China Perintahkan Pria Bayar Ganti Rugi Pekerjaan Rumah Tangga ke Eks Istri

BBC Indonesia - detikNews
Rabu, 24 Feb 2021 16:46 WIB
Menurut data Organisasi Kerjasama Ekonomi dan Pembangunan (OECD), kalangan perempuan di China menghabiskan hampir empat jam sehari untuk pekerjaan yang tidak dibayar (Getty Images)
Jakarta -

Pengadilan perceraian di Kota Beijing, China, memerintahkan seorang pria untuk membayar ganti rugi kepada mantan istrinya atas pekerjaan rumah tangga yang dia lakukan selama mereka berumah tangga.

Perempuan itu akan menerima ganti rugi senilai 50.000 yuan (sekitar Rp109 juta) beserta tunjangan bulanan dari mantan suaminya setelah bekerja tanpa diupah selama lima tahun.

Kasus ini mengundang perdebatan di jagad maya China soal nilai dari pekerjaan rumah tangga. Ada beberapa warganet yang menilai ganti rugi itu masih terlalu sedikit.

Putusan pengadilan itu muncul setelah China memberlakukan undang-undang perdata yang baru.

Menurut catatan pengadilan, pria yang disebut bermarga Chen itu tahun lalu melayangkan gugatan cerai kepada istrinya, yang bermarga Wang, setelah menikah pada 2015.

Wang awalnya enggan untuk bercerai. Tapi akhirnya ia minta ganti rugi finansial, dengan berargumen bahwa suaminya itu tidak memikul tanggungjawabnya dalam pekerjaan rumah tangga maupun mengurus putra mereka.

Pengadilan Distrik Fangshan di Kota Beijing akhirnya mengabulkan tuntutan Wang.

Chen diperintah hakim harus membayar tunjangan bulanan kepada mantan istrinya itu sebesar 2.000 yuan (sekitar Rp4,3 juta), selain pembayaran tunai sebesar 50.000 yuan (sekitar Rp109 juta) atas segala pekerjaan rumah yang sudah dilakukan Wang sendirian.

Hakim ketua mengungkapkan kepada wartawan Senin (22/02) bahwa pembagian properti bersama dari suatu pasangan setelah mengakhiri pernikahan biasanya berupa properti yang berwujud.

"Tapi pekerjaan rumah tangga merupakan nilai properti yang tidak berwujud," kata hakim.

Putusan dari hakim itu dibuat menurut undang-undang perdata yang baru di China, yang mulai berlaku tahun ini.

Menurut undang-undang itu, pasangan suami istri berhak mendapat kompensasi bila mau bercerai bila satu atau keduanya memikul tanggung jawab dalam membesarkan anak, merawat kerabat yang sudah usia lanjut, dan membantu pasangannya dalam pekerjaan selama berumah tangga.

Sebelumnya, pasangan yang bercerai hanya bisa menuntut ganti rugi jika sebelum menikah menandatangani perjanjian pra-nikah - hal yang tidak biasa di China.

Di media sosial, kasus tersebut mengundang perdebatan panas, yang mana tagar terkait kasus itu di platform Weibo sudah dilihat lebih dari 570 juta kali.

Beberapa warganet beranggapan bahwa ganti rugi 50.000 yuan atas pekerjaan rumah tangga selama lima tahun itu masih terlalu sedikit. "Saya sulit berkata-kata, pekerjaan seorang ibu rumah tangga ternyata dinilai rendah.

Di Beijing, menyewa pengasuh selama setahun saja sudah berbiaya lebih dari 50.000 yuan," kata seorang netizen.

Yang lain menilai bahwa kaum laki-laki harus mengemban lebih banyak pekerjaan rumah tangga. Kalangan warganet lain juga menyerukan agar kaum perempuan tetap melanjutkan karier setelah menikah.

"Ibu-ibu, ingatlah agar selalu mandiri. Jangan lepas karier setelah menikah, carilah jalan keluar sendiri," demikian tulis seorang warganet.

Yang lain menilai bahwa kaum laki-laki harus mengemban lebih banyak pekerjaan rumah tangga. Kalangan warganet lain juga menyerukan agar kaum perempuan mendahulukan karier ketimbang pernikahan. "Ibu-ibu, ingat lah agar selalu mandiri. Jangan lepas karier setelah menikah, carilah jalan keluar sendiri," demikian tulis seorang warganet.

Menurut data Organisasi Kerjasama Ekonomi dan Pembangunan (OECD), kalangan perempuan di China menghabiskan hampir empat jam sehari untuk pekerjaan yang tidak dibayar- sekitar 2,5 kali lipat lebih banyak dari laki-laki.

Angka itu lebih tinggi dari rata-rata negara anggota OECD, di mana kaum perempuan di sejumlah negara maju itu menghabiskan waktu dua kali lipat lebih banyak dari laki-laki dalam melakukan pekerjaan yang tidak dibayar.

(ita/ita)