Kenapa Ada Negara-negara yang Lebih Berhasil Atasi Pandemi Corona?

BBC Indonesia - detikNews
Selasa, 19 Jan 2021 09:52 WIB
Korea Selatan dengan cepat menerapkan program pengujian dan pelacakan massal di awal pandemi. (Reuters)
Jakarta -

Pada 2019 lalu, sebuah badan pemeringkat global menemukan bahwa Amerika Serikat dan Inggris menjadi contoh-contoh baik dalam kesiapsiagaan pandemi, sementara Selandia Baru, China dan Vietnam tertinggal jauh.

Namun melihat di tahun 2021 ini, dan dengan adanya pandemi virus corona, tampaknya Indeks Keamanan Kesehatan Global oleh Yayasan Bill and Melinda Gates itu kurang tepat.

Di AS dan Inggris, pandemi digambarkan sebagai sesuatu yang tidak terkendali. Sementara itu, respons ketat China diakui oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Sementara, Selandia Baru dipuji sebagai teladan dan Vietnam hanya mencatat 35 kematian akibat Covid dari populasi sebesar 95 juta.

Tampaknya beberapa negara yang sebelumnya terkesan siap justru bereaksi buruk terhadap pandemi di kehidupan nyata, dan negara-negara lain yang memiliki celah-celah kelemahan dalam kesiapan ternyata bertindak lebih baik dalam memerangi Covid. Tetapi apa yang bisa menjelaskan hal ini?

Tantangan dalam melihat perbandingan

"Setiap orang menghadapi virus yang sama, jadi mengapa berbagai negara menanggapi secara berbeda?" tanya Profesor Elizabeth King, peneliti kesehatan global di Universitas Michigan di AS.

A healthcare worker collects a nasal swab sample of a boy at a drive in COVID-19 testing center in Brussels, Belgium, 12 January 2021

Melihat perbandingan tanggapan negara-negara memiliki tantangan tersendiri karena setiap negara mengukur hasil mereka dengan cara yang berbeda. (EPA)

Prof King adalah salah satu editor sebuah buku baru yang membandingkan berbagai tanggapan nasional terhadap gelombang pertama virus corona pada awal 2020. Enam puluh peneliti dari 30 negara di Asia, Eropa, Afrika, dan Amerika telah menyumbangkan tulisan mereka.

Menggambarkan perbandingan internasional memiliki sebuah tantangan tersendiri karena setiap negara menggunakan ukuran yang berbeda untuk mengukur kinerja mereka.

Belgia, misalnya, memasukkan dugaan kasus Covid-19 dalam statistik kematian, yang membuat jumlah kematiannya secara keseluruhan tampak lebih tinggi daripada di negara-negara lain. Jerman dan Prancis selalu memasukkan rumah perawatan lansia dalam angka kematian utama mereka, sedangkan di Inggris fokusnya adalah yang terjadi di rumah sakit.

Membandingkan jumlah kasus bahkan lebih rumit. Jumlah tes yang lebih tinggi berarti akan mengidentifikasi jumlah kasus yang lebih banyak, dan skala pengujian sangat bervariasi selama pandemi, seperti juga keputusan tentang siapa yang harus dites.

Ada juga detail-detail terkait komposisi demografis di setiap negara. Seperti contohnya Italia, di mana lebih dari seperlima populasi negara itu berusia di atas 65 tahun, sehingga membuatnya lebih rentan terhadap Covid-19. Sementara populasi Afrika jauh lebih muda - benua ini memiliki 19 dari 20 'negara termuda' di dunia.

Namun demikian, tampaknya apa yang dilakukan oleh sebuah pemerintahan - dan mungkin yang lebih penting lagi seberapa cepat pemerintah bertindak - memiliki pengaruh yang besar pada hasil secara nasional selama gelombang pertama pandemi.

Politik dan Covid-19

A nurse shows RussiaPemerintah Rusia telah dikritik karena terburu-buru menjalankan program vaksinnya akibat alasan politik. (Reuters)

Lebih dari sekadar perbandingan hasil, Prof King dan rekan-rekannya ingin memahami bagaimana kebijakan kesehatan masyarakat juga dipengaruhi oleh faktor-faktor lain.

Mereka mengatakan bahwa faktor-faktor seperti sistem pemerintahan (baik demokrasi atau otokrasi), lembaga politik formal (federalisme, presidensialisme, dll), dan kapasitas negara (kontrol atas sistem perawatan kesehatan dan administrasi publik) berkontribusi terhadap tanggapan pemerintah terhadap Covid-19.

