Terbongkarnya Skandal Ujian Masuk Universitas di China

BBC Indonesia - detikNews
Jumat, 10 Jul 2020 14:18 WIB
Ujian masuk universitas dipandang sebagai sebuah pintu masuk menuju masa depan yang cerah. (Getty Images)
Beijing -

Pekan ini sekitar 10 juta pelajar di seantero China mengikuti Gaokao, ujian masuk universitas yang menentukan masa depan mereka.

Di tengah waktu ujian, kejadian baru-baru ini mungkin terlintas di pikiran mereka, bahwa ratusan calon mahasiswa sebelum mereka menjadi korban skandal pencurian identitas. Akibat skandal ini, para korban tak hanya dicurangi tapi juga didorong menapaki jalan hidup yang berbeda.

Short presentational grey lineBBC

Bagi Chen Chunxiu, ujian masuk universitas adalah sebuah pintu masuk menuju masa depan yang cerah.

Hasil cemerlang saat Gaokao sama dengan sebuah tiket ke universitas impiannya. Kegagalan, di sisi lain, berarti masuk universitas hanyalah sebuah impian.

Dia gagal.

Tak bisa kuliah, Chen kemudian bekerja serabutan, pekerja pabrik, pelayan restoran, sampai akhirnya menjadi guru taman kanak-kanak.

Namun, selang 16 tahun kemudian, dia menemui fakta mengejutkan. Dirinya ternyata berhasil masuk Universitas Teknologi Shandong dan terdaftar di kampus tersebut.

Namun, yang mengikuti perkuliahan, bukanlah dia. Identitasnya hingga skornya sewaktu mengikuti Gaokao dicuri seorang perempuan dengan bantuan 'orang dalam'.

Kasus Chen hanyalah satu dari 242 kasus serupa di Provinsi Shandong antara 2002 hingga 2009, menurut laporan media.

Kisah pencurian sistemik yang mengejutkan

Gaokaoatau ujian akhir SMAmenguji para pelajar China pada mata pelajaran bahasa Mandarin, matematika, bahasa Inggris, dan satu mata pelajaran pilihan pelajar yang bersangkutan.

Ujian tersebut adalah bagian dari sistem pendidikan China sejak 1950-an, dengan jeda pada masa Revolusi Budaya.

Namun, Gaokao bukan semata-mata ujian. Bagi jutaan orangterutama mereka yang bukan dari keluarga pejabatGaokao adalah tiket menuju kesuksesan dan naik kelas sosial serta ekonomi.

GaokaoSekitar 10 juta pelajar di seantero China mengikuti Gaokaoujian masuk universitas yang menentukan masa depan mereka. (Getty Images)

Keluarga Chen, yang kisahnya banyak diliput beberapa pekan terakhir, punya harapan tinggi.

Karena keluarga tersebut hidup dalam kemiskinan dan hanya mampu mendanai pendidikan satu anak, abang kandung Chen harus mengalah agar Chen bisa sekolah lebih tinggi.

Ini jarang terjadi di daerah pedesaan China, mengingat pendidikan untuk anak laki-laki lazimnya diprioritaskan ketimbang anak perempuan.

Sedemikian berharapnya keluarga Chen bahwa putri mereka bisa lulus Gaokao pada 2004.

Saat itu, para pelajar di China tidak menerima surat penolakan dari kampus. Jika seorang pelajar tidak menerima surat penerimaan, asumsinya adalah pelajar tersebut gagal.

Hal tersebut terjadi pada Chen. Setelah menunggu sampai September ketika tahun ajaran baru dimulai, Chen menerima kenyataan bahwa tiada surat yang datang dan memutuskan bekerja di kota.

Kemudian, pada Mei tahun ini, dia memutuskan mendaftarkan diri untuk mengikuti kelas karyawan.

Saat memasukkan data dirinya pada laman resmi pemerintah, Chen mendapati bahwa dirinya terdaftar sebagai mahasiswi universitas pada 2004 dan lulus pada 2007.

Akan tetapi, foto yang muncul bukanlah dirinya. Pelan tapi pasti, Chen sadar dirinya telah dicurangi.

gaokao, chinaPara orang tua menunggu anak-anak mereka yang sedang mengikuti ujian masuk universitas atau Gaokao. (Getty Images)

Sebagaimana diberitakan media pemerintah, Xinhua, paman perempuan yang terdaftar menggunakan nama Chen adalah pejabat setempat.

Si paman dituduh mendapat bantuan dari ketua panitia penerimaan mahasiswa setempat, yang mampu mengakses data ujian Chen.

Skor Chen pada ujian itu adalah 546 dari 750. Sedangkan perempuan yang menggunakan identitasnya mencetak skor 303.

Ayah sang perempuan juga dituduh mencegat surat penerimaan Chen di kantor pos kecamatan sebelum dikirimkan ke Chen.

Dengan bantuan kepala sekolah SMA tempat Chen belajar, menurut laporan media, mereka memalsukan transkrip nilai.

Keluarga si penipu juga dituding bekerja sama dengan kepala polisi setempat dan staf dari Universitas Teknologi Shandong guna memastikan anak tersebut masuk kuliah dengan menggunakan identitas Chen.

Adapun Chen, yang merupakan putri petani miskin, tidak ada peluang.

Si penipu yang bernama asli Chen Yanping memakai identitas Chen Chunxiu.

Sampai sekarang, berdasarkan laporan media, kolega-kolega si penipu mengenalnya dengan nama Chen Chunxiu.

Ketika berita ini merebak, gelar akademisnya dicabut dan dia dikeluarkan dari pekerjaan. Laporan pemerintah menyebutkan dia masih diselidiki.

"Saya ingin bertanya langsung kepadanya mengapa dia mencuri identitas saya," kata Chen saat diwawancara CCTV.

"Kamu menggantikan saya, apa yang kamu kira bakal terjadi pada saya? Mengapa kamu begitu egois?"

Kisah Chen menimbulkan kemarahan di China.

Banyak orang mempertanyakan apa gunanya belajar keras selama bertahun-tahun untuk sebuah ujian yang pada permukaannya menjanjikan peluang setara bagi semua peserta.

"[Sebagian orang] tidak tahu betapa pentingnya Gaokao bagi mereka yang tidak berkecukupan. Orang tua bekerja begitu keras untuk menyokong anak-anaknya tapi jalan mereka dihalangi oleh mereka yang punya kuasa," sebut seorang pengguna Weibo.

'Apa yang bisa dilakukan seorang petani?'

Menurut Chu Zhaohui, seorang peneliti dari Institut Ilmu Pendidikan Nasional China, kecurangan pada Gaokao terbagi menjadi dua jenis.

Jenis pertama adalah korbannya tidak tahu dirinya dicurangi. Sedangkan jenis kedua adalah kedua belah pihak sepakat untuk berbuat curang, mungkin melibatkan uang.

Kategori pertama, menurutnya, biasanya melibatkan pengawasan dari lebih satu pihak.

"Pendaftaran [masuk universitas] umumnya melibatkan banyak pihak sekolah, institut pembuat ujian, kantor pendaftaran, dan departemen pengelola. Jadi, jika ada begitu banyak celah, menunjukkan bahwa ini---kecurangan berkolaborasi," kata Chu kepada BBC China.

Dalam kasus seperti itu, korban biasanya berada pada "posisi sosial yang rendah" dan kurang punya kekuatan menyerang balik kalau mereka akhirnya tahu, sebagaimana terjadi pada ayah Chen.

"Apa yang bisa dilakukan seorang petani," kata ayah Chen kepada media China.

"Jika saya berkuasa, mereka tidak akan berani [melakukan ini padanya]."

chinaKasus Chen diangkat ke sidang parlemen China. (Getty Images)

Pada sidang parlemen bulan lalu, ada seruan untuk memidanakan pelaku pemalsuan identitas pada ujian masuk universitas.

Salah seorang delegasi mengatakan tindakan tersebut "lebih mencederai ketimbang pencurian [uang]".

Para pejabat Provinsi Shandong mengatakan proses baru sedang diterapkan untuk memastikan peristiwa yang dialami Chen tidak terjadi lagi.

Melalui proses itu, pelajar harus menyerahkan surat penerimaan, KTP, akta tempat tinggal, dan tanda kehadiran saat ujian sebelum diperbolehkan masuk universitas.

Hasil penerimaan mahasiswa juga akan dipublikasikan secara online dan mahasiswa yang bersangkutan dikirimkan pesan teks.

Prof Cheng Fangping, dari Universitas Renmin, mengatakan kepada BBC China bahwa mengingat dokumen-dokumen mahasiswa zaman sekarang umumnya tersedia secara online, semakin sulit untuk memalsukannya.

Kementerian Pendidikan China juga mengumumkan bahwa pelajar yang terlibat dalam pencurian identitas tidak akan diperbolehkan terdaftar sebagai mahasiswa di universitas.

Kemudian pemerintah daerah setempat telah melaksanakan investigasi pada kasus Chen Chunxiu.

Hasilnya, sebanyak 46 orang telah dihukum.

Adapun Chen kini berupaya merebut apa yang seharusnya menjadi jalan hidupnya.

Dia dikabarkan telah mengajukan permintaan untuk menjadi mahasiswi Universitas Teknologi Shandong.

Awalnya pihak kampus menolak. Namun, setelah kemarahan publik, universitas itu belakangan mengatakan "secara aktif berupaya" agar keinginan Chen "bisa tercapai".

(ita/ita)