Kisah Siswi Nigeria yang Diculik-Dibawa ke Hutan dan Disuruh Tinggal di Gua

BBC Indonesia - detikNews
Sabtu, 06 Mar 2021 15:03 WIB
Getty Images
Jakarta -

Seorang anak perempuan yang diculik dari sebuah sekolah menengah di Nigeria mengatakan dia tetap ingin kembali ke sekolah jika situasinya memungkinkan, meskipun telah melalui pengalaman yang berat dan mengerikan.

Saat berbicara dengan BBC Hausa, gadis yang identitasnya kami rahasiakan karena alasan keamanan, menceritakan ketakutannya saat orang-orang bersenjata menangkap 279 siswi di negara bagian Zamfara dan menggiring mereka ke hutan.

"Saya benar-benar ingin kembali ke sekolah karena saya menginginkan masa depan yang cerah ... tetapi kami butuh pemerintah untuk menjaga sekolah kami sehingga saya bisa berani untuk kembali [bersekolah]," ujarnya.

Dia menceritakan ledakan keras dan suara tembakan yang membangunkan mereka sekitar pukul 01:00 pada Jumat (26/02) lalu, ketika sekelompok orang bersenjata masuk ke asramanya, dan mengejutkan banyak siswa.

"Kami mengira guru kami yang membangunkan kami untuk salat Subuh.

"Kemudian ada tembakan saat orang-orang masuk ke asrama - saat itu kami semua berteriak," katanya.

Para pria itu kemudian mengancam akan menembak siapa pun yang terus berteriak dan membuat anak-anak perempuan itu semakin ketakutan.

Semua siswi kemudian dibawa ke satu tempat pertemuan dan diminta untuk menunjukkan asrama lain oleh para penculik mereka.

"Beberapa dari mereka bersama kami sementara yang lain pergi ke asrama-asrama dan membawa siswi lainnya. Kemudian mereka memerintahkan kami keluar dari sekolah, menembak ke udara, dan menggiring kami ke hutan di belakang sekolah," katanya.

Map: Nigeria

Banyak dari siswi perempuan itu tidak memakai sepatu saat mereka berjalan bermil-mil di antara semak berduri di hutan, beberapa anak hanya mengenakan pakaian tidur, sementara satu orang berhasil menarik sprei tempat tidurnya saat beranjak dari asrama.

Sprei itu kemudian menyelamatkan salah satu rekannya dari cuaca yang dingin.

Semua 279 gadis yang diculik oleh pria bersenjata yang menyerang Sekolah Menengah Perempuan Negeri di Jangebe sekarang telah dibebaskan.

Namun, gadis-gadis yang sekarang telah kembali ke rumah masing-masing itu mengalami trauma lebih lanjut pada hari Rabu (03/03) ketika angkatan bersenjata dilaporkan melepaskan tembakan saat mereka dipersatukan kembali dengan orang tua mereka.

Setidaknya tiga orang dilaporkan tertembak pada upacara penyerahan resmi itu, tetapi tidak jelas apakah ada korban jiwa.

'Mereka menyembunyikan kami di dalam gua'

Setelah berjalan bermil-mil dalam kegelapan hutan, gadis-gadis itu dipaksa oleh para penculik mereka untuk tidur di dalam gua.

"Kami melakukan perjalanan setidaknya selama 12 jam ... pada saat kami tiba di kamp mereka, kami sangat lelah.

"Mereka membagi kami menjadi dua kelompok. Ada dua pohon besar dengan gua-gua lebar di dekat aliran air, dan mereka meminta setiap kelompok untuk masuk ke dalam gua.

"Gua itu terlalu kecil untuk setiap kelompok, tapi begitulah cara kami bertahan," katanya.

Girls in blue hijab at Zamfara state government house

Para siswa ditampung di rumah pemerintah negara bagian Zamfara setelah dibebaskan oleh orang-orang bersenjata itu. (Getty Images)

Dia mengatakan bahwa tidak semua anak sanggup mengikuti perjalanan itu.

"Mereka tidak datang dengan membawa kendaraan, tetapi ketika kami sampai di sebuah gunung besar dan mereka menyadari sebagian besar dari kami lelah dan tidak dapat melanjutkan perjalanan, mereka memanggil agar dibawakan sepeda motor.

"Mereka yang kelebihan berat badan atau lemah diizinkan naik sepeda motor, tetapi sebelumnya mereka dicambuk oleh para pria itu," katanya.

Di kamp, gadis-gadis itu dipaksa memasak makanan mereka sendiri dan para penculiknya mengantar mereka ke sungai untuk mengisi jerigen dengan air.

Makanannya adalah nasi, kacang-kacangan, dan tepung jagung guinea yang mereka makan bersama, makanan yang sama, dua kali sehari.

Gadis itu mengatakan penculik mereka hanya berbicara dalam bahasa Fulfulde, bahasa yang digunakan oleh orang-orang Fulani di Nigeria utara.

Dia tidak mengerti bahasanya tapi beberapa temannya menguasai bahasa tersebut menerjemahkan untuk yang lain.

'Kami berteriak dalam kebahagiaan'

Pada suatu kesempatan, mereka mendengar para penculik mengatakan bahwa para siswi tidak akan selamat jika pemerintah tidak membayar uang tebusan.

Gubernur negara bagian Zamfara mengatakan tidak ada uang tebusan yang dibayarkan untuk membebaskan gadis-gadis itu, tetapi dia telah bernegosiasi melalui bandit-bandit lainnya yang telah bertobat.

Littered pillows and mattresses

Di tengah kekacauan pada malam mereka diculik, seorang gadis sempat menarik sprei tempat tidurnya. (Getty Images)

Cara negosiasi tidak berarti apa-apa bagi para anak perempuan itu, yang terkejut pada hari mereka dibebaskan.

"Mereka tidak memberi tahu kami bahwa kami akan pulang hari itu. Setelah matahari terbenam seusai makan malam, mereka meminta kami untuk pindah.

"Kami mengira mereka mengubah lokasi kami dan setelah berjalan lama, beberapa dari kami mulai mengeluh," katanya.

Mereka kemudian diteriaki oleh orang-orang yang mengungkapkan kepada mereka bahwa mereka akan pulang.

"Kami mulai berteriak dalam kebahagiaan tetapi mereka menghentikan kami. Setelah perjalanan panjang, mereka berhenti di satu titik dan mengatakan kepada kami untuk lanjut sampai kami bertemu dengan petugas keamanan," katanya.

Simak video '279 Siswi yang Diculik di Nigeria Akhirnya Dibebaskan':

[Gambas:Video 20detik]



(ita/ita)