Melihat Kota di Eropa yang Warganya Gemar Bersantai dan Bercengkrama

BBC Indonesia - detikNews
Sabtu, 14 Nov 2020 15:12 WIB
Jakarta -

Warga kota terbesar kedua di Bulgaria, Plovdiv, bangga dengan kebiasaan mereka yang santai dan berleha-leha.

Waktu memang terasa lebih lamban begitu Anda tiba di Plovdiv dengan menumpang bus dari ibu kota Bulgaria, Sofia.

Orang-orang di Plovdiv terkesan memiliki lebih banyak waktu. Lalu lintas jalanan lebih lengang.

Begitu Anda berjalan ke alun-alun melalui taman kota, Anda akan melihat sejumlah laki-laki uzur bermain catur. Ada pula sekelompok orang yang bersantai dan berbincang di bawah bayangan pohon-pohon tua.

Plovdiv memang berbeda. Perbedaan itu terlihat tapi sulit untuk diungkapkan.

Di kawasan pusat kota yang bernama Kapana, warga Plovdiv memenuhi bar dan kafe yang tempat duduknya menyesaki jalur pejalan kaki.

Di dekat mural berwarna cerah, beberapa muda-mudi berkumpul, saling menggoda, dan memainkan ponsel pintar. Di kafe dekat Masjid Dzhumaya, orang-orang duduk selama berjam-jam. Mereka menyeruput secangkir kopi Turki.

Sejumlah kucing di jalanan berbatu di kawasan kota tua bahkan tampak lebih lesu dibandingkan kucing di tempat lain. Mereka meregangkan tubuh, mendengkur, berguling, lalu tidur.

Jika Anda bertanya kepada orang-orang di kota ini mengapa Plovdiv begitu santai, mereka akan memberi tahu Anda bahwa Plovdiv adalah aylyak.

Terminologi aylyak jarang digunakan di luar kota Plovdiv, meski kata itu muncul di kamus bahasa Bulgaria sejak akhir abad ke-19.

Kata ini berasal dari bahasa Turki, aylaklk, yang dapat diterjemahkan sebagai kemalasan, membuang-buang waktu ,atau pengembaraan.

Akar katanya adalah, aylk, yang berarti bulan.

Menurut Yana Genova, Direktur Sofia Literature and Translation House, arti asli aylyak adalah seseorang yang akhirnya mengetahui makna waktu luang setelah dipekerjakan selama berbulan-bulan.

Kata kerja yang cocok dengan aylyak adalah bichim, turunan dari kata kerja "bicha", yang berarti memukul, mencambuk, atau memotong balok dan papan dari batang pohon.

Memukul, mencambuk atau memotong adalah pengingat bahwa aylyak adalah kegiatan aktif. Jika Anda ingin mengetahui makna kesenggangan, Anda harus memberikan waktu untuk diri Anda sendiri.

Anda harus melepaskan diri dari kekhawatiran sehari-hari.

Tapi apapun asal-usul kata itu, di Kota Plovdiv yang modern, aylyak telah memiliki arti khusus.

EropaAFP

Ketika Anda meminta warga Plovdiv menjelaskan artinya, mereka pasti akan menceritakan sebuah lelucon kepada Anda.

Leluconnya seperti ini:

Seorang warga Plovdiv sedang bertemu dengan pengunjung asal Spanyol. "Apa itu aylyak?," tanya orang Spanyol itu. Orang Bulgaria itu berpikir sejenak, lalu berkata, "Ini seperti istilah manana (besok saja) dalam bahasa Anda, tetapi tanpa unsur stres."

Tahun 2019, Plovdiv dianugerahi gelar Ibu kota Kebudayaan Eropa. Sebagai bagian dari kegiatan kota budaya, serangkaian diskusi publik digelar untuk mengeksplorasi makna aylyak secara lebih mendalam.

Forum itu diselenggarakan Fire Theatre Mime Company, organisasi yang dipimpin aktor, sutradara dan sekaligus seniman pantomim asal Bulgaria, Plamen Radev Georgiev.

