detikNews
Rabu 07 Agustus 2019, 09:44 WIB

Kisah Perempuan yang Lahir dari Pemerkosaan dan Ingin Menuntut Ayahnya

BBC Magazine - detikNews
Kisah Perempuan yang Lahir dari Pemerkosaan dan Ingin Menuntut Ayahnya BBC
London -

Seorang perempuan yang mengatakan dia lahir sebagai hasil pemerkosaan menginginkan ayahnya diadili lewat apa yang dinamakan sebagai "tuntutan tanpa korban", kasus yang hampir tak pernah terjadi.

"Vicky" - bukan nama sebenarnya- mengatakan, ibunya masih di bawah umur ketika dia mengaku seorang teman keluarga berumur 30-an tahun telah memperkosanya.

Dia mengatakan kelahirannya adalah bukti terjadinya kejahatan dan Vicky menginginkan dilakukannya tes DNA agar dapat menuntut ayahnya sebagai pemerkosa.

Tetapi Polisi West Midlands, Inggris, mengatakan hukum tidak mengakuinya sebagai korban.

Vicky berasal dari Birmingham, diadopsi pada tahun 1970-an saat berumur tujuh bulan.

Di usia 18 tahun, dia mulai mencari ibu kandungnya dan kemudian menemukan dari seorang pekerja sosial dan catatan layanan sosial bahwa dirinya adalah anak hasil pemerkosaan.

"Ibu biologis saya berumur 13 tahun dan saat itu masih berstatus pelajar, dan ayah kandung saya adalah seorang teman keluarga berumur 30-an tahun," Vicky menceritakan kepada program Victoria Derbyshire BBC.

"Sejumlah catatan memperlihatkan ibunya sedang menjaga anak di rumah pria itu, dan dia memperkosanya. Dokumen tersebut menyebutkan sebanyak tujuh kali bahwa yang terjadi adalah sebuah pemerkosaan.

"Nama dan alamatnya disebutkan, layanan sosial, polisi dan pekerja kesehatan mengetahui - tetapi tidak diambil tindakan apa pun.

"Ini membuat saya marah, sedih membayangkan ibu kandung saya, dan saya sendiri."

'Bukti hidup'

Jess Phillips
Anggota parlemen dari Partai Buruh, Jess Phillips, mengatakan terduga perlu diadili demi kepentingan umum. (BBC)

Vicky berhasil bertemu kembali dengan ibu kandung. Dia menggambarkan pertemuan itu sebagai sesuatu yang "sangat mirip mimpi".

Beberapa tahun kemudian, ketika kasus pelecehan seksual masa lalu mulai diliput media setelah munculnya skandal tokoh dunia hiburan Inggris, Jimmy Saville, dia memutuskan untuk bertindak. Vicky memang selalu berpandangan adalah suatu kesalahan jika ayah kandungnya tidak dihukum.

"Saat itulah saya berpikir, 'Saya memiliki bukti DNA, karena saya adalah bukti DNA. Saya adalah tempat kejadian perkara berjalan. Dan ini semua tertulis dalam berbagai dokumen. Pastinya orang akan memperlakukan saya dengan serius'.

"Saya menginginkan dia dihukum. Saya menginginkan keadilan bagi ibu saya, saya menginginkan keadilan untuk saya. Tindakannya menentukan keseluruhan hidup saya."

Ibu kandungnya, karena tidak ingin mengingat kembali kesulitannya dan karena polisi tidak menanggapinya sebelumnya, memutuskan untuk tidak melaporkan perkosaan itu sendiri - tetapi dia tetap mendukung usaha anak perempuannya.

Anak hasil

Vicky ingin polisi mempertimbangkan apa yang dinamakan "tuntutan tanpa korban" perkosaan menurut hukum - yaitu ketika seorang korban menarik atau menolak memberikan pernyataan meskipun terdapat bukti - yang tidak perlu melibatkan ibunya.

Dia mengatakan mereka dapat menggunakan bukti DNA dan akta kelahirannya untuk membuktikan umurnya.

Tuntutan tanpa korban, dapat diterapkan pada kasus kekerasan rumah tangga atau perkosaan, ketika korban menarik atau menolak memberikan pernyataan, meskipun ini berguna untuk umum agar dapat dituntut, demikian panduan yang disebutkan dalam peraturan Kejaksaan Inggris (CPS).

Seorang korban diartikan pemerintah sebagai seseorang yang mengalami rasa sakit emosional, fisik atau mental sebagai akibat langsung tindak kejahatan.

