Kisah Pengungsi yang Tidur di Jalanan London Ketika Hamil 7 Bulan

BBC Indonesia - detikNews
Senin, 22 Jun 2020 14:20 WIB
Jakarta -

Sarah menghadapi pilihan sulit: tetap tinggal di negara asalnya Namibia dan terus diperkosa dan disiksa, atau lari dan meninggalkan putrinya yang berusia 10 tahun.

Perempuan berusia 29 tahun itu memutuskan untuk melarikan diri. Begitu dia aman, dia akan membawa putrinya.

Sarah, yang sedang hamil tujuh bulan, tiba di Bandara Heathrow dengan pasangannya pagi hari pada 12 Desember 2018.

Tetapi apa yang dimulai sebagai klaim suaka yang mulus berakhir dengan kesalahpahaman yang membuat pasangan tersebut kehilangan tempat tinggal.

Di sini, dengan kata-katanya sendiri, dia menceritakan pengalamannya.

'Kami diberi waktu dua jam untuk mengosongkan kamar'

Ketika kami tiba di Bandara Heathrow, kami meminta suaka. Semua orang sangat membantu, peduli, dan mendukung.

Kami difasilitasi di sebuah hotel di Croydon tempat kami menetap dengan baik. Rasanya sangat aman dan segala sesuatu mulai dari makanan hingga perlengkapan mandi disediakan untuk kami.

Tetapi suatu hari, setelah sekitar dua minggu kemudian, manajer hotel datang ke kamar kami dan mengatakan ia telah menerima surat dari Departemen Dalam Negeri yang menyatakan bahwa kami memiliki "lebih dari cukup" uang untuk membayar biaya menginap kami, dan karenanya harus pergi.

Saya tidak tahu bagaimana itu bisa terjadi. Kami memiliki Pound 600 (Rp 10.4 juta) ketika kami tiba, tetapi pada saat itu telah menghabiskan sebagian besar uang kami untuk makanan, pakaian - karena saat itu sangat dingin - dan telepon baru.

Kami mencoba menjelaskan itu kepadanya, tetapi tidak berhasil. Permohonan suaka kami telah ditolak.

Lunar House

Sarah dan pasangannya mencari bantuan ke Lunar House sesaat setelah permohonan suakanya ditolak. (PA Media)

Dia memberi kami waktu dua jam untuk mengosongkan kamar dan mengatakan dia akan mengantar kami ke Lunar House - markas besar Visa dan Imigrasi Inggris.

Saat itu hampir Natal, jadi dia tidak yakin apakah ada orang yang bisa membantu kami, tetapi dia hanya bisa mengantar kami ke sana.

Seluruh dunia saya hancur. Kami tidak punya tempat untuk pergi.

"Kami tidur di bawah jembatan dan di stasiun '

Lunar House tutup. Kami duduk di sebuah bangku di luar gedung dengan rasa tak percaya. Kami berada di sana selama berjam-jam, tidak tahu harus berbuat apa. Kami terpukul.

Saya menutup diri saya dengan kain penutup, tetapi tetap merasa kedinginan. Saya khawatir saya akan kehilangan bayi saya.

Beberapa jam kemudian, seorang pejalan kaki memberi tahu kami ada jembatan di dekatnya. Jaraknya hampir lima kilometer dengan jalan kaki.

Beberapa malam berikutnya, kami menghabiskan uang terakhir kami untuk membeli makanan dan minuman, tidur di bawah jembatan dan di stasiun.

Saya tidak pernah membayangkan akan berakhir tunawisma atau tidur di jalanan Inggris. Saya tidak tahu hal-hal seperti itu bisa terjadi.

Saya telah melarikan diri dari Namibia karena saya takut akan keselamatan nyawa saya. Saya melarikan diri dari perkosaan dan penyiksaan yang saya alami sejak usia sembilan tahun.

Dan sekarang saya khawatir akan mati kedinginan, khawatir akan kehilangan bayi saya dan semuanya akan sia-sia.

"Saya dilarikan ke rumah sakit '

Setelah lima malam tidur di jalan, bidan- yang telah disediakan untuk saya dalam dua minggu pertama saya di Inggris - menghubungkan kami dengan badan amal tuna wisma, Crisis.

Mereka menyediakan tempat sementara bagi kami sampai awal Januari dan membantu kami meminta suaka lagi ke Departemen Dalam Negeri Inggris.

Kemudian, suatu hari, saya tidak bisa merasakan bayi saya, sehingga saya dilarikan ke rumah sakit.

Pemeriksaan itu menyimpulkan saya dan bayi saya baik-baik saja, tetapi staf rumah sakit tidak akan melepaskan saya sampai mereka tahu saya memiliki tempat yang aman untuk pergi.

Mereka membantu kami menghubungi Departemen Dalam Negeri dan bertanya tentang pengajuan suaka kami, dan, pada hari ketiga saya tinggal di rumah sakit, permintaan suaka kami dikabulkan dan kami ditempatkan di sebuah rumah di Thornton Heath.

Penolakan sebelumnya terjadi karena kesalahan dalam aplikasi.

Itu sangat melegakan.

'Saya merasa gagal menjadi ibu bagi putri saya'

Saya melahirkan pada bulan Februari 2019 dan satu bulan kemudian kami ditempatkan di sebuah rumah di London timur.

Hidup akhirnya mulai bergerak maju lagi.

Saya menjalin pertemanan baru, dan mulai pergi ke Magpie - sebuah badan amal yang membantu para ibu dan anak-anak di tempat akomodasi sementara - di mana saya bisa mendapatkan popok, bersosialisasi dengan ibu-ibu lain dan melakukan banyak kegiatan .

Tapi kemudian virus corona melanda, dan semuanya berhenti.

Magpie menghubungkan saya dengan badan amal lain bernama Beam, yang mengumpulkan uang untuk kursi makan anak dan tablet dengan aplikasi pendidikan untuk putra saya, juga laptop sehingga saya dapat meningkatkan kemampuan bahasa Inggris dan mudah-mudahan mendapatkan pekerjaan segera setelah status saya diberikan.

Laptop akan baik untuk keluar dari isolasi ini.

Dengan sedikitnya aktivitas yang bisa saya lakukan, saya semakin cemas setiap hari, mengkhawatirkan keselamatan putri saya Beverley.

Saya merasa gagal sebagai seorang ibu, bahwa saya tidak melindunginya, saya egois.

Saya berharap status saya segera diputuskan, karena dengan itu, saya bisa mengajak putri saya bersatu dengan kami.

Saya berharap dia ada di sini bersama kami, sehingga hidup saya akhirnya bisa dimulai.

Departemen Dalam Negeri Inggris mengatakan mereka "berkomitmen untuk memastikan klaim suaka dipertimbangkan tepat waktu" dan bahwa semua keputusan dibuat "berdasarkan bukti yang tersedia pada saat itu".

Seperti yang diceritakan kepada Winnie Agbonlahor

(ita/ita)