Sejumlah Warga Asia Berharap Trump Kalahkan Biden, Mengapa?

BBC Indonesia - detikNews
Sabtu, 31 Okt 2020 18:46 WIB
Jakarta -

A Trump-themed bar in Vietnam

Donald Trump sangat populer di Vietnam. (Getty Images)

Donald Trump bukanlah presiden AS yang mendapatkan dukungan internasional.

Dengan kebijakan "America First" yang nasionalis, dia dengan terang-terangan menghina separuh dunia - dari menyebut para pemimpin Eropa lemah hingga menggambarkan orang Meksiko sebagai pemerkosa, dan bahkan sepenuhnya mengabaikan benua Afrika.

Tetapi bagi beberapa orang di Asia yang melihat China sebagai musuh bersama, mereka bersedia untuk memberikan dukungan pada Trump.

Hong Kong: 'Hanya Trump yang dapat memukul Partai Komunis'

Hong Kong telah mengalami tindakan keras keras oleh Beijing setelah protes besar-besaran pro-demokrasi dan anti-China. Sebuah undang-undang keamanan baru telah diterapkan untuk menghukum siapa pun yang dianggap separatis atau melanggar aturan Beijing.

"Ketika Donald Trump terpilih empat tahun lalu, saya pikir AS sudah gila," kata Erica Yuen kepada BBC.

"Saya selalu menjadi pendukung Demokrat. Sekarang, saya mendukung Trump - bersama dengan banyak pengunjuk rasa Hong Kong."

Aktivis dan pengusaha itu mengatakan bahwa prioritas Hong Kong adalah untuk mendapatkan presiden AS yang akan "memukul Partai Komunis China (PKC) dengan keras - itulah satu-satunya hal yang diharapkan pengunjuk rasa Hong Kong".

Harapan ini dipicu oleh kritik vokal presiden AS terhadap China, khususnya yang berkaitan dengan Hong Kong.

Di bawah masa jabatannya, Kongres telah mengeluarkan undang-undang yang mencabut status khusus Hong Kong, yang memberikan perlakuan ekonomi khusus, dengan dalih Hong Kong tidak lagi "otonom".

Sanksi juga dijatuhkan kepada kepala eksekutif Hong Kong Carrie Lam dan 10 pejabat tinggi lainnya dari Hong Kong dan China daratan.

Lawan Trump, Joe Biden, juga telah berjanji untuk "menghukum" China atas tindakannya terhadap Hong Kong, dan menyebut pemimpin China Xi Jinping sebagai "preman".

Tapi bagi Yuen, yang membuat perbedaan adalah pemerintahan saat ini telah menjadi "yang pertama memutuskan bahwa PKC merugikan dunia".

"Saya tidak tahu mengapa pemerintahan Obama dan Clinton tidak menyadarinya. Mereka terlalu naif dan berpikir PKC akan memilih jalan demokrasi dan menjadi masyarakat modern. Tapi itu terbukti tidak benar."

Protester throwing brick

Unjuk rasa pro-demokrasi terjadi di Hong Kong. (EPA)

Dia sadar bahwa Hong Kong rentan terhadap dampak ekonomi apa pun dari konflik antara Washington dan Beijing.

"Anda tidak bisa merugikan PKC tanpa merugikan Hong Kong," katanya. "Tapi kami siap untuk penderitaan jangka pendek, kami bersedia berkorban."

Meski dia mengatakan mayoritas aktivis - terutama yang muda - memiliki pandangan yang sama dengannya, jajak pendapat menunjukkan bahwa secara keseluruhan, Trump mendapat ulasan yang cukup beragam di negara itu.

Dalam survei baru-baru ini, hampir setengah dari mereka yang disurvei memberinya penilaian"buruk", dengan banyak yang mengatakan bahwa penanganan pandemi virus corona oleh Washington telah mempengaruhi reputasinya.

Taiwan: 'Kakak yang bisa kami andalkan'

Ketegangan telah meningkat antara China dan Taiwan. Keduanya terpecah selama perang saudara pada 1940-an, tetapi Beijing bersikeras bahwa wilayah itu akan dikuasainya kembali, dengan kekerasan jika perlu. Washington mengatakan resolusi apa pun harus dilakukan dengan damai.

Tarif perdagangan dan sanksi pada China juga mengesankan beberapa orang di Taiwan.

"Sikap Donald Trump baik bagi kami dan baik untuk memiliki sekutu seperti itu. Ini memberi kami kepercayaan lebih dalam hal urusan luar negeri - secara militer dan perdagangan," kata Victor Lin, yang bekerja di perusahaan e-commerce, kepada BBC dari Taiwan. "Kami memiliki 'kakak laki-laki' yang bisa kami andalkan."

Trump jelas telah memperluas jangkauannya ke Taiwan. Selama beberapa bulan terakhir, kedua pemerintahan telah membuat langkah besar untuk menyelesaikan kesepakatan perdagangan bilateral.

Kesepakatan perdagangan itu akan memungkinkan Taiwan untuk melepas ketergantungannya yang besar pada China, kata Linh dan mungkin akan "secara aktif mengundang perusahaan-perusahaan besar Taiwan untuk mendirikan pabrik di AS".

Dia khawatir Biden tidak akan mengambil langkah yang "provokatif seperti ini", yang bisa memicu kemarahan Beijing.

Biden secara tradisional dikenal sebagai orang yang mendukung hubungan erat dengan China.

