Airbus Akan Produksi Pesawat Komersial Berbahan Bakar Hidrogen, Mungkinkah?

BBC Indonesia - detikNews
Kamis, 24 Sep 2020 08:40 WIB
Jakarta -

Perusahaan dirgantara Airbus mengungkap rencana mereka memproduksi pesawat komersial pertama yang tak menghasilkan emisi karbon.

Airbus menargetkan pesawat berbahan bakar hidrogen itu dapat digunakan pada tahun 2035.

Pimpinan eksekutif Airbus, Guillaume Faury, menyebut perusahaannya telah membuat tiga desain pesawat baru itu. Ia mengklaim desain tersebut menandai periode bersejarah dalam penerbangan komersial.

Menurutnya, penggunaan bahan bakar hidrogen dapat secara signifikan mengurangi dampak industri penerbangan terhadap perubahan iklim.

Namun sejumlah kalangan menyebut hidrogen berulang kali disebut-sebut sebagai kunci bagi industri penerbangan modern.

PesawatPenggunaan bahan bakar hidrogen untuk pesawat berpenumpang berhenti sejak insiden Hindenburg tahun 1937. (Getty Images)

Hidrogen pernah menjadi bahan bakar kapal terbang pada awal abad ke-20. Namun hidrogen ditinggalkan sejak insiden terbakarnya pesawat LZ 129 Hindenburg di New Jersey, Amerika Serikat, tahun 1937.

Sejak tahun 2000 hingga 2002, Airbus terlibat dalam proyek yang Cryoplane yang dibiayai Uni Eropa. Dalam kajian itu, mereka menyelidiki kemungkinan hidrogen cair menjadi bahan bakar pesawat.

Akan tetapi, ide dan gagasan soal bahan bakar hidrogen itu jalan di tempat hingga saat ini.

'Komitmen tegas'

Airbus mengklaim mesin turbofan yang mereka buat bakal memungkinkan pesawat non-emisi itu mengangkut 200 penumpang sejauh 3200 kilometer.

Sebagai perbandingan, kata mereka, mesin turboprop hanya mampu menampung setengah kapasitas dan jarak yang mereka targetkan tadi.

Desain sayap dan badan pesawat yang menyatu merupakan yang paling mencolok mata dari tiga desain buatan Airbus.

Tiga pesawat yang bakal mereka buat itu akan digerakkan mesin turbin gas yang dimodifikasi agar dapat membakar cairan hidrogen dan menciptakan daya listrik.

Bagaimanapun, Airbus menyebut bahwa pengelola bandara mesti menginvestasikan uang dalam jumlah besar. Pembangunan infrastruktur pengisian bahan bakar hidrogen diperlukan agar pesawat ini dapat benar-benar digunakan secara komersial.

"Transisi menuju hidrogen sebagai bahan bakar utama pesawat membutuhkan sikap tegas dari seluruh pemangku kepentingan di industri penerbangan," kata Faury.

"Dengan sokongan pemerintah dan pelaku industri lainnya, kita dapat mengatasi tantangan sekaligus mengedepankan energi terbarukan, termasuk hidrogen, demi industri penerbangan yang berkelanjutan," tuturnya.

Desain pesawat non-emisi ini merupakan hasil dari riset Airbus bersama EasyJet tahun 2019. Mereka meneliti kemungkinan pesawat yang terbang dengan tenaga listrik dan campuran bahan bakar.

Pimpinan eksekutif EasyJet, Johan Lundgren, berkata," Kami terus berkomitmen pada penerbangan yang lebih berkelanjutan. Kami yakin teknologi adalah solusi untuk industri ini."

(ita/ita)