Ketika China mengambil langkah yang belum pernah terjadi sebelumnya untuk mengkarantina 50 juta orang di provinsi Wuhan, pada Januari 2020, misalnya, beberapa orang berpendapat bahwa rezim otoriter mungkin memiliki keuntungan dibandingkan demokrasi dalam perang mereka melawan Covid-19.

Tapi perdebatan menjadi lebih bernuansa setelah sistem-sistem demokrasi Barat, dimulai dengan Italia, mulai menjalankan pembatasan juga.

Sistem politik

Police wearing protective suits block a road in the Chinese city of Shijiazhuang, January 2021

China adalah negara pertama yang memberlakukan karantina wilayah dan terus menggunakannya di area tempat Covid muncul kembali. (Getty Images)

Meski pemerintahan otoriter mungkin menghadapi lebih sedikit penentangan terhadap langkah penanganan apa pun yang mereka umumkan, menegakkannya adalah masalah yang berbeda.

Profesor King percaya bahwa jika pemerintah otoriter telah mengikis kepercayaan pada penduduknya, taktik ini mungkin tidak berhasil dalam jangka panjang. Jika orang-orang harus mematuhi langkah-langkah pembatasan, katanya, "arus informasi, kepercayaan pada pemerintah dan kepercayaan pada lembaga itu penting".

Dia menunjukkan bahwa tanggapan Rusia terhadap pandemi pada awalnya dirusak oleh kurangnya statistik yang terperinci. Namun dia menambahkan bahwa baru-baru ini pemerintah Rusia telah meningkatkan arus informasi dan telah menghasilkan serangkaian kebijakan sosial demi mengurangi dampak pandemi.

Namun, penyelidikan BBC Rusia menemukan bahwa kurangnya transparansi terus mempengaruhi kepercayaan publik terhadap pemerintah Rusia, terutama yang berkaitan dengan kemanjuran vaksin buatan negara itu sendiri, yang saat ini sedang dibagikan meski masih dalam uji klinis.

Nurses work during New Year's Eve at a field hospital set up at a sports gym to treat patients suffering with the coronavirus disease (COVID-19) in Santo Andre, Sao Paulo state, Brazil, December 31, 2020.

Lebih dari 200.000 orang telah meninggal dunia di Brasil, dan tanggapan pemerintah Presiden Bolsonaro banyak dikritik. (Reuters)

Sayangnya, dia mengingatkan, "kami melihat banyak rezim-rezim demokratis yang sebenarnya tidak memiliki arus informasi yang baik".

Presiden Brasil Jair Bolsonaro, misalnya, telah berulang kali merusak pesan kepada publik untuk melawan virus corona dan dituduh berkontribusi terhadap peningkatan jumlah kasus dan kematian yang mengerikan di negara tersebut.

Elize Massard da Fonseca, salah satu editor buku dan profesor di Universitas FGV di Sao Paulo, mengatakan kepada kantor berita FAPESP bahwa Bolsonaro menunjukkan "penghinaan terhadap sains" dan mengompori penyangkalan.

"Brasil berada pada posisi yang sangat baik untuk menangani pandemi secara efektif, tetapi sayangnya gagal melakukannya," katanya. Di beberapa bagian negara itu, sistem kesehatan kewalahan dengan kasus Covid-19.

Tetapi karena sistem federal memberi negara bagian kekuasaan yang signifikan atas perawatan kesehatan, pemerintah daerah dapat menjalankan karantina wilayah dan membeli peralatan dan vaksin secara mandiri.

Presiden AS Donald Trump juga telah dituduh mengecilkan masalah virus, dan telah berselisih dengan negara-negara bagian tentang bagaimana menanggapi pandemi.

Setelah tiga malam dirawat di rumah sakit ketika dia sendiri terjangkit Covid-19 pada bulan Oktober, dia membandingkannya dengan flu musiman, dan bersikeras bahwa itu bukan alasan untuk menutup negara itu.

Program pelacakan dan isolasi

A woman wears a protective mask as she drives past a banner promoting prevention against the coronavirus disease (COVID-19) in Hanoi, Vietnam July 31, 2020.

Vietnam menerapkan sistem penulusuran dan isolasi yang agresif dengan biaya rendah. (Reuters)

Prof King mengatakan bahwa beberapa negara yang memiliki infrastruktur kesehatan yang lebih lemah dapat berhasil menangani Covid-19 dengan menggunakan "reaksi yang cukup cepat terhadap epidemi" daripada menunda tindakan sampai situasinya memburuk.

"Mereka menerapkan intervensi non-medis dan berbasis bukti, seperti pemakaian masker, penjagaan jarak sosial, bersama dengan sistem yang kuat untuk melacak kasus dan [memberikan] dukungan," katanya.