Georgiev ingin mengetahui makna sejati aylyak, asal usulnya dan bagaimana terminologi itu menjadi berkaitan sangat erat dengan Kota Plovdiv.

Saya bertemu dengan Georgiev di sebuah kafe di Sofia. Ia lahir di Stara Zagora. Ketika tiba di Plovdiv tahun 2018, dia belum memahami kompleksitas budaya aylyak.

"Penelitian kami sulit," ujarnya. kepada saya. "Orang-orang bertanya mengapa kami tertarik dengan aylyak. Mereka bilang itu sama sekali bukan nilai. Itu hanya kemalasan."

Namun melalui diskusi publik, gambaran yang lebih utuh muncul. Aylyak, kata orang, tentang mencari waktu. Budaya itu terwujud dalam aktivitas duduk bersama teman untuk sarapan. Dan malam harinya mereka sadar bahwa mereka masih kongko.

Budaya ini tentang menikmati lingkungan, terkait status sosial. Orang-orang yang berdandan kluyuran di jalanan tanpa tahu apa yang hendak mereka lakukan.

Dan, pada tingkat yang lebih dalam, Georgiev menyebutnya begai 'Zen aylyak', tradisi ini berkaitan dengan kebebasan jiwa.

"Aylyak berarti Anda memiliki kesulitan hidup, tapi tetap merasa aman dari semua masalah itu," kata Georgiev.

Di Sofia, banyak orang yang saya ajak bicara skeptis pada budaya aylyak. Mereka menganggapnya tidak lebih dari pencitraan kota kebudayaan dan pemasaran kekinian. Saya pun tidak yakin.

Jadi, saya naik bus dari Sofia ke Plovdiv, untuk menghabiskan beberapa hari di kota itu dan menjalankan aylyak sendiri.

Di Plovdiv, saya bertemu Svetoslava Mancheva, antropolog dan direktur ACEA Mediator, sebuah organisasi yang didedikasikan untuk menghubungkan warga dan ruang kota.

Berasal dari Kardzhali di sisi barat daya Bulgaria, Svetoslava mengaku secara sadar mulai menjalankan aylyak. Dia tinggal di Plovdiv selama 10 tahun terakhir dan tidak berniat untuk pergi.

"Banyak orang tinggal di sini khusus untuk menjalankan aylyak," ujarnya.

Rekannya, Elitsa Kapusheva, memberi tahu saya bahwa dia dibesarkan di Plovdiv, tapi baru-baru ini kembali dari Berlin. Dia senang berada di kampung, Berlin bagus, tapi tidak ada aylyak.

Mancheva menilai aylyak berakar pada sejarah panjang keanekaragaman budaya di Kota Plovdiv. Sejarawan Mary C Neuberger menggambarkan bagaimana Plovdiv menjadi pusat komersial yang berkembang pesat pada abad ke-19.

Dari semua kota di Kekaisaran Ottoman, Plovdiv adalah kota terbesar kedua setelah Istanbul. Kota ini merupakan rumah bagi orang Yahudi, Yunani, Bulgaria, Roma, Armenia, dan Slavia. Mereka berdesakan di jalan dan kafe, atau kedai kopi.

Mancheva berkata, aylyak adalah jawaban atas tantangan hidup berdampingan dengan orang asing. "Ini cara menemukan tempat Anda sendiri di kota," ujarnya.

"Bagi saya, dasar dari aylyak adalah komunikasi. Anda tidak perlu menyukai satu sama lain. Yang penting adalah keinginan untuk berbicara, keinginan untuk mengerti," kata dia.

Catatan sejarah mencatat, kedai kopi di Plovdiv pada abad ke-19 adalah tempat berbaur para perajin dan pedagang.

Penyair Bulgaria abad ke-19, Hristo Danov, tidak setuju pada kebiasaan orang-orang menghabiskan sepanjang hari di kafe.

