Foto-foto Ungkap Upaya John F Kennedy Ajak Negara Afrika Jauhi Uni Soviet

BBC Indonesia - detikNews
Sabtu, 27 Feb 2021 18:32 WIB
Presiden John F Kennedy bertemu dengan Presiden pertama Ghana dan pan-Afrikais terkemuka Kwame Nkrumah di Gedung Putih pada Maret 1961 (JFK Presidental Library)
Washington DC -

Presiden Amerika Serikat ke-35, John F Kennedy, meletakkan fondasi dalam membangun pola hubungan AS dengan Afrika. Foto-foto yang digali oleh penulis Sierra Leone-Gambia, Ade Daramy, mengungkap peran JFK tersebut.

Short presentational grey lineBBC

Sebelum Kennedy menjadi presiden pada tahun 1961, AS kurang memberikan perhatian untuk memahami perubahan cepat yang sedang dialami Afrika.

Pada saat dia dibunuh pada 1963, gambaran itu berubah secara drastis.

Dalam kepemimpinannya yang singkat, Kennedy telah menerima pemimpin dari setiap negara Afrika merdeka maupun duta besarnya - yang jumlahnya lebih dari dua lusin pada saat itu - di Gedung Putih.

Presiden John F. Kennedy bertemu Presiden Senegal Leopold Sedar Senghor

Presiden Senegal Leopold Sedar Senghor, seorang tokoh kunci dalam gerakan anti-kolonial di negara-negara bekas jajahan Perancis, terbang ke Washington pada November 1961 (JFK Presidential Library)

Setahun sebelum dia menjadi presiden, 17 negara Afrika telah memperoleh kemerdekaan dari penjajahan. Menyadari dunia sedang berubah, Kennedy tahu bahwa hubungan baru perlu dibentuk.

Hubungan itu didasarkan pada dukungan terhadap negara-negara Afrika yang baru merdeka.

Sikap Kennedy merupakan pandangan kebijakan luar negeri AS yang secara mendasar bertahan hingga Presiden Donald Trump memimpin - menggantinya dengan pendekatan yang lebih transaksional.

Dilaporkan bahwa Trump menggunakan bahasa yang menghina ketika berbicara tentang Benua Afrika, serupa dengan pendahulu Kennedy, Dwight D Eisenhower, yang memiliki pandangan negatif.

Eisenhower mengatakan kepada Presiden Togo, Sylvanus Olympio, bahwa alasan AS berbagi satu duta besar dengan Togo dan Kamerun adalah karena dia tidak ingin diplomatnya "harus tinggal di tenda"

Presiden John F. Kennedy berbicara pada upacara kedatangan Presiden Togo, Sylvanus Olympio

Presiden Togo Sylvanus Olympio disambut di bandara oleh Kennedy pada Maret 1962 (JFK Presidential Library)

Selama kampanye pemilu 1960, Kennedy berulang kali mengkritik pemerintahan Eisenhower karena "mengabaikan kebutuhan dan aspirasi rakyat Afrika" dan menekankan bahwa AS harus berpihak pada anti-kolonialisme dan penentuan nasib sendiri, bukan di pihak penjajah.

Setelah berkuasa, Kennedy mengundang para pemimpin Afrika untuk melakukan kunjungan kenegaraan ke AS dan meletakkan karpet merah hubungan AS-Afrika.

Haile Selassie disambut oleh Presiden Kennedy

Kaisar Ethiopia Haile Selassie, salah satu pendiri Organisasi Persatuan Afrika pada Mei 1963, disambut di Washington oleh ibu negara Jacqueline Kennedy dan presiden pada bulan Oktober tahun itu. (JFK Presidental Library)

Ditemani oleh ibu negara Jackie Kennedy, JFK menyapa setiap tamu - termasuk Kaisar Ethiopia Haile Selassie dan Raja Hassan IV dari Maroko - ketika mereka tiba di negara itu.

Haile Selassie melewati jalan-jalan ibu kota AS

Haile Selassie melewati jalan-jalan ibu kota AS (JFK Presidental Library)

Kunjungan itu disempurnakan dengan prosesi pemberian kehormatan, makan malam mewah, serta kunjungan ke penampilan balet, teater, dan tempat-tempat bersejarah.