Vietnam adalah contoh yang paling banyak dikutip, yang kemampuannya untuk melacak dan mengisolasi kasus Covid-19 sering dibandingkan dengan pendekatan pengujian dan penelusuran massal yang sangat sukses tetapi mahal di Korea Selatan.

Negara-negara Afrika Barat yang sebelumnya menderita akibat Ebola juga dapat memanfaatkan jaringan komunitas mereka untuk melacak dan memantau penyebaran Covid.

Pada gelombang pertama pandemi, pelajaran pelacakan dari epidemi-epidemi sebelumnya tampaknya telah membantu Afrika Selatan, yang sebelumnya mengatasi epidemi AIDS dengan "sangat salah", kata Profesor King.

Tetapi situasi di negara itu telah memburuk secara drastis pada gelombang kedua, sebagian akibat dari varian baru virus yang muncul di sana akhir tahun lalu.

Tanggapan kebijakan sosial

People queue to receive food parcels distributed by Meals on Wheels in Brapkan, South Africa, on July 6, 2020.

Jaringan komunitas Afrika Selatan awalnya membantu negara itu, tetapi negara itu telah dilanda varian baru coronavirus. (Getty Images)

Terakhir, Prof King mengatakan, tidak ada strategi yang akan berhasil sepenuhnya tanpa seperangkat kebijakan sosial yang kuat yang dirancang untuk memastikan individu dan bisnis kecil mampu mematuhi aturan pembatasan.

Covid-19 telah menyoroti ketidaksetaraan dalam akses terhadap perawatan kesehatan dan kemampuan orang untuk dapat tinggal di rumah demi melanjutkan pekerjaan yang mereka lakukan. Kemiskinan, jenis kelamin, keterampilan pekerjaan dan status imigrasi telah menjadi faktor-faktor yang menentukan siapa yang lebih rentan terhadap infeksi di masyarakat.

Namun berbagai pemerintahan memiliki perbedaan besar dalam membentuk kebijakan sosial yang mereka rancang untuk mengelola krisis dan mendorong pemulihan ekonomi.

Di Jerman, misalnya, pemerintah akan membayar cuti ekstra bagi orang tua yang harus menjalankan pekerjaan mereka sambil melaksanakan sekolah di rumah bagi anak-anak mereka.

Prof King menganggap bahwa ini yang menjadi faktor utama, dan bukan sifat kejam dari tindakan yang diberlakukan oleh Beijing, yang menjelaskan kekuatan pendekatan China dalam menangani pandemi.

"China telah berbuat cukup banyak untuk memastikan tidak ada kelaparan massal dengan menerapkan kebijakan sosial yang kuat. Jadi, agak berisiko untuk mengatakan itu karena sifat otoriternya, terutama ketika kita melihat tanggapan demokratis - seperti di Selandia Baru dan Jerman - yang juga melakukannya dengan baik. "

Waktu adalah kunci

A young woman wearing a protective facce mask and

Para ahli setuju bahwa bertindak cepat menjadi faktor penting dalam keberhasilan strategi nasional. (Reuters)

Meski berbagai tanggapan dibentuk oleh sejumlah faktor, Profesor King mengatakan bahwa kecepatan pemerintah menerapkan strategi mereka adalah "yang benar-benar menentukan kesuksesan" terhadap gelombang pertama Covid-19.

Pengamatannya sejalan dengan penelitian-penelitian lain yang menunjukkan bahwa penundaan tindakan menelan banyak nyawa dalam pandemi, dan membuat sistem kesehatan yang relatif kuat menjadi kewalahan oleh lonjakan kasus Covid.

"Buktinya sangat jelas sejak awal bahwa ini adalah pandemi besar-besaran - kami sebelumnya dan sampai saat ini sangat beruntung karena tingkat kematiannya tidak lebih tinggi dari yang sekarang ini," kata Ian J. Bateman, profesor Ekonomi Lingkungan di Universitas Exeter di Inggris dan penulis salah satu penelitian dalam bidang itu.

Prof Bateman mengatakan kepada BBC: "Korban dari Covid, tidak hanya dalam hal kematian, tetapi juga implikasi kesehatan jangka panjang dan efek samping ekonomi. Ini artinya mempercayai keberuntungan adalah pendekatan yang tidak tepat.

"Bertindak terlambat dan dengan setengah hati, pendekatan yang terlalu rumit dan tidak konsisten adalah faktor-faktor yang bisa menghasilkan lebih banyak kematian, lebih banyak penyakit, biaya yang lebih tinggi dan kerusakan ekonomi yang lebih besar."

(ita/ita)