Dia menulis, orang-orang pergi ke kafe untuk merokok, mengobrol, minum kopi, dan "tidak sabar menunggu matahari terbenam sehingga mereka bisa beralih ke minuman alkohol brendi plum".

Orang asing juga merasakan nuansa santai Plovdiv yang unik. Dalam akun perjalanannya tahun 1906, penjelajah Inggris, John Foster Fraser terpesona oleh laju kehidupan di Plovdiv yang saat itu disebut Philippopolis.

Ini yang dia tulis saat itu:

"Bayangkan momen ini. Taman dengan banyak lampu. Di bawah pepohonan, terdapat meja yang tak terhitung banyaknya. Di sana seluruh Philippopolis menyeruput kopi, minum bir, bersulang minuman anggur satu sama lain.

Di salah satu ujung taman itu ada panggung kecil. Ada sebuah band Hungaria yang bermain dengan emosional. Saat itu Minggu malam dan Philippopolis sedang bersenang-senang."

Saat saya mengobrol dengan Mancheva dan Kapusheva tentang aylyak, mereka terus-menerus mengulang satu gagasan.

Mereka menyebut aylyak adalah budaya menemukan ruang di hari yang sibuk untuk minum kopi. Ini berkaitan dengan menemukan celah di kota, baik gang, taman kecil, bangku, atau tempat dapat berkumpul dengan teman, bermain musik, minum bir, atau mengobrol.

Aylyak adalah memberi ruang bagi orang lain saat Anda berkomunikasi. Dan, seperti yang dikatakan Georgiev kepada saya, ini tentang menemukan ruang kebebasan di tengah kesulitan hidup.

Bagi mereka yang telah mengembangkan kemampuan menjalankan aylyak, seperti Mancheva dan Kapusheva, tidak ada cara hidup yang lebih baik.

Setelah beberapa hari di Plovdiv, saya kehilangan skeptisme dan belajar bagaimana melakukan menjalankan budaya aylyak. Saya menghabiskan waktu di jalanan. Saya santai saja.

Dan anehnya, saya merasa tidak menjalankannya secara tepat, hanya sekedar melakukannya tanpa stres.

Menjelang akhir masa tinggal di kota itu, saya bertanya-tanya apakah Plovdiv memiliki sesuatu untuk ditawarkan ke seluruh dunia.

Saya mengirim email kepada penulis Bulgaria, Filip Gyurov, yang meneliti aylyak sebagai filosofi kehidupan dan sebagai alternatif pertumbuhan ekonomi. Tema itu adalah bagian dari tesisnya di Universitas Lund.

"Kehidupan tidak cuma tentang keramaian dan hiruk pikuk kota besar, kebutuhan membeli mainan teknologi terbaru atau melakukan panjat sosial," kata Gyurov.

"Orang-orang, terutama kaum muda, pernah mengalami efek samping mengerikan akibat kelelahan. Oleh karena itu, kebutuhan untuk memperlambat, menghilangkan pertumbuhan, untuk hidup lebih selaras dengan alam dan diri kita sendiri," tuturnya.

Pada sore terakhir saya di Plovdiv, saya duduk di kafe, di luar Masjid Dzhumaya. Saya memesan kopi Turki dan seporsi kyunefe, makanan penutup khas Timur Tengah dengan sentuhan kuliner yang cemerlang, menggabungkan baklava dan keju.

Kopi di meja saya dengan segelas kecil sirup air mawar manis untuk menghilangkan rasa pahit. Di samping masjid, di bawah semak mawar, seekor kucing tertidur dalam damai.

Saya tidak punya jam tangan, tapi saya merasa tidak perlu memeriksa ponsel saya. Saya tidak punya janji untuk ditepati. Saya minum kopi dan membiarkan sore berlalu karena saya tahu, saya punya banyak waktu.

---

Artikel ini dapat Anda baca dalam versi bahasa Inggris dengan judul Europe's City of Dawdlers and Loafers di BBC Travel.

Lihat juga video 'Uni Eropa Gugat Amazon Terkait Monopoli':

[Gambas:Video 20detik]



(ita/ita)