I Am Greta, Dokumenter Greta Thunberg yang Mirip Film Superhero

BBC Indonesia - detikNews
Senin, 19 Okt 2020 10:44 WIB
Dogwoof Films
Jakarta -

Ada banyak hal luar biasa tentang film dokumenter baru I Am Greta.

Hal pertama ialah pembuatan film itu sendiri. Sutradaranya, Nathan Grossman, baru pertama kali membuat film dokumenter panjang.

Mantan mahasiswa film itu tergelitik rasa ingin tahunya ketika mendengar, pada 2018, bahwa seorang anak perempuan berusia 15 tahun di Swedia Greta Thunberg memutuskan untuk bolos sekolah dan duduk sendirian di luar gedung parlemen di Stockholm dalam hal yang disebutnya "aksi mogok sekolah demi iklim" (climate strike).

Ia mulai memfilmkan aksi itu beberapa hari kemudian. Awalnya, ia mengambil gambar dengan mode kualitas rendah di kameranya demi menghemat ruang di kartu memori, berpikir kalau ia bakal beruntung bila cerita Thunberg diliput media berita lokal.

Namun, dalam beberapa minggu, anak-anak di seluruh dunia mulai melakukan aksi mogok mereka sendiri. Arnold Schwarzenegger meritwit kiriman Thunberg dan Grossman beralih ke high-definition.

Greta Thunberg

Kisah Greta Thunberg menceritakan bagaimana seorang anak yang kesepian dan bermasalah menemukan kekuatan tersembunyi dalam dirinya. (Dogwoof Films)

Sungguh petualangan yang luar biasa. Thunberg sendiri berkata ceritanya bisa dijadikan film tapi akan menjadi film yang sureal "karena plotnya akan begitu sulit dipercaya".

Menyaksikan perjalanannya sudah cukup menarik, tapi I Am Greta lebih dari itu.

Grossman telah membuat film tentang pengalaman tumbuh dewasa (coming of age) yang dikemas dengan aksi super-hero. Ini cerita tentang seorang anak yang bermasalah dan kesepian menemukan kekuatan tersembunyi dalam dirinya dan menggunakannya untuk mengubah dunia.

Rahasia karisma Thunberg

Seluruh cerita ini rasanya tidak akan pernah terjadi. Tapi ternyata anak kecil berkepang dengan wajah agak masam ini memiliki karisma alami.

Seiring kita mengungkap paradoks itu, kita mulai memahami apa yang begitu spesial tentang Thunberg.

Kebanyakan orang tidak menyadari betapa keras suatu dokumenter memperlakukan subyeknya: Jika Anda berpura-pura, Anda akan ketahuan.

Satu-satunya cara untuk jadi "baik" dalam film seperti ini adalah dengan menjadi diri sendiri.

Menonton film ini, Anda menyadari bahwa Thunberg begitu menarik karena ia begitu otentik. Ia tidak melakukannya untuk pencitraan, ia tidak melakukannya untuk kepopuleran atau perhatian, ia melakukannya karena ia tidak punya pilihan.

Ia merasa terdorong untuk melakukan sesuatu - apapun itu - untuk berusaha meyakinkan dunia agar menangani perubahan iklim dengan serius.

Mengapa Greta tidak bisa berpaling

Di awal film, ia berusaha untuk menjelaskan alasannya. "Sekali Anda memperhatikan krisis iklim, Anda tidak bisa berpaling," ujarnya.

"Sekali Anda memahami skala masalahnya, Anda tidak bisa menghapusnya."

Ia tidak menyadari bahwa ini bertolak belakang dengan perasaan kebanyakan orang: Kita tahu ini terjadi tapi berusaha sebisa mungkin untuk mengalihkan pandangan kita.

Setiap kali Thunberg berpidato di suatu konferensi, kita melihat para pemimpin dunia mengetuk-ngetuk smartphone mereka di antara penonton, atau mencoba berswafoto dengannya, tetapi tampaknya tidak memahami kata-katanya sama sekali.

Ketegangan itulah - antara hasratnya akan perubahan dan kurangnya urgensi yang dirasakan para politisi - yang membuat cerita ini begitu menggetarkan.

Ketika Thunberg mendesak Komisi Eropa untuk mengambil tindakan terhadap perubahan iklim di Brussel, Jean Claude Juncker - yang saat itu menjabat sebagai presiden komisi - menanggapi dengan pidato tentang menyelaraskan penyiraman toilet di Eropa.

Dorongan untuk berkampanye

Thunberg menceritakan kepada kita pandangannya tentang berbagai peristiwa dalam cuplikan-cuplikan buku hariannya. Kita mengetahui bahwa ia yakin Sindrom Asperger menjadi hal utama yang memberinya "fokus luar biasa".

"Saya memilikinya, saya tidak mengatakan saya menderita karenanya," ia mengoreksi seorang reporter pada satu momen. Dan film tersebut menunjukkan bagaimana kampanye telah membantu mengangkat Thunberg dari depresi yang mendalam.

Greta Thunberg

Greta Thunberg telah melanjutkan kampanyenya tahun ini. (Getty Images)

Setelah pengaruhnya mulai tumbuh, ada adegan indah di dalam kereta ketika ia menulis buku hariannya.

"Rasanya hampir tak tergambarkan bahwa sesuatu akhirnya terjadi," tulisnya sambil tersenyum puas. "Banyak sekali yang tertarik pada hal yang sama seperti saya."

Ia berbicara tentang betapa kesepiannya ia di sekolah dan gangguan makan yang dia hadapi. Pada satu adegan, ayahnya menyebutkan bagaimana "mutisme selektif" dan "kompulsi"-nya telah lenyap.

Ada adegan mengharukan ketika ibunya menahan air mata saat ia menjabarkan kemajuan yang telah dicapai Thunberg. Namun Anda tidak dapat berhenti berpikir bahwa dorongan tanpa henti untuk berkampanye bisa menjadi kutukan.

Menjelang akhir film, kita melihatnya meringkuk di dalam kabin kapal yacht balap yang membawanya ke New York. Ombak besar menerjang jendela di belakangnya. Thunberg menangis saat ia merekam buku hariannya di telepon. Ia merindukan anjingnya, rumahnya, dan "rutinitas" -nya.

'How dare you'

Klimaksnya adalah pidato "beraninya kalian" ("how dare you") dari Thunberg, ketika ia menegur para pemimpin dunia atas kurangnya tindakan mereka.

"Mata semua generasi masa depan tertuju pada Anda," ia memperingatkan pada KTT Aksi Iklim PBB di New York, "dan jika Anda mengecewakan kami, saya katakan kami tidak akan pernah memaafkan Anda."

Aktivis perubahan iklim

Getty Images

Pidato itu bergema di seluruh dunia.

Ia kemudian bergabung dengan puluhan ribu pengunjuk rasa di jalanan kota New York -- dan jutaan lainnya bergabung dalam pemogokan iklim di seluruh dunia.

Ini adalah kemenangan bagi Thunberg dan kampanyenya, dan merupakan tonggak kemajuan aksi untuk perubahan iklim.

Tetapi Anda tidak bisa tidak merasa cemas akan masa depannya. Kita telah melihat arti dan tujuan yang ia temukan dalam kampanye dan bertanya-tanya bagaimana ia akan bertahan setelah ia kembali ke sekolah.

Adegan terakhir dari film tersebut memperlihatkan Thunberg dengan kuda poni kesayangannya.

"Saya kadang-kadang berpikir akan baik jika setiap orang memiliki sedikit Asperger," katanya sambil merawatnya, "... setidaknya dalam hal iklim."

(ita/ita)