"Karena kejahatan itu, saya hidup. Seluruh kehidupan saya ditentukan hal itu, tetapi tidak seorangpun melihat saya sebagai korban.

"Saya hidup, sebagai bukti hidup anak hasil pemerkosaan dan tidak seorangpun memperhatikan. Bagaimana hal ini dianggap biasa?" katanya.

Anggota parlemen dari Partai Buruh untuk Birmingham Yardley, Jess Phillips, mengatakan anak-anak yang dilahirkan lewat perkosaan "memang sudah seharusnya" dipandang sebagai korban.

"Akibat emosionalnya pada seseorang, hubungannya di masa depan, kehidupan mereka, pandangannya pada dirinya sendiri, sudah tidak diragukan lagi akan mempengaruhi mereka.

"Saya kira kita telah memenangkan hal ini, ide bahwa Anda tidak harus menjadi korban langsung pelecehan - kami tidak pernah mengisyaratkan bahwa dalam kejadian kekerasan rumah tangga seorang anak yang tidak mengalami kekerasan itu sendiri, tidak menjadi korban kejahatan yang terjadi di sekitarnya - bagi saya ini adalah hal yang sama."

Bertemu ayah

Vicky menemukan pria yang diduga adalah ayahnya. Dia menggunakan kamera rahasia untuk mencatat pembicaraan mereka.

Dia mengatakan pria tersebut tidak menyangkal atau mengakui telah berhubungan seks dengan ibunya.

"Ini akan menjadi salah satu kasus bersejarah dimana terdapat bukti DNA yang tidak bisa dipertanyakan.

"Saya ingin polisi mendesak dilakukannya tes DNA. Saya ingin polisi dan layanan sosial meminta maaf atas kegagalan mereka, dan belajar dari kasus ini. Dan saya ingin peninjauan kembali definisi korban."

Anggota parlemen dari Partai Buruh untuk Birmingham Yardley, Jess Phillips mengatakan kasus ini jelas-jelas berguna untuk kepentingan umum, karena terduga pelaku masih hidup.

"Orang yang diduga melakukan pelecehan selama bertahun-tahun, tidak akan menghilang begitu saja - masyarakat berisiko menghadapi pengaruh negatifnya. Bukan hanya para korban yang berhak mendapatkan keadilan - seberapa lamanya pelecehan terjadi - pemerintah seharusnya sangat berkepentingan untuk melindungi warga".

Vicky mengatakan, "Ini nyaris menghancurkan saya. Diadopsi membawa berbagai masalah, dan traumanya mempengaruhi seluruh kehidupan saya.

Keadilan

"Saya akan bertahan karena saya mengetahui ini adalah sebuah kesalahan besar. Dan saya menginginkan keadilan."

Pimpinan unit perlindungan masyarakat Kepolisian West Midlands, Pete Henrick, mengatakan pihaknya memahami penderitaan yang dialami Vicky.

Tetapi dia mengatakan kantor kepolisian itu tidak pernah menerima dugaan perkosaan pada tahun 1970-an, dan terduga pelaku tidak ingin bekerja sama saat Vicky menghubungi mereka di tahun 2014.

Sebuah pernyataan menyebutkan, "Karenanya, dia bertanya apakah dirinya dapat diidentifikasi sebagai korban dan apa dasarnya agar kasus dapat diproses. Hukum tidak memandangnya sebagai korban. Kami bekerja sama dengan kejaksaan dan diberitahu bahwa mereka tidak akan melakukan penuntutan.

"Cara penanganan kami terkait dengan kasus ini telah diperiksa Departemen Standar Profesional dan Komisi Independen Keluhan terhadap Polisi saat itu, dan keduanya memandang tindakan yang diambil polisi sudah cukup."

Dewan Kota Birmingham menyatakan: "Sejak bulan April 2018, tugas layanan kesejahteraan sosial anak di Birmingham dilakukan Yayasan Anak-anak Birmingham. Sejak saat itu kami tidak berhubungan dengan "Vicky".

"Tentu saja, kami akan sangat gembira dapat bertemu dengannya jika dia anggap itu berguna. Ini memang kasus dimana tuduhan dan kejadian kekerasan terhadap anak-anak ditangani dengan cara yang sangat berbeda dibandingkan ketika tahun 1975. Kami akan gembira merundingkan hal ini dengannya ketika kami bertemu."




(ita/ita)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed