Mengapa Orang Prancis Sangat Suka Mengeluh?

BBC Indonesia - detikNews
Kamis, 17 Sep 2020 13:23 WIB
Jakarta -

Banyak percakapan di Prancis dimulai dengan tarikan napas dan keluhan tentang: cuacanya buruk; panen anggur buruk; politisi tidak kompeten dan bodoh.

Ketika saya pertama kali pindah ke Prancis lebih dari satu dekade yang lalu, sebagai seorang Amerika berusia 19 tahun yang naif, saya merasa gelisah dengan rentetan keluhan yang terus-menerus ini.

Mengapa, orang Prancis terlihat selalu dalam suasana hati yang buruk?

Namun, ketika saya akhirnya memberanikan diri untuk bertanya kepada seorang teman Prancis, dia membantahnya: mereka bukan pengeluh, katanya.

Mereka adalah rleur. Di Prancis, ada beberapa kata untuk "mengeluh": ada "se plaindre", digunakan untuk keluhan biasa; ada "porter plainte", untuk keluhan yang lebih resmi.

Kemudian ada "rler": mengeluh hanya untuk kesenangan saja.

Rleris sifatnya informal, dan digunakan untuk "menggerutu", kata Dr Gemma King, dosen senior bahasa Prancis di Australian National University dan editor blog Les Musees de Paris.

"Anda mungkin ragu melakukan sesuatu tetapi tetap melakukannya (meskipun dengan enggan), sedangkan porter plainte menyiratkan bahwa Anda tidak akan melakukan sesuatu dan seseorang akan mendengar alasannya."

Ketika saya masih berkutat dengan pengajuan izin tinggal di Prancis, dan kewarganegaraan Prancis saya masih merupakan mimpi, saya biasa bercanda bahwa saya akan tahu saya benar-benar orang Prancis, bahkan bila izin belum keluar, jika saya terbangun dengan dorongan tak terkendali untuk mengeluh.

Dalam persiapan untuk hari yang menentukan itu, saya mengejek siapa saja yang mau mendengarkan: supnya terlalu dingin; saladnya terlalu hangat; atau seorang tetangga lalai mengatakan "bonjour" kepada saya.

Namun, teman-teman saya menertawakan upaya saya untuk mengeluh seperti orang Prancis. Mereka mungkin melihat sebagai seorang anak yang belum sepenuhnya memahami bahasa dan berpura-pura berbicara di telepon.

Kapan, kepada siapa, dan apa yang bisa jadi bahan menggerutu adalah seni yang rumit, dan yang masih harus saya kuasai sepenuhnya.

Di Prancis, keluhan adalah pembuka percakapan yang pantas - dan umum. Seseorang dapat mulai berbicara tentang sebuah restoran dengan berfokus pada layanan yang buruk, meski makanannya enak.

Julie Barlow, jurnalis Kanada dan salah satu penulis The Bonjour Effect mengatakan, "Bagi orang Amerika, mengatakan sesuatu yang negatif terdengar seperti Anda menutup percakapan", di Prancis, komentar semacam itu dianggap sebagai "cara untuk mengundang pendapat orang lain".

Orang Amerika Utara, katanya, tidak nyaman dengan konfrontasi - atau dengan kritik - seperti orang Prancis. Rler, kemudian, "tampil sebagai sesuatu yang lebih cerdas daripada terlalu optimis tentang berbagai hal".

Anna Polonyi, seorang penulis Perancis-Hongaria-Amerika dan kepala departemen penulisan kreatif di Paris Institute for Critical Thinking, mengemukakan bahwa perbedaan ini mungkin berasal dari ketakutan inti yang dimiliki oleh banyak orang Amerika: yaitu dianggap sebagai "pecundang".

Tidak ada kata untuk itu, di Prancis, katanya.

"Untuk menjadi pecundang, dunia di sekitar Anda perlu memikirkan hal-hal terkait kemenangan. Saya tidak yakin itulah cara orang melihat interaksi sosial [di sini]." Di Prancis, percakapan malah bisa disamakan dengan "duel", menurut Barlow, dan obrolan pembuka mungkin merupakan keluhan - untuk menunjukkan kecerdasan yang dapat dibuktikan, "sesuatu yang membuat orang tampak kritis, seperti mereka berpikir dan tidak naif."

Polonyi mengalami ini secara langsung ketika dia pindah dari Prancis, tempat dia dibesarkan, ke Iowa.

Di sana, dia memperhatikan, orang-orang menahan diri dari ucapan negatif selama mereka bisa dan hanya melontarkan keluhan ketika keluhan itu telah berkembang jauh melampaui apa yang mereka bisa tahan.

Itu bukan cara mengeluh seperti yang kami tahu; itu meluapkan perasaan," katanya.

"Rasanya seperti orang-orang tidak memberikan izin kepada diri mereka sendiri untuk mengeluh dengan cara yang sebenarnya membangun keintiman. Mereka seperti tidak melakukannya sampai tidak mungkin untuk tidak melakukannya."

Polonyi bahkan menemukan dirinya mengikuti cara mengeluh ala Amerika yang diikuti dengan kata-kata kesimpulan.

"Saya merasa di akhir percakapan saya harus mengatakan kesimpulan, 'Oh, tapi saya akan melaluinya!'."

Di Prancis, sebaliknya, tidak perlu ada kesimpulan

"Saya merasa semakin spesifik saya bisa mengeluh, semakin saya bisa menggerakkan orang lain untuk merasa agak berempati tentang betapa buruknya sesuatu itu," katanya.

Kebiasaan mengeluh Prancis membuat banyak anglophone (mereka yang berbahasa asli bahasa Inggris) tak nyaman, banyak dari mereka berpendapat bahwa negativitas melahirkan negativitas.

Namun menurut beberapa ahli, sikap orang Prancis sebenarnya mungkin lebih baik untuk kesehatan Anda.

Sebuah studi tahun 2013 di Biological Psychiatry menemukan bahwa upaya untuk menahan emosi negatif dapat dikaitkan dengan peningkatan risiko penyakit kardiovaskular, sementara studi tahun 2011 dari University of Texas di Austin menemukan bahwa memendam emosi negatif dapat membuat orang lebih agresif.

Bukan berarti mengeluh selalu positif. Mengeluh terlalu sering bisa membuat Anda terjebak dalam spiral, mengubah otak Anda untuk selalu fokus pada hal negatif.

Tapi para rleurs Prancis mungkin menghindari efek samping yang tidak menguntungkan ini karena mereka jarang mengeluh tentang kehidupan mereka sendiri, melainkan tentang masalah eksternal.

Menurut jajak pendapat tentang praktik tersebut, 48% orang Prancis yang disurvei mengatakan bahwa hal yang paling mereka keluhkan adalah pemerintah.

Mungkin tidak mengherankan jika, menurut sebuah artikel baru-baru ini di Politico, pendapat orang Prancis tentang cara Presiden Emmanuel Macron menangani pandemi sangat negatif.

Masalah pribadi, sementara itu, sangat rendah dalam daftar hal-hal yang dipilih orang Prancis untuk dikeluhkan.

Menurut jajak pendapat, dengan 23% mengeluh ketika seseorang tidak menelepon mereka kembali, 33% mengeluh ketika mereka tidak dapat menemukan kunci atau telepon genggam mereka, dan hanya 12% yang mengeluh tentang masalah yang terkait dengan anak-anak mereka.

"Saya pikir orang Prancis optimis dan positif tentang diri sendiri dan kehidupan mereka, tetapi mereka cenderung sangat keras pada negara mereka," kata Barlow. "Jangan pergi ke pesta dan memuji Prancis; orang akan menertawakanmu. "

Menurut Margot Bastin, seorang peneliti di universitas Belgia Katholieke Universiteit Leuven yang telah menerbitkan makalah yang ditinjau rekan sejawat tentang efek internalisasi emosi negatif, fakta bahwa fokus Prancis pada masalah yang "tidak pribadi" mungkin memang lebih sehat.

Namun, penelitian Bastin juga menemukan bahwa meskipun memuntahkan emosi dapat membantu, hal itu "merugikan [ketika] terjadi sangat lama dan berlebihan".

Orang Prancis secara keseluruhan, tidak cenderung berpikir bahwa apa yang dikeluhkan akan berakhir sebagai bencana - juga, seperti yang diperhatikan Polonyi, keluhan mereka bahkan jarang memiliki tujuan penyelesaian.

Orang Amerika sering tak ragu untuk berbicara dengan manajer mereka untuk memperbaiki apa yang salah. Sementara, orang Inggris kerap menghela nafas saat seseorang mengantre dengan tidak benar. Namun di Prancis, mengeluh tidak dilihat sebagai sarana untuk mencapai tujuan.

"Saya tidak berpikir bahwa mereka mengeluh karena mereka ingin mengubah apa pun," kata Barlow.

"Saya pikir ini adalah budaya, bentuk percakapan."

Seperti kebanyakan percakapan - seperti menanyakan kabar seseorang tanpa benar-benar peduli jawabannya - mengeluh di Prancis pada dasarnya adalah cara untuk menjalin hubungan.

Satu studi yang dilakukan di University of Oklahoma menunjukkan bahwa mengeluh dapat berdampak positif pada hubungan ; dan penelitian juga menunjukkan bahwa mengeluh bisa membuat seseorang akrab dengan yang lainnya.

"Saat mengeluh orang lain mendengarkan Anda, Anda benar-benar merasa terhubung dengan orang lain, Anda benar-benar merasa dekat dengan orang lain, Anda merasa dipahami," kata Bastin.

Intinya, saya tidak pernah merasa lebih seperti orang Prancis seperti ketika saya menceritakan pengalaman saya sebagai orang asing: pergi ke kantor polisi untuk memperbarui kartu residensi saya.

Setelah perjalanan yang benar-benar Kafka-esque melalui kantor birokrasi, saya mengeluh kepada siapa pun yang mau mendengarkan, saya menggambarkan ketidakmampuan mereka yang bertanggung jawab, tentang daftar dokumen-dokumen tak relevan yang harus saya siapkan.

Meskipun teman Prancis saya tidak berbagi pengalaman khusus ini, mereka menggunakannya sebagai titik awal untuk menyampaikan keluhan mereka sendiri: pengalaman dengan kantor pajak atau departemen zonasi, tempat mereka harus berkutat dengan birokrasi.

Tampaknya itu adalah keluhan yang umum.

Setelah bertahun-tahun tinggal di Prancis, saya akhirnya membangun keintiman dengan penduduk setempat; Saya hanya tidak tahu bahwa saya harus mengeluh begitu banyak untuk sampai ke sana.

"Jika seseorang mengeluh, saya merasa ada kejujuran di sana," kata Polonyi, "dan saya diyakinkan oleh kejujuran itu karena saya merasa, di satu sisi, mengeluh, dalam arti tertentu, menunjukkan kerentanan seseorang."

Anda dapat membaca artikel ini dalam bahasa Inggris dengan judul Why the French love to complain di BBC Travel.

(ita/ita)