Duh! Pernikahan Anak Melonjak Selama Pandemi Corona

BBC Indonesia - detikNews
Senin, 08 Mar 2021 18:39 WIB
Jakarta -

Jutaan anak perempuan di seluruh dunia berisiko dipaksa menikah, menurut laporan terbaru Badan Perserikatan Bangsa-bangsa untuk Anak-anak (Unicef). Jumlah ini di luar angka 100 juta anak yang lebih dulu diprediksi Unicef sebelum pandemi Covid-19.

"Keluarga mengatakan aku semestinya tidak menolak tawaran jika seorang anak laki-laki yang ingin menikahiku datang dari keluarga kaya," kata Abeba, anak perempuan berusia 14 tahun di Ethiopia.

Beberapa bulan lalu Abeba berada dalam tekanan berat dari ibu dan saudara kandungnya untuk menerima seorang pelamar, menikah, dan membantu keluarganya keluar dari jerat finansial selama pandemi Covid-19.

Abeba bercita-cita menjadi dokter. Namun di kampung halamannya di South Gondar, masa depan pendidikannya tidak jelas.

Rabi, bukan nama sebenarnya, merupakan anak perempuan lainnya yang berusia 16 tahun. Dia masih duduk di bangku sekolah menengah pertama di Gusau, Nigeria. Empat teman dekatnya di sekolah menikah selama pandemi ini.

Dan ibunya berkeras, Rabi semestinya mengikuti jejak para sahabatnya.

"Dua tetangga kami menikah pekan ini, Insha Allah. Saya tidak akan pernah tahu kapan giliran saya tiba," ujar Rabi.

Pernikahan anak bukan hal baru. Selama satu dekade ke depan, menurut Unicef, akan ada lebih dari 10 juta anak perempuan baru yang berpotensi menjadi mempelai pada usia yang sangat muda.

Sebelum pandemi bergulir, Unicef memperkirakan sekitar 100 juta anak-anak menjalani pernikahan paksa hingga 10 tahun ke depan. Angka itu kini diperkirakan meningkat hingga 10%.

Graphics shows that 10 million more girls are at risk of becoming child brides by 2030BBC

Penutupan sekolah, kondisi ekonomi yang menurun serta terhambatnya bantuan untuk keluarga terdampak memperbesar potensi anak perempuan menjadi istri sebelum berusia dewasa pada tahun 2030. Demikian salah satu kesimpulan riset Unicef.

"Angka-angka ini memaparkan bahwa dunia menjadi tempat yang lebih sulit bagi anak perempuan," kata Nankali Maksud, penasihat senior untuk Pencegahan Praktik Berbahaya di Unicef.

Abeba mengaku akhirnya berhasil keluar dari perjodohan paksa setelah mendapat dukungan dari ayahnya.

"Ibu dan saudara laki-laki saya, mereka terus mendorong saya untuk menikah. Mereka pada akhirnya mengalah ketika keluarga saya mendapat konseling dan sejumlah pejabat membujuk mereka berubah pikiran," kata Abeba.

Namun, bagi Rabi, ancaman pernikahan dini itu masih tetap ada.

Rabi tinggal di daerah pertanian di Damba, pemukiman suku Hausa-Fulani di utara Nigeria. Di kawasan ini, perempuan muda menikah tak lama setelah dia memiliki pelamar yang kuat.

pernikahan anak, unicef

Banyak anak perempuan Suku Fulani di Nigeria tidak akan kembali ke sekolah setelah pandemi Covid-19. Banyak dari mereka tak sanggup melawan pernikahan dini. (Getty Images)

"Bagi saya semua persoalan ini dimulai selama penutupan wilayah, ketika adik-adik saya bermain ejaan kata-kata dan saya memutuskan ikut bermain dengan mereka," kata Rabi.

Rabi dimarahi ibunya ketika tengah berada di tengah permainan. itu "Dia berkata, 'Kamu telah menyia-nyiakan cukup waktu untuk pergi ke sekolah! Lihatlah adik-adikmu yang harus mengajarimu!'"

"Sekarang, semua anak perempuan di angkatanmu sudah dinikahkan. Saya akan meminta Syafi'u (orang yang melamar Rabi) untuk mengirim orang tuanya dan secara resmi memintamu untuk menikah," kata ibu Rabi.

Empat kawan Rabi, yaitu Habiba, Mansura, Asmau, dan Raliya menikah dalam satu tahun terakhir. Alasan mereka, untuk meringankan kesulitan ekonomi keluarga.

Seorang perempuan lokal yang berteman dengan ibu Rabi tidak mengerti keengganannya.

"Apa lagi yang akan ditunggu orang tua?" katanya kepada BBC.

"Aku tidak mampu membiayai sekolah putriku. Pernikahan adalah kesempatan bagi seorang anak perempuan untuk hidup nyaman dan jumlah orang di rumah akan berkurang," ucapnya.

