Mengenal Electoral College di Pilpres AS

BBC Indonesia - detikNews
Kamis, 13 Agu 2020 11:41 WIB
Getty Images
Jakarta -

Pemilihan Presiden Amerika Serikat bakal berlangsung kurang dari 100 hari ke depan. Merujuk sistem yang berlaku, kandidat yang mendapatkan suara terbanyak dari masyarakat belum tentu memenangkan pertarungan.

Penyebabnya, presiden AS tidak dipilih secara langsung oleh masyarakat, melainkan oleh lembaga yang dikenal dengan istilah electoral college atau lembaga pemilih.

Section dividerBBC

Jadi siapa yang sebenarnya dipilih oleh warga AS?

Ketika warga AS datang ke tempat pemungutan suara, mereka sebenarnya memilih orang-orang yang bakal duduk dalam electoral college.

Tugas utama anggota electoral college adalah memilih presiden dan wakil presiden.

Mereka bekerja setiap empat tahun sekali, yakni beberapa pekan setelah pemungutan suara oleh masyarakat di negara bagian. Pada saat itulah mereka menjalankan tugas.

Anggota electoral college dicalonkan oleh partai politik di tingkat negara bagian. Mereka biasanya petinggi partai atau sosok yang berafiliasi dengan kandidat presiden dari partainya.

Di tempat pemungutan suara, pemilih tidak hanya memberikan suara untuk calon presiden, tapi juga calon anggota electoral college.

Di surat suara, nama mereka biasanya muncul di bawah nama kandidat presiden. Namun ada juga negara bagian yang tidak mencetak nama calon anggota electoral college.

Section dividerBBC

Bagaimana cara kerja electoral college?

Jumlah perwakilan setiap negara bagian dalam kelompok ini disesuaikan dengan total populasi di daerah tersebut.

Anggota electoral college total berjumlah 538 orang.

California adalah negara bagian dengan perwakilan terbanyak, yaitu 55 orang. Sementara negara bagian yang jumlah penduduknya sedikit, seperti Wyoming, Alaska, dan North Dakota, termasuk Washington DC, diwakilkan oleh minimal tiga orang.

Setiap orang dalam lembaga ini memiliki satu hak suara. Seorang kandidat presiden harus mendapatkan suara terbanyak, 270 atau lebih, untuk memenangkan pemilihan.

Electoral college mapBBC

Biasanya, setiap anggota electoral college akan memilih kepada calon presiden yang mendapatkan suara terbanyak dalam pemilihan umum di negara bagian.

Misalnya, jika seorang kandidat dari Partai Republik memenangkan 50,1% suara di Texas, dia akan mendapat seluruh suara dari anggota electoral college dari negara bagian itu, yang berjumlah 38 orang.

Hanya negara bagian Maine dan Nebraska yang membagi suara electoral college berdasarkan proporsi suara yang diterima masing-masing calon presiden.

Itulah alasan calon presiden AS fokus memenangkan negara bagian yang tidak menyerahkan seluruh suara untuk kandidat yang paling banyak dipilih.

Negara bagian seperti ini dikenal dengan istilah 'swing state'.

Memenangkan sebanyak mungkin suara dari setiap negara bagian bukan strategi yang biasa dilakukan.

Section dividerBBC

Bisakah seorang capres memenangkan suara mayoritas, tapi tidak terpilih jadi presiden?

Ya, tentu saja bisa.

Sangat mungkin seorang kandidat menjadi yang paling populer secara nasional di kalangan pemilih, namun gagal mendapatkan 270 suara dari anggota electoral college.

Dua dari lima pilpres AS terakhir dimenangkan oleh kandidat yang tidak mendapat suara terbanyak dari masyarakat.

Pada pilpres 2016, Donald Trump berselisih tiga juta suara di bawah pesaingnya, Hillary Clinton. Namun Trump mendapatkan suara terbanyak di electoral college.

George Bush in 2000Getty ImagesGeorge W Bush memenangkan Pilpres AS tahun 2000. Dia mengalahkan calon dari Partai Demokrat, Al Gore.

Sementara pada tahun 2000, George W Bush mendapatkan 271 suara electoral college. Padahal calon presiden dari Partai Demokrat, Al Gore, mendapat setengah juta suara lebih besar dari masyarakat ketimbang Bush.

Selain Trump dan Bush, terdapat tiga presiden AS lainnya yang memenangkan pilpres walau tidak mendapatkan suara terbanyak dalam pemilihan umum.

Tiga presiden itu menjabat pada abad ke-19, yaitu John Quincy Adams, Rutherford B Hayes dan Benjamin Harrison.

Section dividerBBC

Mengapa AS menjalankan sistem pilpres semacam itu?

Ketika konstitusi AS dibuat pada 1787, pemilihan presiden yang didasarkan pada jumlah suara pemilih tidak dilakukan. Pertimbangan mereka waktu itu adalah luas wilayah dan sistem komunikasi.

Namun saat itu juga muncul penolakan terhadap gagasan bahwa presiden akan dipilih anggota parlemen yang berkedudukan di ibu kota, Washington DC.

Jadi, para perumus konstitusi membentuk lembaga pemilihan yang memungkinkan masing-masing negara bagian memberikan suara untuk kandidat tertentu.

Negara-negara bagian yang kecil secara geografis dan demografis menyukai sistem itu karena artinya, bukan suara secara nasional yang menentukan presiden terpilih.

Sistem ini juga disenangi negara bagian di wilayah selatan, kawasan dengan populasi budak yang besar. Walau budak tidak memiliki hak suara, mereka dicatat dalam sensus nasional. Kala itu, mereka tidak dihitung sebagai satu individu, melainkan tiga perlima.

Karena jumlah anggota electoral college ditentukan jumlah penduduk, negara bagian di wilayah selatan memiliki pengaruh yang lebih besar dalam memilih presiden.

Electoral mapSetiap negara bagian memiliki jatah jumlah anggota 'electoral college' yang berbeda. (Getty Images)Section dividerBBC

Apakah anggota 'electoral college' harus memilih kandidat yang mendapat suara paling banyak dari masyarakat?

Di beberapa negara bagian, mereka dapat memilih calon presiden yang mereka sukai, terlepas siapa yang mendapatkan dukungan terbanyak dari masyarakat.

Namun dalam praktiknya, anggota electoral college hampir selalu memilih calon presiden yang memenangkan suara terbanyak di negara bagian mereka.

Jika seorang anggota electoral college menjatuhkan pilihan yang bertentangan dengan hasil pemilihan di negara bagian mereka, mereka akan dianggap 'tidak setia'.

Pada pilpres 2016, tujuh anggota electoral college mendapat julukan itu. Akan tetapi mereka tetap tidak mengubah pilihan.

Section dividerBBC

Apa yang terjadi jika tidak ada kandidat yang mendapatkan suara mayoritas?

Dewan Perwakilan Rakyat, majelis rendah anggota parlemen AS, akan memberikan suara untuk memilih presiden.

Ini hanya terjadi sekali, yaitu pada tahun 1824. Saat itu suara electoral college terpecah ke empat calon presiden.

Karena sekarang hanya ada dua partai yang mendominasi sistem pemilihan AS, kejadian tahun 1824 itu tidak mungkin terjadi lagi.

(ita/ita)