada pundak Perdana Menteri Narendra Modi di mana kritikus menuduhnya telah mengabaikan peringatan dari para ilmuwan menjelang gelombang dahsyat terbaru ini.

Pada 30 April, perdana menteri mengatakan, dia mengadakan pertemuan untuk membahas cara meningkatkan kapasitas oksigen dan infrastruktur medis.

Hanya dua hari sebelumnya, Narendra Taneja, seorang pemimpin partai BJP yang berkuasa di India, membela pemerintah melalui radio BBC di Inggris.

Pada bulan Januari dan Februari, "India melakukannya dengan sangat baik", katanya.

"Tapi kemudian kita melihat tiga atau empat minggu terakhir dan India dilanda tsunami. Seperti yang Anda ketahui, tsunami datang tanpa peringatan dan tiba-tiba kami melihat jumlah kasus meningkat. Hari ini seluruh negeri kewalahan.

"Kami tertangkap basah."

Seorang pekerja medis menyuntik vaksin virus corona, di Moti Lal Nehru Medical College di Allahabad, India (01/04).

Kampanye vaksinasi yang lamban telah memperparah krisis. (Getty Images)

Tentang apakah jumlah kematian jauh lebih tinggi daripada yang dilaporkan, Taneja berkata: "Tidak ada yang tahu jumlah pastinya. Di negara seperti India, negara besar, Anda tidak dapat menyembunyikan kematian. Jika ada ketidakcocokan maka itu akan masuk ke area publik. "

Taneja menegaskan, meskipun terjadi kehancuran, India akan bangkit kembali.

"Kami memiliki kekuatan itu, kami memiliki ketahanan itu. Anda akan melihatnya."

Kereta dan pesawat militer sedang bekerja untuk mempercepat pengangkutan pasokan oksigen. Namun di lapangan, bantuan itu tidak menjangkau semua orang yang sangat membutuhkan.

Kini, beberapa orang bergerak untuk menertibkan dan memusatkan informasi dengan menggunakan media sosial untuk mengedarkan kontak dan persediaan penting kepada keluarga.

Tanu, 28 tahun, pulih dari virus corona lebih dari tiga minggu lalu. Ia merupakan salah satu sukarelawan yang melayani panggilan darurat masyarakat.

Perempuan itu merespon permintaan dari kerabat pasien Covid-19 untuk kemudian memverifikasi informasi tentang persediaan kesehatan.

"Ada satu insiden yang mengguncang saya - itu adalah permintaan dari Twitter tentang perempuan berusia 30 tahun yang sedang hamil enam bulan," katanya.

"Saturasi oksigennya rendah dan keluarganya sangat ingin mendapatkan perawatan di rumah sakit Delhi. Teman-teman dan saya berusaha sekuat tenaga, menelepon ke rumah sakit, dan mencoba mencari petunjuk tetapi dia tidak dapat diselamatkan."

Tanu belajar bahwa informasi dapat dengan cepat menjadi usang dan sering salah - jadi dia pergi keluar setiap hari untuk memverifikasi lokasi dan ketersediaan sumber daya secara fisik - seperti tabung oksigen di Delhi.

Tanu menegaskan bahwa mereka telah mengemban tanggung jawab pemerintah, dan permintaan terus menumpuk.

"Dengan keadaan ini, kemungkinan besar salah satu anggota keluarga saya juga akan berakhir dalam situasi yang sama," katanya.

"Banyak orang sekarat, bukan karena virus corona tetapi karena kurangnya perawatan medis. Kita harus meminta pertanggungjawaban pemerintah."

(ita/ita)