Tren yang bisa dibalik

Sejak 2011, jumlah anak perempuan yang menikah sebelum dewasa turun 15%, tapi Unicef menilai tren itu terancam akibat pandemi.

pernikahan anak, unicef

Organisasi advokasi perempuan di Banglades selama bertahun-tahun memerangi tren pernikahan anak. (Getty Images)

"Kami membuat kemajuan secara global dalam mengurangi angka perkawinan anak. Masih belum cukup untuk mencapai tujuan kami untuk menghapusnya, tapi kami menuju ke arah yang benar," kata Maksud.

"Tapi Covid membuat kami semakin keluar jalur. Kehidupan remaja perempuan secara global semakin memburuk," ucapnya.

Graphic showing the percentage of child brides in various regionsBBC

Ada beberapa tren positif yang tercermin dalam laporan Unicef. Meski pernikahan anak masih merupakan praktik umum di beberapa bagian dunia, pencegahan yang tepat semakin jarang dilakukan.

Tren yang diperkirakan meningkat akibat pandemi mungkin berbalik, menurut para ahli.

Bisakah pernikahan anak dicegah?

A school playground in Africa - a billboard reads

Sekolah kerap menjadi tempat aman bagi anak-anak perempuan dari ancaman pernikahan dini. (UNICEF)

Para ahli percaya pernikahan anak dapat dicegah dengan intervensi sosial yang tepat waktu.

"Dan contoh sempurna adalah India. Selama 30 tahun terakhir, India memiliki program transfer tunai berskala nasional yang sangat besar," kata Maksud.

Lewat program itu, banyak keluarga di India menerima kompensasi finansial karena tidak menikahkan putri mereka yang masih di bawah umur.

Selain itu, jika perkawinan tidak bisa dicegah, melainkan ditunda, dampaknya tetap bermanfaat bagi masyarakat.

"Itu sangat penting, karena kita memungkinkan anak-anak perempuan ini untuk menyelesaikan sekolah, memiliki pilihan dalam kehidupan, menguasai keterampilan tertentu.

"Dan hasilnya, kita lebih berpeluang menghentikan lingkaran kemiskinan," kata Maksud.

Setelah pandemi

Maksud mengungkapkan terdapat tiga elemen kunci yang perlu diatasi untuk mengatasi tren pengantin anak.

"Pertama-tama, kembalikan gadis-gadis ke sekolah dengan cara yang paling aman," kata Maksud. Atau beri mereka kesempatan untuk mengembangkan keterampilan, seperti berdagang dan membuat kerajinan tangan.

Graphic showing how the pandemic has exacerbated child marriagesBBC

"Kita juga perlu mengatasi dampak ekonomi yang terjadi selama pandemi Covid-19 di kelompok rumah tangga miskin, sehingga beban keuangan tidak dihadapi dengan cara menjual atau menikahkan anak perempuan," lanjut dia.

Maksud juga mengungkapkan kehamilan anak perempuan adalah pendorong signifikan di balik pernikahan di bawah umur.

"Sangat penting bahwa layanan kesehatan seksual dan reproduksi dilanjutkan, sehingga anak perempuan dapat mengaksesnya serta memiliki informasi dan bantuan yang mereka butuhkan untuk dapat membuat pilihan yang tepat," kata Maksud.

'Pengaruh konseling'

pernikahan anak, unicef

Abeba dan Mekdes, bersama kawan mereka, Wude. Ketiganya berhasil menghindar dari pernikahan anak. (UNICEF)

Di Ethiopia, Abeba berharap teman temannya akan tetap bersekolah dengannya dan menghindari perjodohan sebelum lulus.

Mekdes, 14 tahun, bercita-cita menjadi insinyur.

"Saat kami tinggal di rumah selama karantina wilayah, saya mendengar orang tua saya berbicara tentang rencana menikahkan saya dengan seorang anak laki-laki yang bahkan tidak saya kenal," kata Makdes.

"Saya berkata bahwa saya tidak ingin menikah dan ingin belajar, tapi mereka tidak mau mendengarkan.

"Saya menunggu sampai sekolah kami dibuka dan memberi tahu hal ini kepada direktur sekolah," kata remaja itu.

"Dia memberi tahu pejabat berwenang di daerah kami, dan mereka menasihati orang tua saya agar tidak melakukan pemaksaan ini," kata Mekdes.

Orangtua Makdes telah berjanji untuk tidak menikahkannya sampai dia berusia 18 tahun.

"Layanan konseling sangat membantu masyarakat kami. Sekarang bahkan ada sistem bagi polisi untuk menuntut orang tua jika mereka menolak dan berkeras menikahkan kami," ujar Mekdes.

Lihat juga Video: Tantangan Besar KPAI dalam Mencegah Pernikahan Anak

[Gambas:Video 20detik]



(ita/ita)