Tokoh Muslim Menjadi Kepala Negara Guyana

BBC Indonesia - detikNews
Rabu, 05 Agu 2020 17:14 WIB
Presiden Irfaan Ali akan memimpin negara dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di dunia. (Getty Images)
Georgetown -

Mantan menteri perumahan Guyana Muhamad Irfaan Ali, harus menunggu lima bulan sampai ia dilantik sebagai presiden negara baru penghasil minyak di Amerika Selatan.

Irfaan Ali dilantik pada Minggu (03/08) setelah ditetapkan sebagai pemenang pemilu yang disengketakan pada tanggal 2 Maret lalu, menyusul penghitungan kembali.

Hasil penghitungan yang dikeluarkan Juni lalu menunjukkan Ali, anggota partai oposisi, Partai Rakyat Progresif, menang dalam pemilu awal.

Washington bulan lalu mendesak presiden David Granger untuk mundur.

Hasil akhir muncul, beberapa bulan setelah konsorsium yang dipimpin oleh Exxon Mobil Corp mulai memproduksi minyak di lepas pantai Guyana, negara miskin dengan penduduk sekitar 800.000, menjadi negara baru penghasil minyak.

Perkembangan ini dapat meningkatkan pertumbuhan pertanian dan tidak tergantung pada hasil tambang.

Politisi berusia 40 tahun ini dilahirkan dari keluarga Muslim berdarah India.

Pertumbuhan ekonomi negara Amerika Selatan ini akan meningkat 14 kali lebih cepat dari China pada 2020, negara dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di dunia, menurut data Dana Moneter Internasional (IMF).

Ini berarti Irfaan Ali akan memimpin negara yang perekonomiannya tumbuh 14 kali lebih tinggi dari China tahun ini.

Bank Dunia pada Juli lalu - dengan memperhatikan dampak virus Corona - juga menempatkan Guyana sebagai negara yang paling tinggi pertumbuhannya.

Pemilu Maret lalu hasilnya sangat ketat dan dua partai yang terlibat saling mengajukan klaim menang dan saling menuduh kecurangan.

Irfaan Ali lahir di Leonora, kota di salah satu pulau yang membentuk Guyana.

Ia meraih gelar doktor dalam perencanaan kota dan menjadi anggota kongres dari 2006 sampai 2015.

Saat menjadi menteri perumahan, ia menerapkan strategi yang belum pernah diambil sebelumnya, dengan penyebaran merata rumah bagi orang dari semua tingkatan sosial dan geografi.

Ia menjadi anggota partai selama lebih dari 20 tahun dan memimpin salah satu komisi yang sangat penting yaitu pertanggungjawaban publik.

Ia juga pernah bekerja sebagai koordinator Bank Pembangunan Karibia.

warga Guyana

Warga Guyana harus menunggu lima bulan sebelum pemenang pemilu diumumkan. (Getty Images)

Dalam kampanye pemilihan presiden, Irfaan Ali mengangkat program untuk sektor ekonomi yang paling tertinggal serta memberdayakan komunitas bisnis.

Di antara kebijakan yang diambil adalah menghapus pertambahan pajak di sektor kunci seperti listrik, air dan fasilitas kesehatan.

Melesat menjadi negara penghasil minyak

Irfaan Ali

Irfaan Ali sempat menjadi anggota Kongres Guyana. (Getty Images)

Guyana menemukan cadangan minyak lima tahun lalu dan produksi serta ekspor minyak mentah dimulai tahun ini.

Walaupun cadangan minyak yang ada tidak sebesar produsen terbesar minyak dunia, apa yang diperoleh cukup untuk mengangkat perekonomian ke tingkatan yang belum pernah terjadi dalam sejarah negara itu.

"Produksi minyak akan menjadi antara 700.000 sampai satu juta barel per hari," kata Marcelo de Assis, pakar di perusahaan konsultasi minyak Wood Mackenzie, kepada BBC Mundo, Januari lalu.

Jumlah ini serupa dengan produsen minyak menengah seperti Kolombia.

Namun, bila dibandingkan dengan jumlah penduduk, dampak yang dihasilkan lebih besar terhadap Guyana, karena penduduk Kolombia, 50 kali lebih sedikit.

Laporan yang disusun oleh CNBC, media di Amerika, menyebutkan Guyana dapat menjadi negara yang memproduksi minyak terbesar dunia bila dibandingkan produksi per barel dan per individu.

Sudah pernah menyimak saluran YouTube BBC Indonesia? Silakan berlangganan

https://www.youtube.com/watch?v=UFSg66hbnTA&feature=youtu.be

https://www.youtube.com/watch?v=R_NXnQYSa_E&feature=youtu.be

https://www.youtube.com/watch?v=EJb082dBR1s&feature=youtu.be

(nvc/nvc)