Bagikan Foto Hitler dan Simbol Nazi, Puluhan Polisi Jerman Diskors

BBC Indonesia - detikNews
Jumat, 18 Sep 2020 12:31 WIB
Foto ilustrasi: Polisi Jerman sedang diambil sumpahnya. (EPA)
Berlin -

Puluhan polisi di Jerman telah diskors dari tugas karena membagikan foto Adolf Hitler dan lukisan pengungsi di kamar gas melalui ponsel mereka.

Para petugas yang berjumlah 29 orang itu menggunakan ruang obrolan aplikasi beraliran paling-kanan untuk membagikan foto-foto swastika (simbol dalam tradisi Hindu) dan simbol Nazi, kata pejabat di North Rhine-Westphalia (NRW).

Menteri Dalam Negeri NRW Herbert Reul mengatakan tindakan itu sebagai "aib bagi polisi NRW".

Kejadian itu mengikuti beberapa insiden ekstremisme sayap kanan lainnya yang melibatkan aparat dinas keamanan Jerman.

Sebelumnya, diduga lebih dari 200 petugas polisi terlibat dalam penyerangan di 34 kantor polisi dan rumah pribadi dengan indikasi 11 tersangka utama.

Didakwa menyebarkan propaganda Nazi

Para petugas tersebut diduga telah membagikan lebih dari 100 gambar neo-Nazi di grup WhatsApp.

Beberapa tersangka menghadapi dakwaan atas penyebaran propaganda Nazi dan ujaran kebencian. Yang lainnya didakwa karena tidak melaporkan tindakan rekan mereka.

"Ini adalah tindakan kebencian yang paling buruk dan menjijikkan," kata Herbert Reul yang berharap agar penyelidikan akan menemukan lebih banyak obrolan dengan konten yang menghina.

"Saya terkejut dan malu," kata Frank Richter, kepala polisi di kota Essen tempat sebagian besar tersangka bermarkas. "Tidak bisa berkata-kata lagi."

Sejauh mana ekstremisme menyebar ke institusi kepolisian di Jerman?

Reul telah membentuk tim untuk menyelidiki sejauh mana tindakan ekstremisme menyebar di dalam polisi negara bagian.

"Ekstremis sayap kanan dan neo-Nazi sama sekali tidak memiliki tempat di polisi Rhine-Westphalia Utara, polisi kami," katanya, dan pihak berwenang harus menunjukkan "profil politik yang sangat jelas" yang menolak kelompok sayap kanan.

Polisi dan dinas keamanan Jerman menghadapi tuduhan tidak berbuat cukup dan tegas dalam membasmi para ekstremis di dalam barisan mereka.

Mengirim email ancaman ke imigran dan warga peranakan Turki

Pada Juli lalu, jaksa penuntut mengatakan telah menangkap seorang mantan petugas polisi dan istrinya yang dicurigai mengirimkan ancaman kepada tokoh-tokoh terkenal berlatar belakang imigran, termasuk beberapa anggota parlemen dari etnis Turki.

Email tersebut ditandatangani dengan "NSU 2.0", mengacu pada geng neo-Nazi "National Socialist Underground", yang melakukan 10 pembunuhan rasis antara tahun 2000 dan 2007.

Skandal tersebut telah membuat kepala polisi negara bagian Hesse Udo Mnch mengundurkan diri setelah diketahui bahwa komputer polisi digunakan untuk mengetahui rincian politisi sayap kiri yang kemudian menerima salah satu email yang mengancam itu.

Sementara itu, pada bulan Juni, menteri pertahanan Jerman memerintahkan pembubaran sebagian pasukan komando elite KSK karena munculnya kritikan atas adanya ekstremisme sayap kanan di jajarannya.

(nvc/nvc)