Presiden Kennedy mengadakan makan malam kenegaraan

Felix Houphout-Boigny, Presiden pertama Pantai Gading, dan istrinya, Marie-Therse Houphout-Boigny, diundang ke jamuan makan malam resmi selama kunjungan mereka pada Mei 1962 (JFK Presidental Library)

Setiap kunjungan itu disorot oleh media. Publik didorong berpartisipasi dan menunjukkan kegembiraan.

Kennedy dan tamunya melalui jalan-jalan yang dihiasi dengan spanduk sambutan dan sorak-sorai orang banyak dan, jika cuaca memungkinkan, di dalam mobil atap terbuka.

Tentu saja, ada unsur real politik dalam semua upaya ini. Uni Soviet membuat tawaran serupa dengan negara-negara Afrika yang berusaha menjauhkan diri dari para kolonial.

Saat menjabat, Kennedy tahu dia harus bertindak cepat untuk merangkul negara-negara Afrika yang sedang berkembang dan agar menjauhi Uni Soviet - saat itu terjadi Perang Dingin.

Presiden John F. Kennedy menyampaikan sambutan pada upacara kedatangan untuk menghormati Presiden Guinea, Ahmed Sekou Toure.

Presiden Guinea Ahmed Sekou Toure, yang pada tahun 1958 memimpin negara itu merdeka dari Prancis dua tahun sebelum sebagian besar koloni Afrika lainnya, berada di Washington pada bulan Oktober 1962 (JFK Presidental Library)

Di Ruang Oval, Gedung Putih, John F Kennedy mengatakan kepada Asosiasi Nasional Perempuan Kulit Berwarna: "Saya percaya bahwa ... jika kita memenuhi cita-cita revolusi kita sendiri, maka arah revolusi Afrika dalam dekade berikutnya adalah menuju demokrasi dan kebebasan. Dan bukan terhadap komunisme dan apa yang bisa menjadi jenis kolonialisme yang jauh lebih serius."

Sebulan setelah pelantikannya, dia meminta Wakil Presiden Lyndon B Johnson untuk pergi ke Senegal untuk bertemu dengan Presiden Leopold Sedar Senghor, yang dia lihat sebagai sekutu kunci dalam merangkul negara-negara Francophone - bekas jajahan Perancis.

Sebulan kemudian, Kennedy meluncurkan Korps Perdamaian - yang mengirim pemuda AS ke seluruh dunia - dan pada Agustus 1961, mengundang ke Gedung Putih kumpulan sukarelawan pertama yang bersiap-siap untuk pergi ke Ghana dan Tanganyika.

Pembunuhan pahlawan kemerdekaan Kongo, Patrice Lumumba, yang diduga melibatkan badan intelijen AS (CIA), tiga hari sebelum Kennedy menjabat adalah pengingat bahwa pertempuran Perang Dingin dengan Uni Soviet juga sedang dimainkan di benua itu.

Presiden John F. Kennedy bertemu dengan William V.S. Tubman, Presiden Liberia

William Tubman, presiden Liberia, yang ibukotanya diambil dari nama mantan Presiden AS James Monroe, duduk bersama Kennedy pada Oktober 1961 (JFK Presidential Library)

Tetapi saya berpendapat bahwa Kennedy benar-benar tertarik pada perkembangan dan kemajuan benua itu. Para pemimpin Afrika yang berjuang keras untuk mendapat kemerdekaan tidak naif dan mengambil kata-kata Kennedy: bahwa hubungan itu bisa saling menguntungkan.

Kematiannya yang terlalu dini sangat terasa di Afrika - terutama karena penggantinya, Johnson, tidak memiliki dorongan yang sama dalam mempererat hubungan.

Sekarang, 60 tahun kemudian, Presiden Joe Biden mulai membentuk kebijakannya terhadap Afrika.

Dalam sebuah pernyataan awal bulan ini, dia mengatakan AS siap menjadi "mitra Afrika, dalam solidaritas, dukungan, dan saling menghormati".

Kata-kata Biden menggemakan komitmen JFK - sekarang kami menunggu untuk melihat apakah tindakan tersebut sesuai dengan retorika.

(nvc/nvc)