Meskipun dia telah mengubah pendiriannya tentang hal ini, hal itu belum sampai ke telinga banyak orang Taiwan yang khawatir "invasi" China mungkin akan terjadi.

Tank man balloon in Taipei

Sebuah balon yang dipasang di Taipei untuk memperingati peristiwa Tiananmen. (Reuters)

Tindakan Trump untuk mendukung Taiwan secara militer juga telah meningkatkan popularitasnya.

Faktanya, sebuah jajak pendapat baru-baru ini menunjukkan bahwa Taiwan adalah satu-satunya negara dengan jumlah responden yang menginginkan Trump menang, jauh melebihi mereka yang menginginkan Biden menang.

Beijing telah bereaksi keras, memperingatkan AS "untuk tidak mengirim sinyal yang salah kepada elemen 'kemerdekaan Taiwan' untuk menghindari kerusakan parah pada hubungan China-AS".

Vietnam: 'Berani hingga ke tingkat sembrono'

Baik Washington dan Beijing pernah berperang di tanah Vietnam dalam 50 tahun terakhir. Namun, sementara AS telah dimaafkan, negara Asia Tenggara itu tetap takut akan "ancaman China".

Penggemar Trump di Vietnam terbagi menjadi dua kelompok, menurut analis politik dan vlogger Linh Nguyen.

Mereka yang menyukainya hanya karena hiburan dan penampilannya yang glamor, dan mereka yang "mati-matian mendukung Trump" dan mengikuti politik AS karena mereka percaya - seperti banyak orang di Hong Kong dan Taiwan - dialah satu-satunya benteng melawan pemerintah Komunis di China dan Vietnam.

Baik Trump maupun Biden tidak menjelaskan strategi soal Vietnam, dan Trump telah mengatakan dengan sangat jelas bahwa dia tidak akan terburu-buru untuk campur tangan dalam konflik dan perselisihan di negara lain.

Namun beberapa orang seperti aktivis politik Vinh Huu Nguyen percaya bahwa hanya seseorang seperti Trump "yang berani sampai ke tingkat sembrono dan bahkan agresi" yang benar-benar dapat membuat perbedaan.

Donald Trump with Vietnam's Prime Minister Nguyen Xuan Phuc

Donald Trump dan Perdana Menteri Vietnam Nguyen Xuan Phuc (Getty Images)

"Dan itulah yang membedakannya dari para pendahulunya. Berurusan dengan China membutuhkan orang-orang seperti itu."

Ketika Donald Trump berkuasa, Nguyen mengatakan dia merasa dunia pada akhirnya akan "sadar akan bahaya China" dan "bentuk baru kapitalisme negara komunis".

Dia juga berharap akan melihat reformasi ekonomi dan politik di Vietnam, jauh dari kekuasaan satu partai komunis.

Secara pribadi, dia berharap sikap AS yang kuat terhadap PKC akan berdampak di seluruh wilayah dan akhirnya berdampak juga di Hanoi.

Jepang: 'Ini tentang keamanan nasional kami'

Jepang telah lama dianggap sebagai mitra dan sekutu yang berharga bagi AS, tetapi ketika Trump terpilih, banyak orang khawatir tentang dampak kebijakan 'America First' yang diusungnya pada hubungan kedua negara. Dia membatalkan kesepakatan perdagangan multilateral trans-Pasifik segera setelah menjabat dan bersikeras Jepang harus membayar lebih banyak uang untuk mendukung pasukan AS yang ditempatkan di sana.

"Donald Trump adalah sekutu kami. Untuk Jepang, alasan terbesar kami mendukungnya adalah keamanan nasional," kata Yoko Ishii, seorang YouTuber yang membuat vlog dengan nama Random Yoko.

Dia merujuk pada gangguan pesawat dan kapal militer China di wilayah udara dan perairan Jepang, yang umumnya terjadi di sekitar Kepulauan Senkaku yang disengketakan. Wilayah itu diklaim oleh Tokyo dan Beijing - yang menyebutnya Kepulauan Diaoyu.

"Kami benar-benar menginginkan seorang pemimpin dari AS yang dapat melawan China secara agresif," katanya. Ia menambahkan "Saya kira tidak ada orang yang begitu blak-blakan dan memiliki sosok yang kuat - seperti Donald Trump."

Vlogger Yoko Ishii

Ishii mendukung Trump untuk menang pilpres. (Andreas Illmer)

Ishii melihat Jepang dalam kuasi-aliansi dengan negara dan wilayah Asia lainnya yang akan meminta dukungan AS terhadap Beijing.

Namun, meskipun dia sangat mendukung Trump untuk tetap berada di Gedung Putih, pendukung vokal seperti dia adalah minoritas di Jepang.

Meskipun secara umum, pandangan positif tentang AS diterima oleh mayoritas, hanya seperempat orang Jepang yang memiliki kepercayaan kepada Presiden Trump.

Tidak seperti beberapa negara tetangganya di Asia, banyak warga Jepang yang berharap Biden, yang dipandang sebagai seseorang yang akan menjalin hubungan dengan sekutunya dengan cara yang berbeda dengan Trump, akan kembali masuk Kemitraan Trans-Pasifik dan terlibat lebih dekat dengan Tokyo, baik secara ekonomi maupun militer.

Lihat juga video 'Ejek Biden, Trump Ngaku Dapat Tekanan Luar Biasa di Pilpres':

[Gambas:Video 20detik]



(ita/ita)